Minggu, 18 Oktober 2009

Distomatosis Pada Hewan Qurban


Produksi daging sapi meskipun menduduki ranking kedua setelah produksi daging unggas, tetapi sampai saat ini masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan daging secara keseluruhan.

Kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas peternakan rakyat adalah peternak masih berpikiran beternak adalah usaha sambilan. Usaha yang perlu ditempuh adalah memperbaiki tatalaksana budidaya mulai dari pemilihan bibit, pakan, pemeliharaan sampai pakan termasuk di dalamnya manajemen kesehatan (Anonim, 2001).

Berkaitan dengan masalah pemeliharaan, masih banyak yang harus mendapatkan perhatian agar angka kelahiran dapat ditingkatkan setinggi mungkin sedangkan angka kematian dapat ditekan serendah mungkin. Pengendalian terhadap penyakit infeksius maupun non-infeksius seperti parasit sering dianggap sepele dan kurang diperhatikan karena serangan yang tidak berbahaya umumnya tidak jelas dan serangan parasit kebanyakan bersifat subklinik (Subronto dan Tjahajati, 2001).

Pada umumnya parasit merugikan kesehatan hewan maupun manusia, dari sudut pandang ekonomi kerugian terjadi akibat rusaknya organ karena parasitnya sendiri, kematian ternak dan biaya yang harus ditanggung untuk pengendaliaanya. Kerugian ekonomi akibat cacing berupa perkembangan tubuh ternak terhambat, sedangkan pada sapi dewasa kenaikan berat badan tidak tercapai, organ tubuh rusak dan kualitas karkas jelek, menurunnya fertilitas dan predisposisi penyakit metabolik. Hal ini disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, perubahan distribusi air, elektrolit dan protein darah (Anderson and Waller, 1983).

Hasil survei di beberapa pasar hewan dan rumah potong hewan di Indonesia menunjukkan bahwa 90% sapi yang berasal dari peternakan rakyat terjadi infeksi cacingan, seperti cacing hati (Abidin, 2002). Sedangkan data pada Dinas Peternakan Propinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2004 sebanyak 7903 kasus penyakit cacing (helminthiasis) meningkat 60,2% dibanding kejadian serupa pada tahun 2003 sebanyak 3142 kasus (Anonimus, 2005).

Menurut Suweta (1982) pada ternak sapi tiap tahunnya terjadi kerugian sebesar 20 milyar rupiah akibat penyakit cacing hati dengan perkiraan hilangnya daging sebesar 5 - 7,5 juta kilogram karena penurunan berat badan. Kerugian sebesar ini hanya disebabkan oleh cacing hati (Fascioliasis) dan akan jauh lebih besar lagi bila dihitung kerugian yang diakibatkan oleh cacing lain. Kerugian yang jumlahnya tidak kecil akibat penyakit cacing ini merupakan suatu problem yang sangat dilematik dalam usaha bidang peternakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk peternakan.

Penyakit cacing ini pada berbagai kasus. Umumnya menyerang ternak yang dipelihara dengan tata laksana kurang baik, khususnya ternak yang berumur muda. Pada ternak sapi Bali yang telah diketahui lebih resisten terhadap parasit dibandingkan bangsa sapi Eropa yang ada di Indonesia masih banyak ditemukan terinfeksi cacing.

Geografis Indonesia yang terletak di daerah sangat basa (super humid climatic area). Dengan demikian pengaruh kekeringan tidak pernah berlangsung lama hingga dapat mematikan stadia di alam bebas, sedangkan suhu udara sepanjang tahun adalah optimal bagi kelangsungan hidup stadia infeksi cacing untuk berkembang. Oleh karenanya ketahanan hidup /survival rate stadia infektif di luar hospes (ternak sapi) tinggi dan populasi stadium infektif meningkat dengan cepat.

