Sabtu, 17 Oktober 2009

Obat Generik Untuk Hewan, Kenapa Tidak?

Obat merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan hewan, selain dapat menghilangkan gejala dari suatu penyakit, obat juga mencegah timbulnya penyakit dan bahkan obat digunakan untuk penyembuhan. Alasan klasik atau klise selama ini adalah harga obat mahal, terutama dalam manajemen kesehatan hewan ternak yang memang berdasarkan azas untung dan rugi. Beda dengan kesehatan manusia yang berapapun harga obat tetap harus dibeli untuk demi nyawa yang tidak bisa dihargai dengan uang. Karena itu pada pengobatan manusia dikenal obat generik yang harganya lebih murah dibanding dengan obat paten, tanpa mengurangi khasiat dan keamanan obat itu. Bagaimana dengan obat generik untuk hewan ternak....?

Di kalangan ilmu pengobatan untuk manusia sudah lama pemerintah menganjurkan penggunaan obat generic yang dikatakan sebagai obat murah tetapi tidak murahan. Pembuatan obat generic juga harus mematuhi standar prosedur operasional tertentu, yaitu cara pembuatan obat yang baik (cpob). Sehingga kwalitas obat generic sama dengan obat patent atau obat bermerek.

Yang menjadikan harga obat generic lebih murah antara lain adalah bentuk kemasan biasanya multiple dose dalam dus atau kaleng yang jumlahnya banyak, tidak dipromosikan dengan merek dagang dan mungkin tidak perlu membayar hak paten. Promosi di media massa umumnya juga tidak menyolok yang biasanya hanya menunjukkan nama generic dan logo identitas produsennya (obat generic berlogo, OGB). Dengan perkataan lain, OGB memiliki mutu atau tidak ada alasan menilai OGB tidak sekhasiat obat paten, begitu pula keamanannya.

Mutu merupakan karakter produk yang paling menentukan dalam penggunanannya. Karena itu mutu dijadikan acuan untuk menetapkan kebenaran khasiat (efficacy) dan keamanan (safety) . Sehingga untuk mendapatkan kebenaran khasiat dan keamanan, mutu harus selalu diawasi dengan ketat pada pembuatan obat generic. Dengan pengawasan mutu yang sama ketatnya, harus dapat diyakini bahwa khasiat dan keamanan obat generic dan obat paten dapat sama satu terhadap yang lainnya. Prinsipnya bahwa obat generic sama khasiat dan keamananannya dengan obat paten atau mutu obat generic sama dengan mutu obat paten yang dikenal selama ini. Dalam pengertian kebijaksanaan obat nasional (KONAS) bahwa yang dimaksud obat meliputi obat untuk manusia dan obat untuk hewan. Sehingga kedua jenis obat itu harus diatur dan diawasi dengan seksama, antara lain mengantisipasi peredaran obat terhadap kemungkinan dapat merusak kesehatan masyarakat melalui kesehatan masyarakat veteriner, berkaitan dengan konsumsi bahan pangan asal hewan ternak yaitu susu, daging dan telur. Tidak menutup kemungkinan juga bahan pangan asal ikan

Obat generic umumnya mungkin juga hanya banyak digunakan pada unit pelayanan kesehatan milik pemerintah, sedangkan pelayanan kesehatan swasta mungkin juga orang cenderung memilih obat paten. Adanya suatu anggapan yang tentunya tidak benar bahwa obat patent lebih mahal tetapi lebih manjur daripada obat generic. Di lain fihak ada anggapan lain bahwa kesehatan manusia apalagi nyawa sangat mahal yang tidak dapat dihargai dengan sejumlah uang seberapapun. Artinya semahal-mahalnya obat orang akan berusaha membeli meskipun obat patent memang lebih mahal.

Sebaliknya pada pemeliharaan kesehatan hewan atau terutama hewan ternak dan lebih terutama lagi di tingkat petani ternak sangat memperhitungkan azas benefit-cost ratio dalam pembelian obat. Banyak pertimbangan nilai ekonomis yang perlu diperhitungkan. Misalnya tidak ada artinya menganggarkan obat pada hewan ternak yang prognosanya infausta. Atau lebih baik beberapa ekor yang sudah tertular dilakukan stamping out (test and slaughter) untuk mencegah penularan pada kelompok masih sehat yang lebih banyak. Atau pertimbangan tidak ada artinya hewan ternak sakit diobati sampai sembuh tetapi setelah sembuh tidak produktif. Oleh karena itu dalam penata laksanaan manajemen kesehatan hewan ternak perlu kiranya dipertimbangkan penggunaan obat generic, terutama obat-obat esensial yang selama ini nampaknya belum ada.

Selain itu bagi dokter hewan praktisi tentu lebih praktis karena dapat digunakan untuk semua spesies hewan dengan memperhatikan dosis berdasarkan berat badan dan mengetahui konsentrasi obat tersebut. Pengertian obat esensial adalah obat pilihan yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, preventif profilaktif, kuratif atau terapi dan rehabilitasi. Diharapkan dengan aneka ragam dan jenis obat generic dalam daftar obat esensial, dijamin sudah dapat dijadikan dasar upaya medis veteriner untuk mengatasi semua masalah patologis berdasarkan atas pola penyakit yang memerlukan invasi dan intervensi obat-obatan.

Dalam penerapan pengobatan terhadap hewan terdapat beberapa variabelitas, antara lain spesies, berat badan, umur dan karakteristik pola pencernaan (herbivore, carnivore, omnivore) yang membutuhkan pertimbangan secara khusus terutama dalam penentuan dosis dan aplikasi obatnya. Di lain fihak setiap obat juga mempunyai karakteristik aplikasi berdasarkan sifat bahan sediaan suatu obat itu. Penentuan dosis pada hewan secara generic umumnya berdasarkan berat badan dan atau umur yang kedua-duanya dapat diasumsikan saling mempunyai korelasi. Artinya hewan pada umur tetentu secara normal seharusnya mempunyai berat badan tertentu dan atau sebaliknya pada berat badan tertentu seharusnya dicapai dalam umur yang tertentu pula. Tetapi dalam pelaksanaannya umumnya berat badan lebih sering dipakai sebagai acuan daripada umur. Karena lebih praktis menentukan berat badan sewaktu-waktu dengan melihat posturnya dibanding mengingat umur hewan. Lebih akurat lagi pada hewan ternak sapi terdapat rumus perhitungan untuk menentukan berat badan (BB), berdasarkan ukuran panjang lingkar dada (LD) melalui rumus Schoorl.

Sedang untuk mementukan dosis obat generic, diperhitungkan melalui mengalikan BB dengan dosis generic per kg BB (table referensi) dan dibagi dengan konsentrasi kemasan obat generiknya : Masih banyak perihal obat generic yang perlu dibicarakan, antara lain tabulasi dosis generic per kg BB dari berbagai referensi. Mudah-mudahan dengan terbentuknya Ikatan Farmasi Veteriner Indonesia (IKAFARVETI), menjadi salah satu program kerja, minimal dipertimbangkan. Selamat Bekerja

Rumus Schoorl BBkg = (LDcm + 22)² 100

MENGHITUNG DOSIS PENGOBATAN OBAT GENERIK

1. Obat cair = dosis generic mg/kg.BB X BBkg (injeksi, sirup) konsentrasi obat, mg/ml, IU/ml

2. Obat padat = dosis generic mg/kg BB X BBkg (powder, konsentrasi obat, mg/g, IU/mg tablet, kapsul, kaplet, sachet, bolus)

Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir 
Categories: ,

0 Komentar: