Rabu, 14 Oktober 2009

Fisiologis Sapi Perah

Secara fisiologis, sapi perah memiliki sifat yang sama dengan sapi potong. Sifat yang dimaksud adalah lama kebuntingan, siklus birahi, prinsip-prinsip reproduksi, fungsi serta bagian saluran cerna serta kebutuhan dan pemanfaatan nutrien. Pola pemeliharaannya juga sangat bervariasi, mulai dari peternakan sangat kecil ditingkat petani peternak yng memelihara beberapa induk, sampai peternakan besar dengan beberapa ratus induk.

Pengaruh lingkungan terhadap ternak dapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh lingkungan secara langsung adalah terhadap tingkat produksi melalui metabolisme basal, konsumsi makanan, gerak laju makanan, kebutuhan pemeliharaan, reproduksi pertumbuhan dan produksi susu. Sedangkan pengaruh tidak langsung berhubungan dengan kualitas dan ketersediaan makanan (Anderson, et al. 1985).

Faktor lingkungan adalah faktor yang memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap tingkat produksi. Di antara sekian banyak komponen faktor lingkungan, yang paling nyata pengaruhnya terhadap sapi perah, terutama pada masa laktasi (produksi susu) adalah temperatur. Temperatur selalu berkaitan erat dengan kelembaban. Supaya dapat berproduksi baik, sapi perah harus dipelihara pada kondisi lingkungan yang nyaman (comfort zone), dengan batas maksimum dan minimum temperatur dan kelembaban lingkungan berada pada thermo neutral zone. Di luar kondisi ini sapi perah akan mengalami stres. Stres yang banyak terjadi adalah stres panas. Hal ini disebabkan THI berada di atas THI normal. Menurut Davidson, et al. (2000), induk sapi perah yang berada pada Temperature Humidity Index (THI) kritis, akan mengalami penurunan produksi dan komposisi susu. Itu berarti, induk sapi perah laktasi yang mengalami cekaman panas (stres panas), akan mengalami gangguan fisiologis dan produktivitas.

Laktasi adalah Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran susu dari sapi yang diperah secara kontinyu yang ditujukan untuk menghasilkan susu. Pada sapi perah, kelenjar susu sapi betina mulai berkembang pada waktu kehidupan fetal. Puting-puting susunya terlihat pada waktu dilahirkan. Bila hewan betina tumbuh, susunya membesar sebanding dengan besarnya tubuh. Sebelum hewan mencapai dewasa kelamin, maka hanya terjadi sedikit pertumbuhan jaringan kelenjar. Bila sapi betina mencapai dewasa kelamin, maka estrogen yang dihasilkan oleh folikel dalam ovarium akan merangsang perkembangan sistema duktus yang besar.

Pada setiap siklus estrus yang berulang, jaringan kelenjar susu dirangsang untuk berkembang lebih cepat. Setelah sapi dara mengalami beberapa kali siklus estrus, maka duktusnya menunjukkan banyak cabang dalam susu. Bila ovulasi terjadi, maka folikel berkembang menjadi korpus luteum dan memproduksi progesteron. Hal ini merupakan penyebab perkembangan sistema lobul-alveolar.

Disamping itu, kelenjar pituitaria juga mengeluarkan hormon gonadotropin yang bekerja terhadap ovarium untuk merangsang siklus estrus. Adanya follicel stimulating hormone (FSH) menyebabkan folikel ovarium berkembang. Pada saat tersebut, estrogen dikeluarkan dan hormon ini bekerja terhadap sistem duktus dari kelenjar susu. Setelah telur atau ovum menjadi dewasa, kemudian luteinizing hormone (LH) dikeluarkan dari pituitaria untuk menimbulkan ovulasi (melepas ovum) dan pembentukan korpus luteum.

Jika hewan telah bunting, maka luteotropic hormone dikeluarkan oleh pituitaria anterior yang memelihara aktivitas korpus luteum dan sekresi progesteron selama pertengahan pertama kebuntingan. Progesteron mempersiapkan uterus untuk menerima telur yang sudah dibuahi dan memelihara embrio dan fetus yang sedang tumbuh di dalam uterus. Pada beberapa spesies, plasenta mengeluarkan luteotropin selama pertengahan kedua dari kebuntingan. Pada spesies lainnya plasenta mengeluarkan estrogen dan progesteron, karenanya spesies tersebut tidak memerlukan hormon luteotropik selama kebuntingan (Rachmawati, 1996).

Adanya penggunaan hormon estrogen dan progesteron, kelenjar susu hewan betina dara dapat ditumbuhkan dan dikembangkan sehingga dapat dibuat berlaktasi. Oleh karena itu, dimungkinkan untuk merangsang pertumbuhan kelenjar susu sehingga kelenjar tersebut akan mengeluarkan susu.

Dari Ilmu Peternakan
Categories:

0 Komentar: