Minggu, 24 April 2011

Pasienku (Kucing) Kena Panleukopenia

Seorang klien dari kota Sidoarjo datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Unair dengan membawa dua kucing yang belum di vaksin yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sebut saja namanya Pino dan Kio, yang suspect panleukopenia. Setelah browsing dan cari-cari di mbah Google, akhirnya ketemulah artikel seperti di bawah ini. (Sumber Dunia Veteriner)

Feline panleukopenia atau distemper kucing menurut Aiello (2000) merupakan penyakit viral yang fatal pada kucing. Kejadian penyakit ini parah apabila terjadi pada anak kucing. Feline panleukopenia virus termasuk ke dalam virus tipe DNA famili parvoviridae subgrup feline parvovirus, virus ini masuk melalui mulut ataupun hidung menuju tonsil dan limfoglandula di daerah tenggorokan dan kemudian menginfeksi serta mengancurkan sel-sel yang aktif melakukan pembelahan seperti sel-sel pada sumsum tulang, jaringan limfoid, epitel usus, cerebellum dan retina, serta sel-sel pada anakan.

Virus ini akan menekan produksi sel darah putih di sumsum tulang sehingga jumlah seluruh sel darah putih berkurang sehingga penyakit ini dinamakan panleukopenia. Di saluran usus virus ini menyebabkan ulcer yang memicu terjadinya diare, dehidrasi, dan infeksi oleh bakteri. Sebagian besar kasus kematian terjadi akibat dehidrasi dan infeksi bakteri yang parah.

Pada induk kucing yang bunting virus akan menular secara intraprasental dan menyerang embrio atau fetus secara cepat sehingga menyebabkan kematian embrio, mumifikasi, aborsi, dan lahir mati. Infeksi pada saat kelahiran akan menyebabkan kerusakan pada epital germinal di cerebelum yang mengakibatkan hipoplasia cerebral, inkordinasi, dan tremor karena cerebelum merupakan bagian dari sistem syaraf pusat yang mengkoordinasikan keseimbangan dan pergerakan. Virus akan berada dalam jumlah banyak di semua sekresi dan ekskresi kucing seperti feses, urine, muntah, saliva, dan mukus selama fase akut dari penyakit ini dan dapat bertahan pada feses kucing selama 6 minggu setelah penyembuhan.

Gejala klinis
Sebagian besar infeksi dari virus panleukopenia berlangsung secara subklinis. Kucing yang terinfeksi sebagian besar terkena pada saat berumur di bawah 1 tahun. Gejala klinis yang terlihat yaitu demam, depresi, dan anorexia selama periode inkubasi 2-7 hari. Muntah akan terlihat 1-2 hari setelah demam, umumnya berhubungan dengan empedu dan tidak terkait dengan makanan. Diare yang terjadi merupakan gejala yang tampak terakhir. Muntah dan diare terjadi secara teratur, diare terkadang disertai dengan darah. Dehidrasi parah terus terjadi meskipun kucing terus minum. Physical examination menunjukkan adanya depresi yang parah, dehidrasi, dan terkadang adanya rasa sakit di daerah abdomen. Palpasi pada abdomen dapat menginduksi kejadian muntah, selain itu kebengkakan dan penebalan usus serta kebengkakan limfoglandula mesenterica akan teraba. Pada kucing muda dengan kelainan cerebellum akan terlihat gejala ataksia dan tremor. Gejala akan terlihat selama 5-7 hari. Anak kucing yang menderita penleukopenia perakut akan mati dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala klinis (Aiello 2000).

Lesio
Pada kasus penyakit panleukopenia perakut, lesio yang jelas terlihat hanya sedikit, lesio yang sering terlihat yaitu dehidrasi dan kekurusan. Perubahan patologianatomi pertama yang terjadi yaitu edema dan nekrosa pada thymus dan limfoglandula mesenterika. Sumsum tulang akan terlihat agak cair dan berlemak. Dinding usus besar akan terlihat bengkak dan menebal serta terdapat akumulasi gas. Permukaan usus besar yang terinfeksi akan terlihat hiperemia dan terlihat adanya haemoragi ptechie atau echimosa. Hati, ginjal, dan limpa akan terlihat membengkak. Secara histologi kripta usus mengalami dilatasi disertai keberadaan sel-sel debris yang terdiri dari sel-sel epitel yang telah nekrosa. Vili usus akan terlihat tumpul dan bersatu. Selain itu terlihat adanya degenerasi hepatosit hati dan sel epitel pada tubulus renalis. Badan inklusi intranukleus eosinofilik terlihat pada jaringan tempat virus mengalami replikasi.

Differensial diagnosa
Differensial diagnosa dari penyakit ini adalah salmonellosis, feline leukemia virus, dan feline immunodeficiency virus.

Diagnosa penunjang
Semua anak kucing yang menderita demam, kehilangan indera perasa, diare yang disertai atau tidak disertai muntah dicurigai menderita panleukopenia. Umumnya jumlah sel darah putih sangat sedikit karena virus ini menyerang sumsum tulang yang memproduksi sel darah putih. Tes feses dengan menggunakan ELISA kit khusus feline panleukopenia dapat meneguhkan diagnosa. Penggunaan ELISA kit tidak boleh dilakukan setelah 5-12 hari paska vaksinasi panleukopenia virus karena akan menunjukkan hasil positif palsu. Isolasi virus, tes Polimerase Chain Reaction (PCR) dan pengukuran tingkat antibodi merupakan tes yang potensial untuk melihat adanya infeksi ini.

Pencegahan
Pencegahan penyakit panleukopenia pada kucing dilakukan dengan vaksin aktif yang dimodifikasi dan vaksin inaktif. Vaksin aktif tidak boleh diberikan pada kucing bunting, mengalami imunosupresi, sakit, atau kucing di bawah umur 4 minggu. Kucing divaksinasi pada umur 8-10 minggu kemudian diulang pada umur 12-14 minggu, setelahnya diulang setiap tahun.

Terapi
Terapi dapat dilakukan dengan memberikan terapi cairan berupa Ringer laktat. Pemberian antibiotik seperti Amoxycillin 7 mg/kg bb im, Gentamisin 2 mg/kg bb im dan Ciprofloxacin 10 mg/kg bb po. Pemberian antibiotik juga disertai dengan pemberian antihistamin berupa Diphenhydramine 5 mg/kucing im dan CTM po untuk mencegah kejadian alergi akibat antibiotik. Pemberian multivitamin seperti Hematopan®, vitamin ADE, dan Calcipet® dilakukan sebagai terapi supportif.

Menurut Aiello (2000), penanganan kasus panleukopenia akut membutuhkan pengamatan yang teratur, terapi cairan, dan terapi suportif. Gangguan elektrolit, acidosis, hipoglicemia, hipoproteinemia, anemia, dan infeksi sistemik merupakan permasalahan berat yang sering terjadi pada kucing yang terinfeksi panleukopenia, sehingga perlu diberikan nutrisi secara parenteral. Tranfusi plasma atau darah dari kucing yang telah kebal terhadap panleukopenia akan membantu tekanan onkotik plasma dan menyediakan imunitas pasif. Selain itu diberikan antibiotik spektrum luas tetapi hindari penggunaan antibotik yang nefrotoksik seperti Gentamisin dan Amikasin pada kucing yang menderita dehidrasi. Penggunaan antiemetik seperti Metoclopramide akan mengurangi rasa sakit dan diberikan sebelum pemberian pakan.

6 Komentar:

Zoro Swordsman mengatakan...

blogwalking here :D $$$

d'tunggu kunjung balik...
http://www.moy4n.kits.or.id/

jdi meninggalkan jejak dsini chatbox nya eror soalnya

info lowongan kerja mengatakan...

thanks bro infonya
soalnya saya piara kucing dirumah :D

Sigit Prayogo mengatakan...

@info lowongan kerja: Iya.. sama2 bro.. Segera saja di vaksin bro... Cz pasien panleuko yang saya ceritakan di atas tidak tertolong.. alias telah menghadap sang pencipta...
Penyakit ini bahaya banget bro..

Kucing mengatakan...

Penyakit Distemper pada Kucing memang mematikan, satu bulan yang lalu kucing adiku tewas dalam waktu kurang lebih 5 hari.

uwie mengatakan...

Kucing aku juga, senin dibawa ke dokter, rabu tengah malem wafat, sedih banget liat proses kematiannya di depan mata banget, sedih badan nya jadi kurus, bulu jabrignya juga jadi layu. Sekaranf kucing aku yg satunya lagi ikutan tidur terus n ga mau makan. Takutnya tertular

Neetha Budiarti mengatakan...

Kucing aq si gembul namanya juga hari sabtu lalu (24 Sept 2016) meninggal krn virus biadab ini...hr kamis sore terlihat sakit, jumat pagi aq bawa ke dokter,dan sabtu sore dia dipanggil Yang Maha Kuasa...sedihnya msh kerasa smp skrg...:( bagi yg pny kucing blm divaksin mhn segera divaksin kucingnya ya...