Fascioliasis pada ternak sapi ini mempunyai prevalensi yang tinggi karena sapi yang dipelihara secara ekstensif, dimana untuk dapat makanan sapi mencari sendiri sehingga tidak menjamin baik secara kuantitas maupun kualitas mendapat makanan sesuai dengan kebutuhannya. Kekurangan makanan akan menyebabkan ternak mengalami malnutrisi.

Padahal diketahui bahwa sapi yang memperoleh makanan yang cukup dan bermutu baik akan lebih resisten terhadap infeksi cacing. Sebaiknya sapi yang mengalami malnutrisi akan lebih peka.



DEFINISI
Penyakit yang disebabkan oleh cacing Fasciola Hepatica yang tinggal di dalam saluran empedu dan menyerang jaringan hati.

PENULARAN
Melalui makanan yang terkontaminasi larva yang keluar dari induk semangnya (siput).

SIKLUS HIDUP
Telur cacing hati keluar bersama kotoran.
Menempel pada rumput dan menetas menjadi larva.
Larva hinggap pada siput.
Di tubuh siput larva berkembang dan berubah bentuk.
Keluar dari tubuh siput setelah berkembang sempurna.
Menempel pada rumput dengan perlindungan kista.
Rumput termakan hewansampai usus menjadi larva muda.
Menembus dinding usus sampai ke hati bersama aliran darah.
Di dalam hati selama 6-8 minggu.
Setelah jadi dewasa pindah ke dalam saluran empedu.
Di dalam saluran empedu cacing bertelur.
Telur menuju saluran pencernaan melalui pembuluh darah.


GEJALA KLINIS
Berat badan turun.
Pertumbuhan terhambat.
Anemia.
Produksi susu menurun
Diare dan adanya telur cacing hati pada feses.


PEMERIKSAAN POST MORTEM
Warna hati pada sapi sakit adalah merah muda dan memiliki struktur lembek.
Pada hati tersebut juga ditemukan lubang-lubang kecil yang menjadi sarang cacing.
Terjadi penebalan dan pengapuran di sekeliling permukaan hati dan bila hati dibelah kemudian diidentifikasi akan terlihat ada liang-liang pada jaringan hati.
Terdapat bercak putih, sisi pinggir hati tidak lancip dan membengkak pada permukaan hati.
Pada saluran-saluran empedu terdapat gumpalan cokelat kotor, berlendir dan berbutir, empedu bercampur kotoran yang berisi cacing Fasciola sp.
Pada invasi yang hebat terjadi perubahan jaringan hati menjadi jaringan ikat


FAKTA
Petugas Dinas Peternakan Banyumas, Jawa Tengah, menemukan sedikitnya 50 kilogram hati sapi yang terkena penyakit cacing hati. (Sumber: liputan6.com)
Dinas Peternakan Tulungagung, Jawa Timur, juga menggelar inspeksi mendadak di Masjid Agung Al-Munawar di wilayah tersebut. Dalam pemeriksaan, petugas menemukan lembu dan kambing yang terjangkit penyakit TBC dan distomatosis.
Kepala Subdinas Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kelautan dan Perikanan (PKP) Bantul, drh. Sri Budoyo, Kamis (20/11) di kantornya mengatakan, cacing hati baru teridentifikasi setelah hewan dipotong. Tahun lalu Pemerintah Kabupaten Bantul menemukan 41 ekor sapi untuk qurban terjangkit cacing hati.
Dinas Peternakan (Disnakan) Kab. Banyumas, Jateng, menyita dan memusnahkan puluhan kilogram hati sapi kurban yang mengandung cacing hati. Diperkirakan ternak yang berpotensi
menularkan penyakit cacing hati mencapai 25 - 30 persen dari total jumlah sapi yang dikurbankan tahun ini.


PENCEGAHAN
Pembasmian siput (pengeringan).
Penyebaran copper sulfat / trusi.
Program pemberian obat cacing secara teratur minimal 6 bulan sekali.


PENGOBATAN
Bilevon, Hexachlorophene
Albendazole 10%


Koran PDHI
Categories: ,

0 Komentar: