Tampilkan postingan dengan label Info Vet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Vet. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Mei 2014

Kumpulan Soal -Soal Ujian Kompetensi Dokter Hewan

Bagi para dokter hewan muda yang lagi galau menghadapi ujian kompetensi dokter hewan, silahkan download kumpulan soal - soal yang akan diujikan. Ini hanya soal - soal prediksi saja, jadi anda tetap harus belajar dan jangan mengandalkan belajar dari soal - soal ini saja. Saya tidak menjamin soal - soal yang saya bagikan ini akan sepenuhnya keluar dalam ujian kompetensi dokter hewan anda.

Tanpa basa - basi lagi, silahkan download satu per satu soal - soal ujian kompetensi dokter hewan berikut. Soal - soal yang saya bagikan ini sudah lengkap dengan kunci jawabannya:


Yup, itulah koleksi seluruh soal - soal ujian kompetensi dokter hewan yang saya miliki, dan jika ada rekan kolega yang kebetulan membaca artikel ini dan ingin berbagi koleksi soal - soalnya, silahkan hubungi saya. Terimakasih.

Rabu, 24 April 2013

Tanda - Tanda Ayam yang Terserang Virus H5N1 Clade 2.3

Pada bulan februari yang lalu, kita telah di kejutkan oleh kematian itik ataupun bebek secara masal. Dan setelah di memalui pemeriksaan lab, kematian itik-itik tersebut di karenakan oleh infeksi dari virus Flu Burung (H5N1) Clade 2.3 dan menimbulkan dampak kerugian yang sangat luarbiasa.
Sebenarnya virus clade 2.3 sudah lama ada, namun tidak menimbulkan kerugian yang berarti. Itik cenderung tidak menunjukkan gejala-gejala sakit jika terinfeksi oleh virus ini, Namun di perkirakan karena virus flu burung tersebut mengalami mutasi, sehingga itik yang terserang virus ini akan menunjukkan gejala sakit.

Lebih parahnya lagi, virus yang menyerang pada itik tersebut mampu menginffeksi ayam. Angka kematian ayam yang terinfeksi virus H5N1 Clade 2.3 ini sungguh tinggi. Saya baru saja mendapati kasus ayam yang terinfeksi AI clade 2.3 dan ciri-cirinya hampir mirip ND + Gumboro.
  1. Ovarium merah (ada penggumpalan darah)
  2. Tortikolis (leher ayam berputar seperti kasus ND syaraf)
  3. Perdarahan di trakea
  4. Vaskodilatasi (perbesaran vena) di daerah penggantung usus
  5. Ginjal Bengkak 
Ginjal bengkak inilah yang mengakibatkan kematian pada ayam semakin tinggi. Jika kita tidak jeli, maka kesalahan diagnosa dan pengobatan bisa berakibat sangat fatal karena pemberian antibiotik pada kondisi ginjal yang membengkak itu sama saja bunuuh diri.

Untuk mengatasi hal ini, kita hanya bisa berupaya "menekan angka kematian" dengan cara:
  1. Lakukan segera re-vaksinasi menggunakan vaksin AI secara masal.
  2. Tambahkan hexamine (Desinfeksi saluran kemih) dalam minumnya untuk memperbaiki fungsi ginjalnya yang bengkak.
  3. Semprot kandang pagi dan sore menggunakan desinfektan yang mengandung BKC atau jika ingin lebih bagus gunakan iodin sebagai obat semprot. Semprot pagi di bawah jam 10, sore di atas jam 2.
  4. Perbaiki ransum pakannya dengan menggunakan pakan yang berprotein tinggi.
  5. Lakukan biosekuriti yang ketat.
  6. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. :D

Selasa, 31 Mei 2011

Penyakit Parasitik Pada Telinga Kucing

Otodectic mange adalah penyakit pada saluran telinga luar pada kucing dan anjing yang disebabkan oleh tungau Otodectes cynotis. Otodectes cynotis merupakan parasit yang menyerang pada saluran telinga. Memiliki 4 stadium pertumbuhan yaitu telur, larva, nimfa dan dewasa. Siklus hidup dari telur hingga menjadi dewasa membutuhkan waktu 21 hari atau 3 minggu dengan masa hidup sekitar 2 bulan. Tungau ini tidak membuat kanal atau terowongan di kulit, tapi melukai kulit secara terus-menerus denganmulutnya sehingga dapat menyebabkan peradangan kulit saluran telinga luar atau otitis parasitik (otodektik atau otokariosis) yang disertai dengan iritasi yang hebat. Investasi tungau ini juga menyebabkan pinggiran kulit di saluran telinga menebal, sehingga mengakibatkan saluran telinga menyempit yang mana akan mengganggu kemampuan pendengaran penderita. Peradangan yang berlangsung terus-menerus menyebabkan peningkatan eksudat radang dan apabila ada infeksi sekunder dari bakteri maka akan menghasilkan leleran nanah yang berbau busuk. Hal ini juga akan menyebabkan rasa gatal sehingga kucing sering menggaruk dengan kaki atau menggosok-gosokkan telinganya pada obyek yang keras. Otodectes cynotis tidak menyebabkan rusaknya gendang telinga. Tetapi adanya infeksi sekunder yang disebabkan bakteri atau jamur seperti Staphylococcus aureus, Proteus sp, Pseudomonas sp dan Candida sp dapat menyebabkan kerusakan selaput gendang telinga. Kerusakan telinga bagian tengah menyebabkan hewan kehilangan keseimbangan, disorientasi dan gangguan syaraf lainnya. Otodectes cynotis seringkali ditemukan di kepala atau kulit tubuh bagian luar.

Pada tanggal 11 maret 2011, kucing ‘Mauris” diperiksakan oleh pemiliknya ke Rumah Sakit Hewan Pendiikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dengan keluhan adanya keropeng pada kulit sekitar leher di bawah telinga, gatal dan sering menggaruk-garuk bagian telinga dan leher. Pada telingabagian dalam terlihat adanya kotoran telinga berwarna hitam kecoklatan dalam jumlah yang cukup banyak. Setelah dilakukan pembersihan telinga menggunakan cotton bud, kotoran telinga diambil sedikit untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopis dan ditemukan adanya Otodectes cynotis, maka kucing Mauris di diagnosis Otodectic mange.

Salah satu terapi untuk penderita otodectic mange adalah injeksi ivomec. Ivomec merupakan anti parasit yang banyak digunakan untuk sapi, domba dan unta dengan spektrum yang luas yang diberikan secara injeksi maupun oral. Ivomec cukup efektif sebagai kontrol parasit baik interna maupun eksterna yang dapat mengganggu kesehatan maupun produktifitas hewan. Ivomec mengandung 1,0 w/v larutan steril dari ivermectin. Ivermectin adalah derivat dari Avermectin yang merupakan agen anti parasit dengan spektrum luas dan memiliki efektifitas yang tinggi. Ivermectin diisolasi dari fermentasi mikroorganisme tanah Streptomyces avermitilis. Cara kerja ivomec adalah dengan memparalisa dan membunuh parasit dengan cara menyerang sistem syaraf dari parasit. Pada dosis terapi, ivomec dapat ditoleransi oleh hewan selama tidak memprenetasi sistem syaraf pusat. Kontra indikasi dari ivomec tidak boleh diberikan pada hewan bunting karena ivomec bersifat teratogenik yang dapat menyebabkan kematian pada janin.

Terapi yang dilakukan dengan injeksi ivomec 0,2 cc secara subcutan. Pemberian ivomec secara sistematik sangat efektif pada dosis 0,3 cc / Kg BB secara subcutan selama 2 minggu untuk 2 kali pengobatan. Pengulangan pemberian ivomec secara subcutan lebih lama daripada pemberian secara oral. Pada pemberian secara oral terkadang tidak semua obat yang diberikan bisa masuk secara sempurna sehingga ada kemungkinan dosisnya tidak sesuai. Pemberian secara oral bisa dilakukan setiap minggu untuk 3-4 minggu. Pemberian ivomec dilakuan setiap minggu selama 3-4 minggu karena siklus hidup Otodectes cynotis dari telur hingga dewasa adalah 21 hari, sedangkan ivomec bekerja dengan meningkatkan pelepasan Gamma Amino Butyric Acid (GABA) di sistem syaraf parasit, sehingga impuls syaraf parasit akan mengalami gangguan dan tidak akan bekerja (lumpuh). Ivomec berperan untuk mengontrol Otodectes cynotis dewasa dan mencegah terjadinya menetasnya telur tungau.

Pemberian injeksi Duradryl 0,2 cc secara subcutan sebelum pemberianinjeksi ivomec akan sangat membantu, mengingat duradryl sebagai anti histamin yang akan berikatan dengan reseptor histamin sehingga dapat mengurangi reaksi alergi tubuh. Dipenhydramin HCl yang terkadung didalam duradryl berfungsi untuk mengurangi reaksi alergi (gatal-gatal) yang disebabkan oleh ektoparasit. Anti histamin muncul untuk berkompetisi dengan histamin untuk menempati tempat reseptor sel pada efektor sel. Dipenhydramin HCl memiliki onset of action yang cepat didistribusikan secara luas keseluruh tubuh termasuk ke sistem syaraf pusat. Beberapa bagian dari obat tersebut diekskresikan melalui urin dan sisanya di metabolisme oleh hepar. Kontraindikasi dari obat ini tidak boleh diberikan pada hewan laktasi maupun hewan usia muda, serta hewan yang memiliki hipersensitifitas.

Minggu, 24 April 2011

Pasienku (Kucing) Kena Panleukopenia

Seorang klien dari kota Sidoarjo datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Unair dengan membawa dua kucing yang belum di vaksin yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sebut saja namanya Pino dan Kio, yang suspect panleukopenia. Setelah browsing dan cari-cari di mbah Google, akhirnya ketemulah artikel seperti di bawah ini. (Sumber Dunia Veteriner)

Feline panleukopenia atau distemper kucing menurut Aiello (2000) merupakan penyakit viral yang fatal pada kucing. Kejadian penyakit ini parah apabila terjadi pada anak kucing. Feline panleukopenia virus termasuk ke dalam virus tipe DNA famili parvoviridae subgrup feline parvovirus, virus ini masuk melalui mulut ataupun hidung menuju tonsil dan limfoglandula di daerah tenggorokan dan kemudian menginfeksi serta mengancurkan sel-sel yang aktif melakukan pembelahan seperti sel-sel pada sumsum tulang, jaringan limfoid, epitel usus, cerebellum dan retina, serta sel-sel pada anakan.

Virus ini akan menekan produksi sel darah putih di sumsum tulang sehingga jumlah seluruh sel darah putih berkurang sehingga penyakit ini dinamakan panleukopenia. Di saluran usus virus ini menyebabkan ulcer yang memicu terjadinya diare, dehidrasi, dan infeksi oleh bakteri. Sebagian besar kasus kematian terjadi akibat dehidrasi dan infeksi bakteri yang parah.

Pada induk kucing yang bunting virus akan menular secara intraprasental dan menyerang embrio atau fetus secara cepat sehingga menyebabkan kematian embrio, mumifikasi, aborsi, dan lahir mati. Infeksi pada saat kelahiran akan menyebabkan kerusakan pada epital germinal di cerebelum yang mengakibatkan hipoplasia cerebral, inkordinasi, dan tremor karena cerebelum merupakan bagian dari sistem syaraf pusat yang mengkoordinasikan keseimbangan dan pergerakan. Virus akan berada dalam jumlah banyak di semua sekresi dan ekskresi kucing seperti feses, urine, muntah, saliva, dan mukus selama fase akut dari penyakit ini dan dapat bertahan pada feses kucing selama 6 minggu setelah penyembuhan.

Gejala klinis
Sebagian besar infeksi dari virus panleukopenia berlangsung secara subklinis. Kucing yang terinfeksi sebagian besar terkena pada saat berumur di bawah 1 tahun. Gejala klinis yang terlihat yaitu demam, depresi, dan anorexia selama periode inkubasi 2-7 hari. Muntah akan terlihat 1-2 hari setelah demam, umumnya berhubungan dengan empedu dan tidak terkait dengan makanan. Diare yang terjadi merupakan gejala yang tampak terakhir. Muntah dan diare terjadi secara teratur, diare terkadang disertai dengan darah. Dehidrasi parah terus terjadi meskipun kucing terus minum. Physical examination menunjukkan adanya depresi yang parah, dehidrasi, dan terkadang adanya rasa sakit di daerah abdomen. Palpasi pada abdomen dapat menginduksi kejadian muntah, selain itu kebengkakan dan penebalan usus serta kebengkakan limfoglandula mesenterica akan teraba. Pada kucing muda dengan kelainan cerebellum akan terlihat gejala ataksia dan tremor. Gejala akan terlihat selama 5-7 hari. Anak kucing yang menderita penleukopenia perakut akan mati dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala klinis (Aiello 2000).

Lesio
Pada kasus penyakit panleukopenia perakut, lesio yang jelas terlihat hanya sedikit, lesio yang sering terlihat yaitu dehidrasi dan kekurusan. Perubahan patologianatomi pertama yang terjadi yaitu edema dan nekrosa pada thymus dan limfoglandula mesenterika. Sumsum tulang akan terlihat agak cair dan berlemak. Dinding usus besar akan terlihat bengkak dan menebal serta terdapat akumulasi gas. Permukaan usus besar yang terinfeksi akan terlihat hiperemia dan terlihat adanya haemoragi ptechie atau echimosa. Hati, ginjal, dan limpa akan terlihat membengkak. Secara histologi kripta usus mengalami dilatasi disertai keberadaan sel-sel debris yang terdiri dari sel-sel epitel yang telah nekrosa. Vili usus akan terlihat tumpul dan bersatu. Selain itu terlihat adanya degenerasi hepatosit hati dan sel epitel pada tubulus renalis. Badan inklusi intranukleus eosinofilik terlihat pada jaringan tempat virus mengalami replikasi.

Differensial diagnosa
Differensial diagnosa dari penyakit ini adalah salmonellosis, feline leukemia virus, dan feline immunodeficiency virus.

Diagnosa penunjang
Semua anak kucing yang menderita demam, kehilangan indera perasa, diare yang disertai atau tidak disertai muntah dicurigai menderita panleukopenia. Umumnya jumlah sel darah putih sangat sedikit karena virus ini menyerang sumsum tulang yang memproduksi sel darah putih. Tes feses dengan menggunakan ELISA kit khusus feline panleukopenia dapat meneguhkan diagnosa. Penggunaan ELISA kit tidak boleh dilakukan setelah 5-12 hari paska vaksinasi panleukopenia virus karena akan menunjukkan hasil positif palsu. Isolasi virus, tes Polimerase Chain Reaction (PCR) dan pengukuran tingkat antibodi merupakan tes yang potensial untuk melihat adanya infeksi ini.

Pencegahan
Pencegahan penyakit panleukopenia pada kucing dilakukan dengan vaksin aktif yang dimodifikasi dan vaksin inaktif. Vaksin aktif tidak boleh diberikan pada kucing bunting, mengalami imunosupresi, sakit, atau kucing di bawah umur 4 minggu. Kucing divaksinasi pada umur 8-10 minggu kemudian diulang pada umur 12-14 minggu, setelahnya diulang setiap tahun.

Terapi
Terapi dapat dilakukan dengan memberikan terapi cairan berupa Ringer laktat. Pemberian antibiotik seperti Amoxycillin 7 mg/kg bb im, Gentamisin 2 mg/kg bb im dan Ciprofloxacin 10 mg/kg bb po. Pemberian antibiotik juga disertai dengan pemberian antihistamin berupa Diphenhydramine 5 mg/kucing im dan CTM po untuk mencegah kejadian alergi akibat antibiotik. Pemberian multivitamin seperti Hematopan®, vitamin ADE, dan Calcipet® dilakukan sebagai terapi supportif.

Menurut Aiello (2000), penanganan kasus panleukopenia akut membutuhkan pengamatan yang teratur, terapi cairan, dan terapi suportif. Gangguan elektrolit, acidosis, hipoglicemia, hipoproteinemia, anemia, dan infeksi sistemik merupakan permasalahan berat yang sering terjadi pada kucing yang terinfeksi panleukopenia, sehingga perlu diberikan nutrisi secara parenteral. Tranfusi plasma atau darah dari kucing yang telah kebal terhadap panleukopenia akan membantu tekanan onkotik plasma dan menyediakan imunitas pasif. Selain itu diberikan antibiotik spektrum luas tetapi hindari penggunaan antibotik yang nefrotoksik seperti Gentamisin dan Amikasin pada kucing yang menderita dehidrasi. Penggunaan antiemetik seperti Metoclopramide akan mengurangi rasa sakit dan diberikan sebelum pemberian pakan.

Rabu, 30 Maret 2011

Batuk pada Anjing (Canine Infectious Tracheobronchitis / Kennel Cough)

Kennel Cough atau Canine Infectious Tracheobronchitis adalah salah satu penyakit saluran pernafasan atas pada anjing yang biasa terjadi pada anjing muda. Gejala batuk ini terdengar seperti anjing berusaha mengeluarkan sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya. Anjing yang terserang penyakit ini akan batuk setiap beberapa menit selama sehari penuh. Pada beberapa kejadian kadang tidak diikuti dengan perubahan status kesehatan anjing, suhu tubuh tidak meningkat dan kadang nafsu makan tetap bagus.

Agen penyebab Infectious Tracheobronchitis ada beberapa macam, yang paling sering disebabkan oleh Virus Parainfluenza, Bordetella Bronchiseptica, dan Mycoplasma. Canine Adenovirus tipe II, reovirus, dan canine herpes virus juga pernah disebutkan sebagai agen penyebab penyakit ini.

Virus penyebab Infectious Tracheobronchitis yang paling sering menginfeksi adalah parainfluenza virus. Virus ini akan menyebabkan gejala ringan hingga 6 hari sampai adanya infeksi sekunder oleh bakteri. Untuk menghindari infeksi virus ini bisa dilakukan dengan vaksinasi.

Bakteri penyebab yang paling sering diisolasi dari anjing yang terserang penyakit ini adalah Bordetella bronchiseptica. Gejala klinis dari infeksi ini terjadi 2-14 hari setelah masuknya bakteri dalam tubuh. Jika tidak ada infeksi dari agen lain, gejala klinis akan hilang pada hari ke-10. Namun setelah infeksi teratasi, anjing penderita akan berusaha mengeluarkan bakteri yang keluar melalui dahaknya dalam waktu 6-14 minggu dan di masa inilah biasanya akan memudahkan anjing lain tertular. Parainfluenza dan Bordetella sering menginfeksi bersamaan pada kasus infectious tracheobronchitis, yang akan menimbulkan batuk yang akan sembuh dengan sendirinya dalam 14-20 hari.

Berikut video anjing yang menunjukkan gejala mengalami Kennel Cough






Diagnosa

Diagnosa dari penyakit ini sering didasarkan pada gejala klinis dan sejarah adanya kemungkinan tertular dari anjing lain. Kultur bakteri, isolasi virus, dan gambaran darah bisa dilakukan untuk memastikan agen penyebab Kennel Cough, namun berdasarkan gejala klinis yang spesifik pada penyakit ini, uji-uji ini sangat jarang dilakukan.


Terapi

Ada dua pilihan terapi yang bisa dilakukan berdasarkan kejadian penyakit. Pada kasus yang ringan, bisa dilakukan dengan pemberian antibiotik ataupun tanpa antibiotik. Namun penanganan pada kasus ringan ini tidak berarti dapat memperpendek lamanya penyakit, dimana anjing penderita tetap akan dapat menularkan penyakit ini pada anjing lainnya. Sebagai tambahan bisa diberikan bronkodilatator seperti aminophylline atau obat-obatan pengurang batuk juga bisa diberikan pada kasus yang ringan.


Pada kasus yang lebih kompleks, dimana biasanya anjing hilang nafsu makan, deman, atau menunjukkan tanda-tanda pneumonia, bisa diberikan antibiotik. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah doxycycline atau trimethropim sulfa. Namun demikian, banyak pilihan obat lain yang bisa digunakan. Pemberian steroid atau pengurang batuk tidak dianjurkan karena resiko imunosupresi, dimana kebutuhan steroid perlu kontinuitas untuk membersihkan cairan mukous pada pneumonia yang diderita. Bronkodilator dan bahkan terapi aerosol bisa diberikan.


Vaksinasi dan Pencegahan

Pencegahan yang paling baik adalah tidak mencampurkan anjing satu dengan anjing lainnya, terutama untuk anjing-anjing muda. Jika memang hal ini tidak bisa dihindari, pilihan kedua adalah melakukan vaksinasi. Anjing yang sudah divaksin akan terlindungi oleh beberapa agen penyebab trachebronchitis, terutama parainfluenza dan adenovirus.

Artikel ini hanya sekedar penambah pengetahuan dan penyambung informasi. Kami tidak menerima pertanyaan seputar medis tentang kesehatan Hewan Peliharaan Anda. Jika terjadi sesuatu dengan Hewan Peliharaan Anda, segera konsultasikan ke Dokter Hewan terdekat.

Credits:
Brooks, Wendy C. 2001. Kennel Cough (Infectious Tracheobronchitis).
Foster and Smith. 1997. Kennel Cough (Infectious Tracheobronchitis) in Dogs. Pet Education.
Youtube. What kennel cough sounds like.
Source: Vet-Indo

Minggu, 31 Oktober 2010

Limfoid Leukosis (LL)

Limfoid Leukosis dan Marek’s disease merupakan dua jenis penyakit neoplasma unggas yang sering ditemukan tetapi sulit dibedakan. Hal ini disebabkan oleh manifestasi patologiknya yang hampir serupa.
Limfoid Leukosis disebabkan oleh virus avian leukosis (ALV) yang tergolong genus retrovirus. Virus AL pada ayam dapat dibagi menjadi 6 sub grup yaitu A, B, C, D, E, dan J.

Penularan virus ini bisa secara vertical dan horizontal. Penularan vertical dari induk kepada anak melalui telur, sedangkan secara horizontal melalui kontak langsung atau tidak langsung melalui ayam sakit (melalui feses dan air liur). Penyakit ini ditandai dengan nafsu makan menurun, jengger dan pial pucat sampai kebiruan dan keriput. Perut terlihat membesar karena hati yang membengkak, bulu-bulu menjadi kotor karena tercemar asam urat dan pigmen empedu dan ayam-ayam tampak kurus dan lemah.

Diagnosa biasanya berdasarkan lesi-lesi makroskopis, mikroskopis dan histopatologis, isolasi dan identifikasi virus. Virus dapat dideteksi dengan uji CFT, RIA, ELISA, FAT dan Resistance Inducing Factor (RIF). Penyakit ini sangat mirip dengan Marek dari perubahan organ visceral dan penyakit ini tidak pernah diikuti dengan gejala syaraf. Penyakit lainnya sebagai diagnosa banding yaitu Eritroblastosis, Mieloblastosis, Penyakit Pullorum, Tuberkulosis, Granuloma Koli, penyakit Hjarres dan Degenerasi lemak hati.

Cara penanggulangan LL melalui ayam yang sakit sebaiknya dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur. Kandang dan peralatan didesinfeksi. Tindakan pencegahan paling efektif adalah dengan vaksinasi, tetapi dianggap tidak efisien karena kejadian penyakit bersifat sporadis dan kerugian yang ditimbulkan penyakit rendah.

Jumat, 27 Agustus 2010

Histologi Testis

Testis terdiri dari kelenjar-kelenjar yang berbentuk tubulus, dibungkus oleh selaput tebal yang disebut tunika albugenia. Pada sudut posterior organ ini terbungkus oleh selaput atau kapsula yang disebut mediastinum testis. Septula testis merupakan selaput tipis yang meluas mengelilingi mediastinum sampai ke tunika albugenia dan membagi testis menjadi 250-270 bagian berbentuk piramid yang disebut lobuli testis. Isi dari lobulus adalah tubulus seminiferus, yang merupakan tabung kecil panjang dan berkelok-kelok memenuhi seluruh kerucut lobulus. Muara tubulus seminiferus terdapat pada ujung medial dari kerucut. Pada ujung apikal dari tiap-tiap lobulus akan terjadi penyempitan lumen dan akan membentuk segmen pendek pertama dari sistem saluran kelamin yang selanjutnya akan masuk ke rete testis.

Dinding tubulus seminiferus terdiri dari tiga lapisan dari luar ke dalam yaitu tunika propria, lamina basalis dan lapisan epitelium. Tunika propria terdiri atas beberapa lapisan fibroblas, yang berfungsi sebagai alat transportasi sel spermatozoa dari tubulus seminiferus ke epididimis dengan jalan kontraksi. Lapisan epitel pada tubulus seminiferus terdiri dari dua jenis sel yaitu sel-sel penyokong yang disebut sebagai sel sertoli dan sel-sel spermatogonium. Sel-sel spermatogonium merupakan sel benih sejati, karena sel-sel inilah dihasilkan spermatozoa melalui pembelahan sel. Sel-sel spermatogonium tersusun dalam 4-8 lapisan yang menempati ruang antara membrana basalis dan lumen tubulus.

Kamis, 29 Juli 2010

Organ Reproduksi Hewan Betina

Ovarium
Merupakan alat kelamin betina yang bertanggung jawab atas diferensiasi dan pelepasan oosit matang untuk fertilisasi dan perkembangbiakan dari spesies. Ovarium juga sebagai organ endokrin yang memproduksi hormon steroid yang memungkinkan berkembangnya ciri-ciri seksual betina sekunder dan mendukung kebuntingan Pada umumnya, ovarium terdapat dua buah, yaitu kanan dan kiri yang terletak di dalam rongga pelvis.Strukturnya oval, Ovarium tidak terikat dengan tuba falopii dengan saluran telur yang terbuka ke arah fimbriae,

Tuba Falopii
Pangkal dari tuba falopii terdapat fimbrae, fimbrae adalah struktur berbentuk corong yang berfungsi menangkap ovum yang telah di ovulasi oleh ovarium dan akan di teruskan ke arah tuba falopii. Tuba falopii merupakan saluran reproduksi betina yang kecil, berliku-liku dan kenyal serta terdapat sepasang dan merupakan saluran penghubung antara ovarium dan uterus.

Uterus
biasanya memiliki dua buah tanduk (kornua uteri), satu buah tubuh (korpus uteri), dan satu buah leher rahim (servik uteri). Tipe bentuk uterus hewan ada bermacam-macam, antara lain:

Senin, 05 Juli 2010

Apa itu Veteriner?

Pada judul blog ini tertulis dengan huruf besar "Hot Side Veteriner"
Tapi apa sih veteriner itu?
Veteriner adalah segala hal yang berkaitan tentang hewan dan penyakitnya.
Veteriner kalau di bahasakan inggris adalah Veterinary yang memiliki arti berhubungan dengan penyakit hewan. Sehingga arti dan maksud dari veteriner secara keseluruhan adalah memperjuangkan segala hal yang berhubungan dengan penyakit hewan. Sedangkan orang yang ahli di bidang ini disebut veterinarian.

Arti dari veteriner sebenarnya terbatas pada segala hal yang berhubungan dengan penyakit hewan. Veteriner mencakup semua hal bidang veteriner, kesehatan hewan, dan yang berhubungan dengan penyakit hewan tetapi bukan kehewanan. Karena pengertian dari kehewanan itu sendiri sangatlah luas dan melibatkan pihak-pihak lain seperti: peternak dan lain-lain.

Rabu, 21 Oktober 2009

Penyebab Abortus Pada Hewan

Abortus atau keluron adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup, sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum masa akhir kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri di luar tubuh induk (Toelihere, 1985).
Abortus dapat terjadi pada berbagai umur kebuntingan dari 42 hari sampai saat akhir masa kebuntingan. Abortus dapat terjadi bila kematian fetus di dalam uterus disertai dengan adanya kontraksi dinding uterus sebagai akibat kerja secara bersama-sama dari hormon estrogen, oksitosin, dan prostaglandin F2? pada waktu terjadinya kematian fetus itu. Oleh karena itu fetus yang telah mati terdorong keluar dari saluran alat kelamin (Hardjopranjoto, 1995).
Penyebab abortus secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu abortus karena sebab-sebab infeksi dan, abortus karena sebab-sebab non infeksi.


Abortus karena infeksi


Brucellosis

Sifat dan Kejadian
Brucellosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder beberapa jenis hewan lainnya dan manusia. Brucellosis disebabkan bakteri Brucella abortus (Anonim, 1978). Abortus karena Br. abortus umumnya terjadi dari bulan ke-6 sampai ke-9 periode kebuntingan. Kejadian abortus berkisar antara 5-90% di dalam suatu kelompok ternak tergantung pada berat ringan infeksi, daya tahan hewan bunting, virulensi organisme dan faktor-faktor lain (Toelihere, 1985).

Terjadinya keguguran setelah kebuntingan 5 bulan merupakan petunjuk kunci untuk menemukan penyakit ini. Seekor sapi betina setelah keguguran itu masih mungkin bunting lagi tetapi tingkat kelahiran akan rendah dan tidak teratur (Blakely & Bade, 1991). Sedangkan menurut Akoso (1990), terjadinya keguguran karena penyakit ini biasanya pada usia kebuntingan 7 bulan. Kemungkinan selaput janin akan tertinggal lama dan menyebabkan sapi menjadi mandula dalah merupakan gejala penyakit ini

Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui ingesti makanan dan air yang terkontaminasi oleh kotoran-kotoran dari alat kelamin hewan yang mengalami abortus. Disamping itu penularannya dapat juga terjadi melalui selaput lendir mata dan melalui IB dengan semen terinfeksi. Anak sapi yang menyusu dari induk yang tertular juga dapat tertulari (Toelihere, 1985).

Patogenesis
Permulaan infeksi brucellosis terjadi pada kelenjar limfe supramamaria. Pada uterus, lesi pertama terlihat pada jaringan ikat antara kelenjar uterus mengarah terjadinya endometritis ulseratif, kotiledon kemudian terinfeksi disertai terbentuknya eksudat pada lapisan allantokhorion. Brucella banyak terdapat pada vili khorion, karena terjadi penghancuran jaringan, seluruh vili akan rusak menyebabkan kematian fetus dan abortus. Jadi kematian fetus adalah gangguan fungsi plasenta disamping adanya endotoksin. Fetus biasanya tetap tinggal di uterus selama 24-72 jam setelah kematian. Selaput fetus menderita oedematous dengan lesi dan nekrosa (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Upaya yang dapat dilakukan terhadap pencegahan penyakit ini adalah memisahkan sapi yang menderita abortus pada tempat yang terisolasi, menghindari perkawinan antara pejantan dengan betina yang menderita abortus, jangan memberikan susu pada sapi dengan susu sapi yang menderita abortus, selalu memperhatikan kebersihan baik kandang maupun peralatan kandang dan peralatan pemerah yang digunakan, serta melaksanakan vaksinasi secara teratur (Siregar, 1982). Apabila terjadi abortus akibat Brucella abortus fetus dan placenta yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis (Toelihere, 1985).



Leptospirosis

Sifat dan Kejadian
Leptospirosis pada sapi disebabkan oleh spirocheta yang kecil dan berbentuk filamen, yang terpenting diantaranya adalah Leptospira pamona, L. hardjo, L. grippotyphosa dan L. conicola. Organisme ini mudah dimusnahkan oleh panas, sinar matahari, pengeringan, asam, dan desinfektan. Leptospira dapat hidup selama beberapa hari atau minggu dalam lingkungan yang lembab pada suhu sedang seperti di tambak, aliran air yang macet atau di tanah basah (Toelihere, 1985).
Air merupakan media penyebaran utama untuk penyakit ini. Penularannya dapat pula melalui luka, semen, baik perkawinan alamiah maupun perkawinan dengan IB. selain dapat menular ke ternak lain penyakit ini juga dapat menular ke manusia (Blakely &Bade, 1991). Pembawa utama Leptospira adalah rodentia. Anjing dan babi dapat berfungsi sebagai pembawa potensial (Anonim, 1980).
Penyebaran Leptospirosis bergantung pada keadaan luar, yaitu penyebarannya terutama melalui air dan lumpur. Hewan biasanya mengeluarkan Leptospira melalui air kemih. Bila air kemih in tiba di dalam air atau lumpur yang sedikit alkali atau netral maka Leptospira itu dapat tinggal hidup berminggu-minggu. Bila hewan atau orang kontak langsung dengan air atau lumpur ini maka ia terinfeksi. Leptospira ini masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir konjungtiva, mulut, hidung dan luka kulit.

Patogenesis
Setelah infeksi terjadi pada sapi, Leptospira masuk dan berkembang di dalam aliran darah. Masa inkubasi terjadi 4-10 hari dengan fase bakteremia yang akan berakhir kira-kira 7 hari, diikuti pengeluaran Leptospira dalam air susu dan terjadi kerusakan fungsi ginjal. Dengan terbentuknya antibody dalam sirkulasi darah setelah 5-10 hari bakteremia berhenti, bakteri akan melokalisir dan menetap di sejumlah organ tubuh terutama tubulus renalis ginjal dan alat kelamin dewasa. Selanjutnya Leptospira dikeluarkan dalam urine selama 20 bulan atau lebih, tergantung pada serotype dan umur sapi. Pada induk sapi yang bunting maupun tidak bunting Leptospira akan menetap pada uterus pasca infeksi. Lokalisasi Leptospira pada uterus yang bunting dapat menulari fetus, diikuti dengan keluarnya kotoran yang mengandung Leptospira dari alat kelamin sampai 8 hari pasca lahir. Leptospira dapat juga menetap di tuba falopii 22 hari setelah melahirkan (Hardjopranjoto, 1995).
Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan tindakan-tindakan higienik dan sanitasi, vaksinasi dan pengobatan antibiotika. Bakterin dapat memberi kekebalan yang baik selama 2 sampai 12 bulan. Oleh karena itu vaksinasi memakai bakterin sebaiknya dilakukan 2 kali dalam 1 tahun. Pengobatan terhadap leptospirosis akut meliputi penyuntikan antibiotika dalam dosis tinggi seperti 3 juta satuan penicillin dan 5 gram streptomycin 2 kali sehari atau 2,5-5 gram tetracycline per 500 kg berat badan setiap hari selama 5 hari (Toelihere, 1985). Sedangkan cara pengendalian yang ideal adalah dengan penyingkiran hewan pembawa (Anonim, 1980).


Camphylobacteriosis

Sifat dan Kejadian
Camphylobacteriosis yang disebabkan oleh Camphylobakter foetus veneralis (dahulu disebut Vibrio fetus veneralis) adalah salah satu penyakit penyebab utama kegagalan reproduksi pada sapi yang disebarkan melalui perkawinan. Umumnya ditemukan kematian embrio dini atau abortus pada bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Toelihere, 1985).
Penyebarannya lewat ingesti, masuk darah menyebabkan plasentitis dengan kotiledon hemoragik dan sekitar interkotiledonaria mengalami udema (Prihatno, 2006).

Patogenesis
Infeksi Camphylobacter fetus venerealis pada sapi betina akan diikuti oleh endometritis, ditandai dengan adanya kerusakan pada endometrium yang mencapai puncaknya pada 8-13 minggu setelah penularan, disertai keluarnya cairan keruh kemudian berubah menjadi mukopurulen yang kadang-kadang diikuti salphingitis. Eksudat ditemukan dalam kelenjar uterus disertai infiltrasi limfosit ke dalam rongga periglandular. Karena adanya endometritis, embrio akan memperoleh oksigen lebih sedikit, sehingga akan mati dalam waktu yang singkat tanpa gejala yang jelas. Abortus terjadi pada umur 2-3 bulan dengan selaput fetus yang utuh pada waktu diabortuskan (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian yaitu IB dengan semen sehat yang berasal dari pejantan yang sehat pula, hewan betina atau pejantan yang terkena harus istirahat kelamin selama 3 bulan dan vaksinasi dengan bakterin 30-90 hari sebelum dikawinkan atau setiap tahun (Prihatno, 2006). Sedangkan pengobatannya dapat dilakukan dengan pemberian antibiotic berspektrum luas baik pejantan maupun betina (Prihatno, 1994).

Infectious Bovine Rhinotracheitis dan Infectious Pustular Vulvovaginitis (IBR-IPV)

Sifat dan Kejadian
Penyakit ini baru dikenal sejak tahun 1950 di Amerika Serikat yang disebabkan oleh virus. Penyebaran virus ini adalah melalui udara yaitu pada saat banyak hewan berkumpul. Hingga sekarang hanya sapi yang diketahui peka terhadap penyakit ini. Infeksi buatan dapat dilakukan denan inhalasi larutan yang mengandung virus di dalam hidung atau dengan injeksi intra tracheal (Ressang, 1984). Kejadian abortus dapat setiap saat, tetapi umumnya mulai bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Prihatno, 2006).
Penularan penyakit ini dapat secara vertikal maupun horizontal. Secara vertical dapat melalui infeksi intra uterine, sedangkan secara horizontal dapat melalui inhalasi dari cairan hidung dan melalui semen yang mengandung virus (Anonim, 1982).

Patogenesis
Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4-6 hari. Infeksi virus ini menyebabkan lepuh-lepuh pada mukosa vulva dan vagina, yaitu dimulai dengan bintik-bintik merah sebesar jarum pentul yang dalam waktu 2-3 hari akan membesar. Lepuh-lepuh ini berdinding tipis dan berisi cairan. Sapi yang terinfeksi mengalami demam yang disertai radang vagina. Dari vulva akan keluar cairan yang mula-mula bening kemudian bersifat nanah. Infeksi virus ini juga menyebabkan lepuh-lepuh pada fetus.dan nekrosis pada bagian korteks ginjal fetus (Hardjopronjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Vaksinasi terhadap sapi-sapi yang tidak bunting dengan kombinasi IBR-IPV dan BVD-MD pada usia 6-8 bulan dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini. Sapi yang terkena diisolasi dan diistirahatkan kelamin selama kurang lebih 1 bulan kemudian untuk mencegah infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik (Prihatno, 1994).


Bovine Virus Diarrhea Mucosal Disease (BVD-MD)

Umumnya menyerang sapi dan menyebabkan infertilitas. Pada sapi bunting yang terinfeksi dapat menyebabkan abortus.abortus dapat terjadi pada usia kebuntingan 2-9 bulan dan sangat menular. Penularan dapat lewat oral atau parenteral, urin atau feses. Infeksi pada fetus antara hari ke 45 dan 125 kebuntingan dan mungkin menyebabkan kematian fetus, abortus, resorbsi, fetal immunotoleran, dan infeksi persisten. Gejala yang nampak adalah demam tinggi, depresi, anoreksia, diare, dan produksi susu turun.

Patogenesis
Masa inkubasi secara alami berlangsung selam 21 hari. Virus masuk ke dalam aliran darah setelah terjadinya penularan (viremia), kemudian diikuti dengan timbulnya kerusakan-kerusakan sel epitel pada mukosa saluran pencernaan. Pada hewan yang buting virus ini menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh infeksi pada fetus, kemudian diikuti abortus atau kelahiran anak yang abnormal (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Diagnosanya sulit karena tidak ada lesi spesifik pada fetus. Uji serologik untuk menentukan titer antibodi mungkin dapat membantu diagnosa. Pencegahan dengan mengeleminir sapi terinfeksi dan melakukan vaksinasi (Prihatno, 2006).


Epizootic Bovine Abortion (EBA)

Sifat dan Kejadian
Epizootic Bovine Abortion (EBA) disebabkan oleh Chlamydia psittasi dan vektornya adalah Ornithodoros coriaceus. Penyakit ini menyebabkan abortus yang tinggi (30-40%) pada tri semester akhir kebuntingan pada sapi dara (Prihatno, 2006).

Menurut McKercher (1969) yand disitasi oleh Toelihere (1985) penyakit ini terutama menyerang fetus dan menyebabkan abortus pada umur kebuntingan 7, 8, dan 9 bulan. Beberapa fetus dilahirkan mati atau anak sapi lahir hidup tetapi lemah dan mati beberapa waktu kemudian. Gejala penyakit ini dapat dilihat dengan adanya kerusakan menyolok pada fetus yang diabortuskan pada placenta ada bercak-bercak (Partodiharjo, 1987).

Patogenensis
Virus ini terutama menyerang fetus, ditandai adanya haemorrhagia petechial pada mukosa konjungtiva, mulut dan kulit fetus. Terdapat cairan berwarna jerami umumnya terdapat di dalam rongga tubuh. Infeksi virus ini pada fetus menyebabkan hati membengkak, berbungkul kasar dan berwarna kuning dan hampir semua kelenjar limfa membengkak dan oedematous (Toelihere, 1985).

Pengendalian dan Pencegahan
Melihat ganasnya penyakit ini, maka diperkirakan penyebaran yang cepat dan antibodi yang terbentuk cukup kuat dalam tubuh sapi, dapat diperkirakan vaksin akan mudah didapat. Tetapi kenyataannya sampai sekarang belum ada vaksinnya (Partodiharjo, 1987). Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan mengisolasi dan mengobati hewan yang terinfeksi disamping pemberian vaksinasi tetapi belum ada vaksinnya (Prihatno, 1994).


Aspergillosis

Sifat dan Kejadian
Aspergillosis adalah penyakit jamur pada unggas, burung liar termasuk penguin, dan mamalia yang sudah lama dikenal. Jenis Aspergillus yang dianggap patogen untuk hewan adalah Aspergillus flavus, A. candidus, A. niger, A. glaucus. Ummnya penyakit ini bersifat menahun, akan tetapi pada hewan muda dapat berjalan akut. Pada sapi jamur dapat menyebabkan abortus bila jamur berlokasi di selaput fetus (Ressang, 1984).
Hampir semua abortus pad sapi disebabkan oleh Aspergillus fumigatus dan Mucorales. Kebanyakan abortus terjadi pada bulan ke-5 sampai ke-7 masa kebuntingan, tetapi dapat berlangsung dari bulan ke-4 sampai waktu partus. Fetus umumnya dikeluarkan dalam keadaan mati, tetapi beberapa kasus terjadi kelahiran prematur (Toelihere, 1985). Organ reproduksi yang sering ditumbuhi jamur adalah uterus (Robert, 1986).

Patogenesis
Jamur masuk lewat inhalasi sampai ke paru-paru, spora akan mengikuti aliran darah menuju plasenta dan menyebabkan plasentitis diikuti oleh kematian fetus dan abortus. Jamur juga dapat masuk ke tubuh melalui makanan, lewat ingesti spora masuk rumen menyebabkan rumenitis kemudian masuk ke dalam darah menuju plasenta dan menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh abortus (Prihatno, 2006).

Pengendalian dan Pencegahan
Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara antara lain : menyingkirkan hewan penderita, menghindari pemberian makanan bercendawan, memusnahkan sumber cendawan Aspergillus, memberikan perawatan dan makanan hewan untuk mempertinggi daya tahan tubuh, bekas tempat sapi yang terinfeksi didesinfeksi. Pengobatannya dengan griseofulvin untuk hewan besar memberikan hasil yang memuaskan tetapi biaya cukup mahal (Anonim, 1981).


Trichomoniasis

Sifat dan Kejadian
Trichomoniasis adalah penyakit venereal yang ditandai dengan sterilitas, abortus muda, dan pyometra, yang disebabkan oleh Trichomonas foetus. Abortus terjadi antara minggu pertama dan minggu ke-16 masa kebuntingan (Toelihere, 1985). Penularan dari sapi betina ke sapi yang lain terjadi melalui pejantan yang mengawininya. Penyakit ini pada tingkatan yang lanjut menunjukkan keadaan preputium penis sapi jantan yang mengalami peradangan, meskipun penyakit ini dapat pula ditularkan melalui IB (Blakely & Bade, 1991).
Gejala penyakit ini ditandai dengan siklus estrus yang pendek tidak teratur, dan pada umumnya menyebabkan infertilitas yang bersifat sementara. Sering sekali ditemui abortus muda (umur 4 bulan atau kurang) dan kejadian pyometra (Partodiharjo, 1987).

Patogenesis
Pada vagina trichomonisis menimbulkan vaginitis kataralis, yang mukosa vaginanya berwarna kemerahan dan basah. Pada infeksi yang kronis didapatkan udemaa pada vulva. Pada uterus infeksi T. fetus menyebabkan endometritis kataralis yang dapat berubah menjadi purulen. Apabila sapi bunting, keradangan pada kotiledon mengakibatkan kemtian dan maserasi fetus atau abortus, kemudian disusul terjadinya piometra. Pada kasus tersebut corpus luteum gravidatum tetap berkembang dan disebut corpus luteum persisten. Plasenta mengalami penebalan dilapisi sejumlah kecil gumpalan eksudat berwarna putih kekuningan. Pada kotiledon sedikit nekrosis (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan pengobatan antibiotik secara lokal pada betina terinfeksi. Sedangkan pada pejantan terinfeksi dilakukan pembilasan kantong penis dengan antibiotik atau antiseptika ringan cukup membinasakan T. fetus. Disamping itu pengolahan semen yang digunakan untuk IB dengan baik merupakan cara pemberantasan Trichomoniasis (Partodiharjo, 1987). Semen yang beredar secara komersial dapat diberi perlakuan khusus dengan pemberian antibiotik untuk menghindari ancaman infeksi sapi betina yang di IB. pengobatan terhadap Trichomonisis dapat berhasil secara efektif dengan menggunakan antibiotik spektrum luas baik untuk pejantan maupun betina. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah isolasi dan memberikan waktu istirahat untuk kegiatan seksual (Blakely & Bade, 1991).


Abortus karena sebab-sebab non infeksi

Abortus karena faktor genetik
Inbreeding menyebabkan kematian embrio, abortus dan kelahiran anak yang mati karena konsentrasi gen-gen letal perzigot lebih tinggi dibandingkan dengan pada crossbreeding (Toelihere, 1985). Gen lethal yang diperoleh dari induk dan bapaknya, dapat menyebabkan abortus. Kelainan kromosom baik pada autosom maupun kromosom kelamin juga dapat menyebabkan abortus (Hardjopranjoto, 1995).
Sebelum implantasi, embrio lebih mudah terkena pengaruh mutasi genetic dan kelainan kromosom diikuti oleh kematian fetus. Kelainan kromososm dapat dibedakan atas kelainan jumlah kromosm dan struktur kromosom. Kejadian ini dapat berlangsung karena kegagalan penyebaran kromosom atau susunan kromatin dalan sel tubuh penderita, terjadi selama berlangsungnya proses meiosis dan mitosis dari sel ovum atau sel sperma yang dapat menghasilkan dua bentuk sel yang poliploid. Yang dimaksud dengan poliploid adalah penambahan jumlah kromosom yang normal (2n+1) (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena sebab-sebab hormonal
Senyawa estrogenik bila diberikan dalam dosis tinggi untuk periode yang lama dapat menyebabkan abortus pada sapi (Toelihere, 1985). Hormon estrogen dihasilkan oleh folikel ovarium dan mempunyai fungsi stimulasi kontraksi uterus, juga menyebabkan uterus lebih peka terhadap pengaruh oksitosin pada saat menjelang partus. Estrogen bekerjasama dengan relaksin dapat merelaksasi servik dan ligamentum pelvis. Pada periode kebuntingan gangguan ketidakseimbangan hormone dapat menyebabkan terjadinya abortus (Hardjopranjoto, 1995).
Defisiensi progesteron merupakan penyebab abortus muda pada sapi. Abortus karena defisiensi progesteron dapat terjadi pada 45 sampai 180 hari masa kebuntingan, tetapi lebih sering pada 100 hari masa kebuntingan(Toelihere, 1985). Progesterone dihasilkan oleh korpus luteum dan mempunyai fungsi berhubungan dengan pertumbuhan sel-sel endometrium sebelum dan selama hewan bunting. Kemampuan korpus luteum gravidatum untuk menghasilkan hormone progesterone dapat mempertahankan kebuntingan (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena defisiensi makanan
Malnutrisi untuk waktu yang lama menyebabkan penghentian siklus birahi dan kegagalan konsepsi. Defisiensi makanan dan kelaparan yang parah dapat menyebabkan abortus (Toelihere, 1985).
Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan abortus pada sapi umur kebuntingan tua atau terjadi kelahiran anak lemah atau mati. Provitamin A dapat dipecah menjadi vitamin A oleh dinding usus. Kekurangan vitamin A dalam ransom dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesuburan sampai pada tingkat kemajiran.pada induk yang sedang bunting, kekurangan vitamin A dapat diikuti oleh abortus. Ini disebabkan kekurangan vitamin A meyebabkan terjadinya keratinisasidari epitel uterus, sehingga proses implantasi menjadi terganggu dan meyebabkan degenerasi plasenta (Hardjopranjoto, 1995). Apabila kebuntingan berlangsung sampai akhir waktunya, kelahiran mungkin sulit terjadi dan disusul olen infeksi dan retensio secundinae (Toelihere, 1985). Hal yang sama juga pernah dilaporkan tentang defisisensi selenium (Toelihere, 1985). Kekurangan selenium dapat menyebabkan terjadinya degenerasi urat daging jantung dan rangka dari fetus, sehingga menyebabkan kematian fetus tersebut (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena keracunan (bahan toksik)
Keracunan nitrat yang banyak dikandung oleh rumput liar dirawa-rawa atau daun cemara (pinus ponderosa) bila termakan dalam jumlah besar pada induk yang sedang bunting, dapat menyebabkan abortus pada 21-142 hari kemudiansesudah ingesti. Abortus dapat terjadi pada umur kebuntingan 6-9 bulan. Anak sapi dapat lahir premature, lemah dan mati sesudah beberapa waktu, sering juga terjadi retensi secundae. Bahan toksik yang terkandung di dalam daun pinus mungkin adalah suatu zat anti estrogenic yang akan mempengaruhi metabolisme tubuh terutama menekan sekresi kelenjar kelamin. Daun lamtoro yang diberikan dalam jumlah besar dapat menyebabkan abortus karena racun mimosin yang dikandung. Racun mimosin bila termakan induk hewan yang bunting secara berlebihan dapat mempengaruhi metablisme hormonal, sehingga menyebabkan penurunan respon ovarium terhadap sekresi hormone gonadotropin (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena gangguan dari luar tubuh induk
Stress karena panas dapat menyebabkan hipotensi fetus, hypoxia, dan asidosis (Prihatno, 2006). Suhu yang panas dapat menyebabkan penurunan kadar hormone reproduksi seperti FSH dan LH, selain itu juga dapat menyebabkan penurunan volume darah yang mengalir ke alat reproduksi, sehingga menyebabkan perubahan lingkungan uterus yang lebih panas dan menambah kemungkinan kematian fetus (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena sebab-sebab fisik
Pemecahan kantong amnion dengan penekanan manual pada kantung amnion selama kebuntingan muda, 30-60 hari umur kebuntingan dapat menyebabkan abortus. Sebab utama kematian fetus adalah rupture jantung atau pecahnya pembuluh darah pada dasar jantung fetus yang menyebabkan perdarahan ke dalam kantung amnion. Pemecahan corpus luteum gravidatum/verum pada ovarium akan disusul abortus beberapa hari kemudian. Pada sapi corpus luteum diperlukan selama periode kebuntingan dan kelahiran normal. Corpus luteum menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi untuk pertumbuhan kelenjar endometrium, sekresi susu uterus, pertumbuhan endometrium dan pertautan placenta untuk memberi makan kepada fetus yang berkembang, dan menghambat pergerakan uterus untuk membantu pertautan placenta. Sehingga penyingkiran corpus luteum kebuntingan pada sapi pasti menyebabkan abortus (Toelihere, 1985).

Abortus karena sebab-sebab lain
Kembar pada sapi menyebabkan lebih banyak kelahiran prematur, abortus, distokia, dan kelahiran anak yang lemah atau mati dibandingkan fetus tunggal (Toelihere, 1985). Banyaknya fetus yang ditampung oleh kedua cornua uteri dari seekor induk sangat tergantung kepada sifat genetisnya. Makin bertambahnya jumlah fetus, makin bertambah pula jumlah plasentanya dan makin bertambah ruangan didalam uterus yang dibutuhkan, serta makin bertambah kebutuhan darah untuk fetusnya. Namun demikian, kemapuan rongga uterus untuk menampung fetus secara alamiah adalah terbatas. Dengan bertambahnya fetus di dalam uterus di luar kemampuannya, dapat mengurangi penyediaan darah pada tiap fetus. Kondisi sepetri ini cenderung menyebabkan kematian fetus, khususnya bila fetus berada dalam satu cornua (Hardjopranjoto, 1995).

Penyebab Kematian Embrio Dini Pada Sapi

Kematian embrio diartikan sebagai kematian fertilitas ovum dan embrio sampai dengan akhir implantasi. Kurang lebih 25-40% kasus kematian embrio dini terjadi dalam suatu peternakan. Kematian ini lebih sering terjadi pada periode awal embrio daripada periode akhir. Kematian embrio dini dianggap sebagai proses eliminasi genotip yang tidak sehat/baik pada setiap generasi atau adanya kebuntingan ganda pada sapi dan domba.
Setelah terjadi proses pembuahan yang terjadi pada bagian ampula dari tuba falopii, individu baru yang terbantuk disebut zigot. Zigot setelah membelah (cleavage) disebut embrio. Embrio dalam perkembangannya akan berpindah menuju rongga uterus disusul dengan proses implantasi, yaitu upaya embrio untuk mengadakan hubungan langsung dengan dinding uterus sehingga terjadi hubungan yang erat antara embrio dengan dinding uterus induknya.

PENYEBAB KEMATIAN EMBRIO DINI
Berbagai faktor yang memegang peranan penting dalam mempengaruhi perkembangan embrio atau fetus didalam uterus induknya. Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kematian embrio dini adalah :
1. Genetik
Kematian embrio karena faktor genetik diturunkan melalui gen letal atau terjadi mutasi selama gametogenesis yang menyebabkan gangguan fertilitas. Kematian embrio dini pada sapi sering terjadi karena perkawinan inbreeding atau perkawinan sebapak atau seibu, sehingga sifat jelek yang dimiliki induk akan lebih sering muncul pada turunannya. Kematian embrio dini karena faktor genetik memegang peranan cukup besar, yaitu sekitar 33 % dari seluruh kasus kematian embrio dini. Sebelum implantasi, embrio lebih mudah terkena pengaruh mutasi genetik dan kelainan kromosom (chromosomal aberration) diikuti oleh kematian embrio dini. Kelainan kromosom dapat dibedakan atas kelainan jumlah kromosom dan struktur kromosom. Kejadian ini tetap berlangsung karena kegagalan penyebaran kromosom atau susunan kromatin dalam sel tubuh penderita yang terjadi selama berlangsungnya proses meiosis dan mitosis dari sel telur atau sel mani yang dapat menghasilkan 2 bentuk sel yang poliploid. Aneuploid adalah kelainan kromosom hewan yang dapat terjadi karena pengurangan jumlah kromosom yang normal (2n-1), sedang poliploid adalah penambahan jumlah kromosom yang normal (2n+1). Kelainan tersebut di atas dapat menyebabkan kematian embrio dini pada sapi. Bentuk kelainan kromosom yang menyebabkan kematian embrio dini ini dapat terjadi pada sapi usia kebuntingan 8-16 hari.

2. Hormonal
Cepat dan lambatnya transport dari ovum dipengaruhi oleh keseimbangan estrogen-progesteron, yang juga akan mempengaruhi kematian embrio preimplantasi. Ketidakseimbangan kedua hormon tersebut akan menyebabkan regresi korpus luteum dan berakhirnya kebuntingan.
Periode kritis dari kehidupan embrio adalah pada periode akhir blastosis. Normalnya korpus luteum akan menghasilkan progesteron yang beraksi menutup saluran reproduksi betina sesuai dengan perkembangan embrio.
Kematian embrio pada sapi sebenarnya tidak disebabkan oleh kurangnya progesteron selama fase luteal, tetapi karena regresi dari luteal sebelum kematian embrio. Kurangnya respon terhadap hormon luteotropik juga berpengaruh pada kematian embrio pada sapi-sapi subfertil.

3. Nutrisi
Pemenuhan kebutuhan kalori dan kurangnya nutrisi spesifik (lemak, vitamin E, selenium, zing, tembaga, mangaan) akan mempengaruhi rata-rata ovulasi , fertililisasi dan juga kematian embrio dini. Sapi dengan konsumsi “rumen degradable protein” yang tinggi akan menyebabkan kematian embrio karena akan menurunkan pH lingkungan uterus selama fase luteal dimana embrio harus tumbuh. Konsumsi lemak pada sapi akan mempengaruhi produksi progesteron yang sangat penting untuk implantasi dan sebagai nutrisi yang penting untuk pembentukan awal embrio. Salah satu efek dari peningkatan konsumsi lemak akan meningkatkan ukuran folikel ovarium yang akan meningkatkan ukuran korpus luteum sehingga produksi progesteron juga tinggi.

4. Umur
Kematian embrio tinggi pada hewan yang telah bunting 5 kali dibandingkan dengan hewan muda.

5. Jumlah embrio pada uterus
Banyaknya embrio pada uterus akan berpengaruh pada tersedianya ruang untuk perkembangan embrio, suplai darah. Pada sapi dengan kebuntingan kembar lebih besar kemungkinan terjadi kematian embrio daripada bunting tunggal karena berkurangnya ruang untuk perkembangan embrio dan perebutan nutrisi intrauterin. Kematian embrio terjadi pada 3 atau 4 minggu pertama kebuntingan.

6. Suhu
Kematian embrio terjadi pada induk yang terekspos suhu tinggi seperti pada daerah tropis. Fertilisasi pada domba dan sapi pada suhu tinggi akan terganggu walaupun tetap berkembang dan akan mati pada periode kritis saat implantasi. Berkurangnya fertilisasi mungkin karena penurunan daya hidup dan perkembangan embrio pada umur 6-8 hari dan kematian embrio juga dilaporkan pada sapi-sapi yang di Inseminasi Buatan pada saat musim panas.
Stress karena panas pada usia kebuntingan 8-17 hari akan mengubah lingkungan uterus yang tidak sesuai untuk pertumbuhan embrio dan aktivitas sekretori saat bunting.
Panas akan mengantagonis efek penghambatan sekresi PGF2 dari uterus, sehingga korpus luteum akan mengalami regresi dan kebuntingan tidak dapat dipertahankan.

7. Lingkungan kandang
Sapi yang diternakkan dalam jumlah banyak dengan sedikit pengawasan akan menyebabkan sapi tidak diperhatikan dan juga mungkin program recordingnya tidak bagus sehingga terjadi kesalahan pada saat dikawinkan misalnya terlalu cepat atau terlalu lama dikawinkan.

8. Infeksi
Beberapa infeksi yang dapat menyebabkan kematian embrio dini adalah :
a. Brucellosis
Pada sapi brucellosis umumnya disebabkan oleh Brucella abortus , sedangkan pada kambing dan domba disebabkaan oleh Brucella melitensis. Brucellosis akan menimbulkan gejala retensi plasenta dan metritis.
b. Vibriosis
Vibriosis disebabkan oleh Vibrio fetus venerealis atau Campylobacter foetus venerealis. Gejala khas dari vibriosis adalah endometritis dan salphingiitis. Jika terjadi fertilisasi maka akan tejadi kematian embrio dini.Siklus estrus juga akan diperpanjang 27-57 hari.
c.Trikomoniasis
Trikomoniasis disebabkan oleh Tritrichomonas fetus yang juga akan menyebabkan kematian embrio dini. Infeksi ini akan menyebabkan kemajiran, S/C yang tinggi (5x lebih), angka kebuntingan yang rendah, abortus dini dan pyometra.

9.Lingkungan uterus
Adanya endometritis parturient dan tidak kondusif untuk kebuntingan mungkin juga disebabkan ingesti substansi steroid eksogenik atau ketidakcukupan sekresi endogen progesteron.

10. Laktasi
Selama periode laktasi, kematian embrio dini dapat terjadi ternak sapi. Terjadinya kematian embrio dini ditandai dengan perpanjangan waktu siklus birahi setelah IB yang terakhir. Pengaruh buruk dari laktasi terhadap perkembangan embrio sampai saat ini belum jelas benar. Diduga ada hubungan dengan ketidakseimbangan hormonal selama laktasi, khususnya hormon progesteron terhadap kehidupan embrio dalam uterus. Tetapi, mungkin juga karena stress menyusui atau produksi susu yang tinggi menyebabkan embrio dalam uterus tidak cukup pakan untuk perkembangannya. Disamping itu ada kemungkinan bahwa proses involusi uteri yang belum sempurna setelah melahirkan, bila terjadi pembuahan dapat menurunkan kemampuan embrio yang terbentuk dalam mengadakan perlekatan pada dinding uterus pada proses implantasi, sehingga mudah terjadi kematian embrio dini.

11. Faktor kekebalan
Setelah proses pembuahan, pada tubuh induk terjadi persentuhan dengan antigen berasal dari sperma dan embrio. Jika mekanisme immunosupresi tidak berjalan dengan baik, maka antibodi yang terbentuk akan mengganggu kehidupan embrio di dalam uterus. Ketidakcocokan antara unsur kekebalan yang berasal dari induk dengan embrio dapat menyebabkan kematian embrio, kematian fetus atau pedet yang baru dilahirkan. Pada sapi penderita dengan golongan darah yang mengandung zat transferin (beta globulin) dan antigen “J” di dalam serum darah, dapat bertindak sebagai penyebab kematian embrio sehingga menimbulkan angka kebuntingan.

12. Kesuburan sperma
Waktu subur (fertile life) dari sperma berkisar antara 18-24 jam. Penyimpanan sperma (baik penyimpanan dingin maupun beku) dapat menurunkan kesuburan sperma. Kesuburan sperma yang menurun karena disimpan, mempunyai peranan dalam mendorong terjadinya kematian embrio dini. Dari pengalaman di lapangan tentang pengenceran dan penyimpanan sperma sapi pada suhu rendah menyimpulkan bahwa tidak ada akibat kematian embrio bila diinseminasikan pada sapi aseptor IB. Inseminasi buatan yang dilakukan pada induk sapi yang terlalu awal dari masa birahi, dapat menyebabkan sperma menjadi terlalu tua pada saat proses pembuahan. Akibatnya zigot yang terbentuk dalam keadaan lemah, yang dalam perkembangannya akan diikuti oleh kematian embrio dini.

Minggu, 18 Oktober 2009

Distomatosis Pada Hewan Qurban


Produksi daging sapi meskipun menduduki ranking kedua setelah produksi daging unggas, tetapi sampai saat ini masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan daging secara keseluruhan.

Kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas peternakan rakyat adalah peternak masih berpikiran beternak adalah usaha sambilan. Usaha yang perlu ditempuh adalah memperbaiki tatalaksana budidaya mulai dari pemilihan bibit, pakan, pemeliharaan sampai pakan termasuk di dalamnya manajemen kesehatan (Anonim, 2001).

Berkaitan dengan masalah pemeliharaan, masih banyak yang harus mendapatkan perhatian agar angka kelahiran dapat ditingkatkan setinggi mungkin sedangkan angka kematian dapat ditekan serendah mungkin. Pengendalian terhadap penyakit infeksius maupun non-infeksius seperti parasit sering dianggap sepele dan kurang diperhatikan karena serangan yang tidak berbahaya umumnya tidak jelas dan serangan parasit kebanyakan bersifat subklinik (Subronto dan Tjahajati, 2001).

Pada umumnya parasit merugikan kesehatan hewan maupun manusia, dari sudut pandang ekonomi kerugian terjadi akibat rusaknya organ karena parasitnya sendiri, kematian ternak dan biaya yang harus ditanggung untuk pengendaliaanya. Kerugian ekonomi akibat cacing berupa perkembangan tubuh ternak terhambat, sedangkan pada sapi dewasa kenaikan berat badan tidak tercapai, organ tubuh rusak dan kualitas karkas jelek, menurunnya fertilitas dan predisposisi penyakit metabolik. Hal ini disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, perubahan distribusi air, elektrolit dan protein darah (Anderson and Waller, 1983).

Hasil survei di beberapa pasar hewan dan rumah potong hewan di Indonesia menunjukkan bahwa 90% sapi yang berasal dari peternakan rakyat terjadi infeksi cacingan, seperti cacing hati (Abidin, 2002). Sedangkan data pada Dinas Peternakan Propinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2004 sebanyak 7903 kasus penyakit cacing (helminthiasis) meningkat 60,2% dibanding kejadian serupa pada tahun 2003 sebanyak 3142 kasus (Anonimus, 2005).

Menurut Suweta (1982) pada ternak sapi tiap tahunnya terjadi kerugian sebesar 20 milyar rupiah akibat penyakit cacing hati dengan perkiraan hilangnya daging sebesar 5 - 7,5 juta kilogram karena penurunan berat badan. Kerugian sebesar ini hanya disebabkan oleh cacing hati (Fascioliasis) dan akan jauh lebih besar lagi bila dihitung kerugian yang diakibatkan oleh cacing lain. Kerugian yang jumlahnya tidak kecil akibat penyakit cacing ini merupakan suatu problem yang sangat dilematik dalam usaha bidang peternakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk peternakan.

Penyakit cacing ini pada berbagai kasus. Umumnya menyerang ternak yang dipelihara dengan tata laksana kurang baik, khususnya ternak yang berumur muda. Pada ternak sapi Bali yang telah diketahui lebih resisten terhadap parasit dibandingkan bangsa sapi Eropa yang ada di Indonesia masih banyak ditemukan terinfeksi cacing.

Geografis Indonesia yang terletak di daerah sangat basa (super humid climatic area). Dengan demikian pengaruh kekeringan tidak pernah berlangsung lama hingga dapat mematikan stadia di alam bebas, sedangkan suhu udara sepanjang tahun adalah optimal bagi kelangsungan hidup stadia infeksi cacing untuk berkembang. Oleh karenanya ketahanan hidup /survival rate stadia infektif di luar hospes (ternak sapi) tinggi dan populasi stadium infektif meningkat dengan cepat.

Fascioliasis pada ternak sapi ini mempunyai prevalensi yang tinggi karena sapi yang dipelihara secara ekstensif, dimana untuk dapat makanan sapi mencari sendiri sehingga tidak menjamin baik secara kuantitas maupun kualitas mendapat makanan sesuai dengan kebutuhannya. Kekurangan makanan akan menyebabkan ternak mengalami malnutrisi.

Padahal diketahui bahwa sapi yang memperoleh makanan yang cukup dan bermutu baik akan lebih resisten terhadap infeksi cacing. Sebaiknya sapi yang mengalami malnutrisi akan lebih peka.

Global Warming Dan Penyakit Hewan

Global warming (pemanasan global) merupakan salah satu isu yang sangat penting di seluruh dunia saat ini, selain terorisme. Para kepala negara di seluruh dunia selalu menyempatkan diri membahas isu ini pada momen-momen pertemuan tingkat regional maupun internasional. Begitu pentingnya isu ini, baru-baru ini panitia pemberi Nobel, The Norwegian Nobel Committee menganugerahkan Nobel Perdamaian kepada mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Albert Arnold (Al) Gore Jr, dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atas usahanya untuk membangun dan menyebarkan pengetahuan tentang global warming pada masyarakat dunia.

Global warming merupakan istilah yang menunjukkan peningkatan suhu rata-rata udara permukaan bumi dan lautan pada dekade terakhir dan peningkatan suhu ini masih akan terus berlangsung. Suhu udara rata-rata permukaan bumi meningkat 0.74 + 0.18 C dalam 100 tahun terakhir. Sedangkan IPCC memprediksi bahwa suhu global cenderung meningkat sebesar 1.1 sampai 6.4 C antara tahun 1990 dan 2100. Peningkatan suhu bumi sebenarnya dapat terjadi secara alami, namun penyebab utama global warming ini adalah tingginya level greenhouse gases, terutama CO2 dan metan di atmosfer akibat aktifitas manusia, seperti tingginya laju pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan fungsi lahan terutama deforestasi.

Ada beberapa istilah lain di dalam literatur selain global warming yang biasa digunakan untuk menunjukkan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, yaitu climate change dan anthropogenic climate change.

Global warming telah terbukti memiliki dampak yang sangat luas pada kesejahteraan dan kesehatan manusia. Banyak literatur yang menyebutkan bahwa global warming turut bertanggungjawab terhadap terjadinya becana-bencana alam di belahan bumi ini, seperti gelombang panas, badai-badai tropis, banjir besar, ataupun kekeringan berkepanjangan yang melanda beberapa negara beberapa tahun terakhir ini. Selain menelan korban jiwa, bencana-bencana tersebut telah menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, dan sosial yang sangat besar. Meningginya level permukaan laut akibat global warming juga telah menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat penghuni pulau-pulau kecil di beberapa negara akan keberadaan tempat tinggalnya pada beberapa tahun yang akan datang.

Global warming juga diyakini sebagai penyebab munculnya wabah penyakit-penyakit yang disebarkan oleh vektor. Dimana, perubahan iklim dapat merubah pola distribusi dari vektor-vektor tersebut dan juga mempengaruhi laju reproduksi dan maturasi dari agen infektif yang ada di dalam tubuh vektor. Kondisi inilah yang diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian Malaria dan Dengue pada beberapa negara, termasuk Indonesia.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Obat Generik Untuk Hewan, Kenapa Tidak?

Obat merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan hewan, selain dapat menghilangkan gejala dari suatu penyakit, obat juga mencegah timbulnya penyakit dan bahkan obat digunakan untuk penyembuhan. Alasan klasik atau klise selama ini adalah harga obat mahal, terutama dalam manajemen kesehatan hewan ternak yang memang berdasarkan azas untung dan rugi. Beda dengan kesehatan manusia yang berapapun harga obat tetap harus dibeli untuk demi nyawa yang tidak bisa dihargai dengan uang. Karena itu pada pengobatan manusia dikenal obat generik yang harganya lebih murah dibanding dengan obat paten, tanpa mengurangi khasiat dan keamanan obat itu. Bagaimana dengan obat generik untuk hewan ternak....?

Di kalangan ilmu pengobatan untuk manusia sudah lama pemerintah menganjurkan penggunaan obat generic yang dikatakan sebagai obat murah tetapi tidak murahan. Pembuatan obat generic juga harus mematuhi standar prosedur operasional tertentu, yaitu cara pembuatan obat yang baik (cpob). Sehingga kwalitas obat generic sama dengan obat patent atau obat bermerek.

Yang menjadikan harga obat generic lebih murah antara lain adalah bentuk kemasan biasanya multiple dose dalam dus atau kaleng yang jumlahnya banyak, tidak dipromosikan dengan merek dagang dan mungkin tidak perlu membayar hak paten. Promosi di media massa umumnya juga tidak menyolok yang biasanya hanya menunjukkan nama generic dan logo identitas produsennya (obat generic berlogo, OGB). Dengan perkataan lain, OGB memiliki mutu atau tidak ada alasan menilai OGB tidak sekhasiat obat paten, begitu pula keamanannya.

Mutu merupakan karakter produk yang paling menentukan dalam penggunanannya. Karena itu mutu dijadikan acuan untuk menetapkan kebenaran khasiat (efficacy) dan keamanan (safety) . Sehingga untuk mendapatkan kebenaran khasiat dan keamanan, mutu harus selalu diawasi dengan ketat pada pembuatan obat generic. Dengan pengawasan mutu yang sama ketatnya, harus dapat diyakini bahwa khasiat dan keamanan obat generic dan obat paten dapat sama satu terhadap yang lainnya. Prinsipnya bahwa obat generic sama khasiat dan keamananannya dengan obat paten atau mutu obat generic sama dengan mutu obat paten yang dikenal selama ini. Dalam pengertian kebijaksanaan obat nasional (KONAS) bahwa yang dimaksud obat meliputi obat untuk manusia dan obat untuk hewan. Sehingga kedua jenis obat itu harus diatur dan diawasi dengan seksama, antara lain mengantisipasi peredaran obat terhadap kemungkinan dapat merusak kesehatan masyarakat melalui kesehatan masyarakat veteriner, berkaitan dengan konsumsi bahan pangan asal hewan ternak yaitu susu, daging dan telur. Tidak menutup kemungkinan juga bahan pangan asal ikan

Obat generic umumnya mungkin juga hanya banyak digunakan pada unit pelayanan kesehatan milik pemerintah, sedangkan pelayanan kesehatan swasta mungkin juga orang cenderung memilih obat paten. Adanya suatu anggapan yang tentunya tidak benar bahwa obat patent lebih mahal tetapi lebih manjur daripada obat generic. Di lain fihak ada anggapan lain bahwa kesehatan manusia apalagi nyawa sangat mahal yang tidak dapat dihargai dengan sejumlah uang seberapapun. Artinya semahal-mahalnya obat orang akan berusaha membeli meskipun obat patent memang lebih mahal.

Sebaliknya pada pemeliharaan kesehatan hewan atau terutama hewan ternak dan lebih terutama lagi di tingkat petani ternak sangat memperhitungkan azas benefit-cost ratio dalam pembelian obat. Banyak pertimbangan nilai ekonomis yang perlu diperhitungkan. Misalnya tidak ada artinya menganggarkan obat pada hewan ternak yang prognosanya infausta. Atau lebih baik beberapa ekor yang sudah tertular dilakukan stamping out (test and slaughter) untuk mencegah penularan pada kelompok masih sehat yang lebih banyak. Atau pertimbangan tidak ada artinya hewan ternak sakit diobati sampai sembuh tetapi setelah sembuh tidak produktif. Oleh karena itu dalam penata laksanaan manajemen kesehatan hewan ternak perlu kiranya dipertimbangkan penggunaan obat generic, terutama obat-obat esensial yang selama ini nampaknya belum ada.

Selain itu bagi dokter hewan praktisi tentu lebih praktis karena dapat digunakan untuk semua spesies hewan dengan memperhatikan dosis berdasarkan berat badan dan mengetahui konsentrasi obat tersebut. Pengertian obat esensial adalah obat pilihan yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, preventif profilaktif, kuratif atau terapi dan rehabilitasi. Diharapkan dengan aneka ragam dan jenis obat generic dalam daftar obat esensial, dijamin sudah dapat dijadikan dasar upaya medis veteriner untuk mengatasi semua masalah patologis berdasarkan atas pola penyakit yang memerlukan invasi dan intervensi obat-obatan.

Dalam penerapan pengobatan terhadap hewan terdapat beberapa variabelitas, antara lain spesies, berat badan, umur dan karakteristik pola pencernaan (herbivore, carnivore, omnivore) yang membutuhkan pertimbangan secara khusus terutama dalam penentuan dosis dan aplikasi obatnya. Di lain fihak setiap obat juga mempunyai karakteristik aplikasi berdasarkan sifat bahan sediaan suatu obat itu. Penentuan dosis pada hewan secara generic umumnya berdasarkan berat badan dan atau umur yang kedua-duanya dapat diasumsikan saling mempunyai korelasi. Artinya hewan pada umur tetentu secara normal seharusnya mempunyai berat badan tertentu dan atau sebaliknya pada berat badan tertentu seharusnya dicapai dalam umur yang tertentu pula. Tetapi dalam pelaksanaannya umumnya berat badan lebih sering dipakai sebagai acuan daripada umur. Karena lebih praktis menentukan berat badan sewaktu-waktu dengan melihat posturnya dibanding mengingat umur hewan. Lebih akurat lagi pada hewan ternak sapi terdapat rumus perhitungan untuk menentukan berat badan (BB), berdasarkan ukuran panjang lingkar dada (LD) melalui rumus Schoorl.

Sedang untuk mementukan dosis obat generic, diperhitungkan melalui mengalikan BB dengan dosis generic per kg BB (table referensi) dan dibagi dengan konsentrasi kemasan obat generiknya : Masih banyak perihal obat generic yang perlu dibicarakan, antara lain tabulasi dosis generic per kg BB dari berbagai referensi. Mudah-mudahan dengan terbentuknya Ikatan Farmasi Veteriner Indonesia (IKAFARVETI), menjadi salah satu program kerja, minimal dipertimbangkan. Selamat Bekerja

Rumus Schoorl BBkg = (LDcm + 22)² 100

MENGHITUNG DOSIS PENGOBATAN OBAT GENERIK

1. Obat cair = dosis generic mg/kg.BB X BBkg (injeksi, sirup) konsentrasi obat, mg/ml, IU/ml

2. Obat padat = dosis generic mg/kg BB X BBkg (powder, konsentrasi obat, mg/g, IU/mg tablet, kapsul, kaplet, sachet, bolus)

Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir 

Meningkatkan Efisiensi Reproduksi Melalui Kelahiran Pedet Kembar

Sebagaimana diketahui bahwa alam telah menciptakan berbagai spesies hewan dengan spesifikasi dan karakteristik yang tidak sama. Pada sapi mempunyai uterus yang dikenal dengan tipe bikornua. Pada kornua uterus inilah terjadinya proses kebuntingan. Karena sapi lebih sering dikenal dengan sebutan beranak tunggal, maka hanya satu kornua uterus saja yang selama ini melayani kebuntingan. Pada kebuntingan kembar alami umumnya juga terjadi didalam salah satu kornua uterus. Sehingga kornua uterus yang sebelah menganggur selama masa kebuntingan. Kornua uterus inilah perlu diberdayakan juga untuk menampung kebuntingan, sehingga diperoleh kebuntingan kembar, bahkan kembar lebih dari dua ekor.

Salah satu tujuan pemberdayaan dan penerapan bioteknologi reproduksi antara lain adalah memperoleh efisiensi dan efektifitas siklus reproduksi yaitu menghasilkan keturunan. Sebagai indikator keberhasilan budidaya peternakan adalah perkembang biakan yang identik dengan produktivitas, terutama pada budidaya ternak yang memang bertujuan untuk breeding. Lebih rinci lagi tepatnya adalah terpenuhinya calving interval yang ideal atau rata-rata setiap tahun dapat menghasilkan anak keturunan.

Calving internal sapi perah 365-390 hari dan sapi potong 420-450 hari. Selama ini secara alami sebagian besar sapi melahirkan hanya satu ekor pedet. Kejadian kelahiran kembar alami masih sangat rendah. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian oleh para peneliti dan praktisi.

Melalui pemberdayaan biteknologi reproduksi, seekor sapi betina dapat diatur agar mampu bunting dan melahirkan pedet kembar untuk mempercepat peningkatan populasi. Menurut Echterkamp (1992) kapasitas uterus dapat ditingkatkan mengandung tiga fetus per kornua uterus, bahkan lebih. Sedang menurut Seike, dkk (1989) dapat menghasilkan 143,3% kelahiran pedet, dibanding jumlah induk yang mengandung pada induksi kebuntingan kembar. Kebuntingan kembar selama ini adalah kembar dua yang diposisikan di masing-masing kornua uterus kanan dan kiri.

Dalam kebuntingan kembar dua secara alami atau tidak diprogram umumnya terjadi dalam salah satu kornua uteri yang ipsilateral dengan keberadaan corpus luteum (CL). Namun dalam membuat kebuntingan kembar dua (terprogram dengan transfer embrio) sebaiknya dilakukan dengan cara penempatan bikornua atau masing-masing kontra lateral dan ipsilateral terhadap CL. Selain menghindari kemungkinan terjadinya kembar free martin, program kembar dua cara ini lebih efektif keberhasilannya (Hart Elock, et al.1990).

Secara teoritis kebuntingan ipsilateral maupun kontra lateral terhadap CL tidak berpengaruh secara nyata, asal fungsional CL gravidarum prima dalam menghasilkan hormon progesteron untuk memelihara kebuntingan. Kebuntingan kembar membutuhkan CL gravidarum fungsional sekurang-kurangnya sejumlah fetus kembar itu untuk menjaga stabilitas uterus dalam memelihara kehidupan intra uterin (Knickerbocker, 1986 dan Hafez, 1993). Karena itu dalam setiap program kebuntingan kembar hendaknya dipersiapkan dengan pembentukan CL lebih dari satu melalui cara superovulasi dosis ringan dengan hormon gonadotropin.

Dua fetus per kornua uterus memang suatu angka yang fantastis, apalagi tiga fetus. Berarti seekor sapi betina dapat diprogran bunting kembar antara 2-6 fetus selama masa kebuntingan. Kapasitas dan kemampuan salah satu kornua uterus dalam menampung kebuntingan kembar tentu sangat terbatas. Disadari atau tidak bahwa selama ini belum ada hipotesa apalagi penelitian (?) yang mengurai fungsi lain cavum uterus yang nota bene lebih luas daripada lumen kornua uterus.

Fungsi cavum uterus atau tepatnya bagian endometrium yang dikenal selama ini adalah menghasilkan hormon prostaglandin (PGF2α) sebagai faktor luteolitik terhadap fungsional CL periodicum dalam rangkaian siklus birahi. Fungsi lain cavum uterus hanya sebagai jalan melintasnya sel spermatozoa dari vagina (proses kawin alam) atau dari servik uterus (proses IB) menuju ke tuba falopii untuk bertemu dengan sel telur dalam proses fertilisasi. Selain itu juga cavum uterus hanya sebagai jalan lintasan keluarnya fetus pada proses kelahiran

Karena tidak memungkinkan seberapapun elastisitas kornua uterus dalam menampung perkembangan kebuntingan kembar, apalagi sampai tiga fetus per kornua uterus. Maka cavum uterus yang relatif lebih luas daripada lumen kornua uterus patut dapat diduga atau merupakan suatu hipotesa sebagai penampung perkembangan fetus dan perluasan selaput fetus (plasenta) dalam kebuntingan kembar. Mengingat luasnya cavum uterus dan daya elastisnya, bukan tidak mungkin pada suatu ketika nanti seekor sapi induk betina dapat diprogram untuk bunting kembar 4-6 atau 2-3 fetus per kornua uteri.

Berbagai cara dapat ditempuh untuk menciptakan kebuntingan kembar, antara lain melalui cara IB. Dalam hal ini harus ada lebih dari satu sel telur setiap ovulasi, sehingga perlu ditempuh dengan induksi superovulasi dosis ringan agar tidak terlau banyak sel telur yang terbuang selain efisiensi nilai ekonomis harga hormon gonadotropin. Cara lain untuk membentuk kebuntingan kembar adalah dengan transfer embrio (TE), yaitu dengan menempatkan embrio dalam masing-masing kornua uterus. Atau kombinasi antara IB dan TE, yaitu pada waktu birahi dilakukan IB sebagaimana prosedur selama ini dikenal dan seminggu (6-8) hari kemudian dilakukan TE dengan posisi kontra lateral dengan keberadaan CL. Posisi ipsilateral dengan CL sudah ditempati oleh fetus hasil dari IB.

Variasi dalam program kelahiran pedet kembar juga memungkinkan untuk penerapan kombinasi antara kelahiran sapi perah dan atau sapi potong sesuai dengan kebutuhan. Di lain fihak juga memungkinkan penerapan jenis preservasi embrio, misalnya embrio beku dan embrio segar. Juga asal muasal pembuatan embrio antara embrio invivo dan atau embrio invitro.

Jumat, 16 Oktober 2009

Masalah dan Penanganan Pada Cacing


Sampai saat ini cacing masih menjadi masalah di hewan peliharaan kita terutama pada anjing kesayangan kita. Cacing adalah hewan jenis parasit didalam tubuh anjing, karena cacing hidup di 2 bagian tempat, yaitu hidup pada jaringan pencernaan (dasar usus) dan ada yang hidup pada jaringan tubuh yaitu terdapat pada hati , paru dan jantung.

Cacing cacing ini sangatlah mengkhawatirkan kita sebagai penyayang anjing, bahkan dapat mematikan pada hewan peliharaan kita karena cacing yang bertumpuk didalam tubuh hewan tersebut. Oleh karna itu sangatlah perlu kita perhatikan masalah cacing pada hewan peliharaan kita, terutama pada anak anjing, karena anak anjing sejak didalam kandungan induknya sudah dititipkan telur cacing didalam plasentanya, sehingga anak anjing lahir sudah membawa benih cacing dan setelah lahir sang anak menyusu pada induknya sehingga si anak kembali mendapat benih cacing yang ikut melalui air susu induknya.

Maka tidak jarang anak anjing pada usia 3 minggu bahkan baru beberapa hari anak anjing sudah mencret kotorannya seperti biji cabe, berarti benih atau telur cacing sudah menetas didalam tubuh anak anjing tersebut. Sehingga pada usia 3 minggu tidak jarang terjadi anak anjing sudah terjadi berak darah yang apa bila tidak segerah ditangani akan menimbulkan kelemahan pada si anak anjing diantaranya terjadi anemia dan kurangnya zat besi didalam tubuh anak anjing.

Pada posisi lemah, ditubuh anak anjing tersebut menguat virus Vorvo sehingga menyebabkan kematiaan yang fatal serta menularkan kepada beberapa saudaranya.

Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya hal hal yang tidak diinginkan seperti yang tertera diatas, sebaiknya anak anjing di usia 2 minggu, kita sudah harus menberikan obat cacing kepada anakan tersebut agar benih cacing muda cepat dibasmi dengan pemberian dosis disesuaikan berat badannya atau dosis 300 mg / 10 kg berat badan selama 2 atau 3 hari berturut.

Tapi ingat sampai saat ini tidak ada jenis obat cacing yang dapat mematikan telur cacing, berarti yang kita matikan sampai saat ini adalah cacingnya saja,
Setiap hari telur cacing menetas, sehingga di usia 2 minggu cacing tersebut telah menjadi dewasa dan siap bertelur kembali dan seterusnya.

Mengapa berak darah ?
Untuk cacing pita dan cacing kait khususnya mempunyai caling dan melekat pada dinding usus, pada saat cacing itu berpindah tempat bekas gigitan meninggalkan luka yang mengeluarkan darah dan terbawa ke kotoran (tergantung jumlah banyaknya cacing).

Untuk cacing pencernaan, apabila anak anjing mendapatkan makanan, cacing merebut makanan tetapi pada saat tidak terisin makanan dan didalam usus menjadi kosong, maka cacing menggerogoti dinding usus sehingga terjadinya berak darah yang parah.

Pada saat disinilah anak anjing menjadi sangat lemah dikarenakan banyaknya darah yang keluar yang biasanya juga diikuti dengan diare yang parah yang menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan seksama.

Pemberian obat cacing
Pemberian obat cacing sebaiknya untuk anakan dimulai dari usia 2 minggu dengan pemberian 2 atau 3 hari berturut untuk pembersihan awal. Pemberian obat cacing diulang 1 minggu kemudian dengan pemberian 2 hari berturut. Pemberian selanjutnya dilakukan 2 minggu sekali (2 hari berturut) dan dilakukan dengan rutin sampai anak anjing sampai ber usia 7 bulan, agar anak anjing dapat berkembang dengan baik dan memutus siklus perkembangan cacing didalam tubuh.

Pemberian obat cacing setelah anakan berusia 7 bulan dsebaiknya dilakukan setiap bulan secara rutin.

Apabila pemberian obat cacing terlalu jauh jarak pemberiannya misalnya 3 bulan sekali atau 6 bulan sekali, sehingga cacing sudah berkembang lebih banyak, sehingga anjing diusia 7 bulan keatas banyak timbul masalah, diantaranya : susah makan, lebih suka daging segar, badannya tidak dapat gemuk sehingga perkembangan anak anjing tidak dapat berkembang dengan baik dikarenakan anjing kekurangan darah yang sebagian dihisap oleh cacing-cacing pada jaringan tubuh.

Cacing jaringan tubuh
Jenis cacing jaringan tubuh apabila sudah terlalu banyak (cacing hati, paru, jantung) dapat dituntaskan setelah pemakaian obat cacing dengan rutin setelah pemakaian 80 dosis /setelah pemberian 80 kali.

Penanganan setelah pemberian obat cacing sebaiknya diikuti dengan pemberian vitamin fe dan zink, dengan pemberian vitamin fe dan B12 atau dengan meninjeksikan INTRAFER - 200 B12 yang berfungsi sebagai pengobatan anemia akibat proses keadaan gizi yang tidak seimbang akibat penyakit parasit dan penyakit infeksi dengan kehilangan darah serta defisiensi zat besi dan vitamin b12.

Pemberian obat cacing dengan cara program secara berkala ini berfungsi juga sebagai program vaksin di usia 7 minggu ( EURICAN 4 ) atau 2 bulan dengan eurican 6.

Anak anjing bebas cacing berarti anak anjing anda bebas dari penyakit PARVO yang sangat mematikan.

Oleh Darryl

Artritis Pada Anjing

Artritis pada anjing adalah suatu penyakit kronis yang biasanya terjadi pada anjing setengah tua dan tua. Pada artritis terjadi peradangan pada sendi dan biasanya disertai dengan rasa sakit, bengkak, kaku pada sendi. Penyebab dari arthritis yang paling umum adalah usia tua (Aging) dan karena adanya suatu struktur persendian yang tidak normal misalnya Hips Dysplasia. Dalam kondisi tersebut Artritis juga disebut dengan nama Degenerative Joint Disease. Penyebab lain dari arthritis adalah karena trauma, infeksi, kelainan metabolisme, dan sebab-sebab lainnya.

Rata-rata usia dimana mulai muncul arthritis berbeda beda tergantung dari ukuran anjing. Makin besar ukuran anjing maka akan semakin cepat menampakkan gejala arthritis. Anjing ras kecil yang memiliki berat tubuh dibawah 5 kg biasanya tidak akan menampakkan gejala arthritis sebelum mereka berusia 9 tahun. Anjing dengan berat tubuh antara 5-15 kg menampakkan gejala pada usia 8 tahun, berat badan 15-30 kg pada 7 tahun, 30-40 kg pada usia 6 tahun, dan anjing diatas 40 kg pada usia 5 tahun.



Stadium dari arthritis dapat dibedakan menjadi 4 stadium:
Stadium pertama: anjing kadang mengalami pincang dan sulit menaiki tangga atau malompat ke tempat yang lebih tinggi.
Stadium kedua: anjing mengalami kesakitan pada satu atau beberapa kaki setelah berjalan jauh/exercise, dan mengalami kesulitan bangun setelah berada dalam posisi tidur/istirahat. Anjing mengalami kesulitan melompat, dan kesakitan bila menaiki tangga. Dapat terlihat pengurangan masa otot pada daerah paha.
Stadium ketiga: Anjing sangat kesakitan setelah exercise, dan kadang tidak sanggup untuk bangun setelah posisi istirahat. Anjing tidak dapat melompat dan sangat sulit untuk menaiki tangga. Nampak pengurangan masa otot yang banyak pada daerah paha.
Stadium keempat: anjing tidak dapat bangun tanpa bantuan dan tidak dapat berjalan atau melakukan aktivitas normal.

Gejala umum dari semua stadium tersebut adalah anjing menjadi tidak aktif dan murung, yang lama-kelamaan akan berpengaruh pada kesehatan pada umumnya, di mana aktivitas harian anjing seperti bermain dan berlarian tidak dapat dilakukan dengan baik.



Apa yang dapat dilakukan untuk menangani arthritis?


Sama dengan kondisi aging/degeneratif lainnya, artritis tidak dapat disembuhkan. Yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pengobatan/terapi sedini mungkin agar mencegah progress penyakit ini berjalan ke tahap yang lebih serius.

Pada dekade yang lalu pengobatan dari arthritis masih terbatas pada pemberian obat-obatan anti inflamatori/antisakit yang ditujukan untuk menekan rasa sakit sehingga anjing dapat kembali beraktivitas normal. Sayangnya, pemberian anti sakit saja tanpa disertai dengan supplement/obat-obatan lain hanya menghilangkan rasa sakit/gejala untuk sementara. Anjing tidak merasakan sakit lagi sehingga mereka terinduksi untuk melakukan exercise dengan keadaan sendi yang tidak baik dan tidak dilengkapi dengan cairan sinovial yang memadai, sehingga pada akhirnya dapat memperparah kondisi dari sendi tersebut sendiri.



Dengan perkembangan industri obat-obatan sekarang ini telah banyak sekali supplemen yang beredar dan dapat sangat membantu kondisi Artritis. Beberapa diantaranya adalah sebgai berikut:
Glucosamin HCl dan Chondroitin Sulfat. Kedua jenis suplemen ini biasanya tergabung menjadi 1 tablet. Suplemen ini merupakan suplemen utama yang paling banyak digunakan untuk arthritis. Kedua suplemen ini menstimulasi perbaikan dari tulang rawan yang rusak karena arthritis. Sebaiknya memilih merk berkualitas baik dan tidak menggunakan suplemen untuk manusia, karena kadang ada beberapa aditif yang tidak sesuai untuk anjing.
Herbal medicines / obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan. Beberapa dari mereka dapat mengurangi rasa sakit dan peradangan pada arthritis serta mempermudah pergerakan sendi.
Ester C adalah vitamin C yang tidak bersifat asam bagi lambung, dan dapat membantu untuk mengurangi gejala arthritis dengan memperbaiki struktur jaringan kolagen. Selain itu bersifat antioksidan yang meningkatkan daya tahan tubuh anjing tua. Produk yang ditujukan untuk manusia dapat digunakan pada anjing.
Omega 3 fatty acid. Berasal dari minyak ikan, suplemen ini sudah sejak lama digunakan untuk menjaga kesehatan pada anjing2 tua, dan bersifat anti peradangan dengan menghambat aktivitas radang dari Prostaglandin.
Perna Canaliculus adalah kerang hijau/ Green Lipped Mussel dari New Zealand, yang mengandung banyak omega 3 dan 6, dan bekerja sangat baik untuk mengurangi rasa sakit pada Artritis.

Pemilik anjing dapat memilih salah satu dari suplemen tersebut atau menggunakan gabungan beberapa dari mereka, tergantung dari kondisi anjing yang bersangkutan. Namun harus diingat karena suplemen tersebut bersifat natural/nutraceutical maka hasil baru akan nampak perlahan-lahan secara bertahap, kurang lebih setelah 3 minggu-1 bulan penggunaan.

Selain dari pemberian suplemen, sangat penting bagi pemilik anjing untuk menjaga berat badan anjing di kisaran normal/ideal, karena arthritis diinduksi dan diperparah dengan kondisi anjing yang overweight. Untuk meningkatkan kesehatan anjing tua dan menjaga agar berat badan berada dalam kisaran ideal adalah dengan memberikan makanan khusus dengan formulasi senior. Sebaiknya memilih produk dengan kualitas premium dan super premium. Beberapa produk dog food sudah membuat formulasi khusus untuk memelihara kesehatan persendian.

Exercise penting untuk tetap dilakukan, namun lebih baik dilakukan dengan teratur dan tidak terlalu berat. Exersice yang teratur dan gentle akan merangsang pembentukan cairan sinovial yang dibutuhkan untuk aktivitas sendi, dan membuat anjing selalu berada dalam mood yang baik sehingga secara keseluruhan akan meningkatkan kesehatan anjing senior/tua.

Pada tahap arthritis yang lebih serius maka suplemen herbal dan nutraceutical saja mungkin tidak akan cukup untuk meredakan gejala arthritis. Obat-obatan anti sakit dan anti radang dapat diberikan sesuai kebutuhan/sesekali bila anjing mengalami rasa sakit. Beberapa dari mereka yang sudah banyak digunakan adalah Carprofen (Rimadyl) dan Meloxica (Metacam). Penggunaan agen anti sakit untuk jangka waktu yang panjang harus selalu dimonitoring oleh dokter hewan. Berdasarkan pengalaman praktek kami penggunaan nutraceutical yang digabungkan dengan anti radang konvesional akan menunjukkan hasil jauh lebih baik dibandingkan hanya menggunakan obat-obatan anti radang saja. Beberapa agen anti sakit natural misalnya Duralactin sudah beredar di pasaran namun kami belum pernah mencoba menggunakan.

Bila keadaan arthritis anjing sudah sangat lanjut maka terapi dengan injeksi dapat dilakukan. Obat yang sudah beredar di pasaran adalah Adequan ( Glycosaminoglycan Polysulfate) dan Cartrophen (Pentosan Polysulfate) yang keduanya bersifat Chondroprotective agents (menstimulasi pembentukan tulang rawan). Dokter hewan dapat memberikan injeksi ini dengan melakukan pemeriksaan kesehatan anjing terlebih dahulu, karena ada beberapa hal yang perlu diketahui, misalnya kondisi pembekuan darah, parameter hati dan ginjal, dll.

Alternatif terapi lainnya adalah dengan melakukan terapi akupuntur pada anjing dengan arthritis yang tidak berespon baik hanya dengan suplemen dan anti sakit/radang. Di manca negara akupuntur telah dipraktekkan secara luas untuk membantu anjing dengan arthritis dan hips displasia.

Berdasarkan praktek kami mengambil kesimpulan bahwa arthritis pada anjing tua tetap dapat dikontrol dengan pedeteksian dini, berat badan dan diet yang terjaga, pemberian suplemen yang baik, exersice teratur dan lembut, serta didukung oleh obat-obatan kedokteran hewan konvensional. Dengan usaha kita untuk mengontrol penyakit ini maka sahabat terbaik kita dapat hidup dengan kualitas yang lebih baik untuk mendampingi kita.
Drh. Yulyani dan kawan2