Tampilkan postingan dengan label Zoonosis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zoonosis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2013

Tanda - Tanda Ayam yang Terserang Virus H5N1 Clade 2.3

Pada bulan februari yang lalu, kita telah di kejutkan oleh kematian itik ataupun bebek secara masal. Dan setelah di memalui pemeriksaan lab, kematian itik-itik tersebut di karenakan oleh infeksi dari virus Flu Burung (H5N1) Clade 2.3 dan menimbulkan dampak kerugian yang sangat luarbiasa.
Sebenarnya virus clade 2.3 sudah lama ada, namun tidak menimbulkan kerugian yang berarti. Itik cenderung tidak menunjukkan gejala-gejala sakit jika terinfeksi oleh virus ini, Namun di perkirakan karena virus flu burung tersebut mengalami mutasi, sehingga itik yang terserang virus ini akan menunjukkan gejala sakit.

Lebih parahnya lagi, virus yang menyerang pada itik tersebut mampu menginffeksi ayam. Angka kematian ayam yang terinfeksi virus H5N1 Clade 2.3 ini sungguh tinggi. Saya baru saja mendapati kasus ayam yang terinfeksi AI clade 2.3 dan ciri-cirinya hampir mirip ND + Gumboro.
  1. Ovarium merah (ada penggumpalan darah)
  2. Tortikolis (leher ayam berputar seperti kasus ND syaraf)
  3. Perdarahan di trakea
  4. Vaskodilatasi (perbesaran vena) di daerah penggantung usus
  5. Ginjal Bengkak 
Ginjal bengkak inilah yang mengakibatkan kematian pada ayam semakin tinggi. Jika kita tidak jeli, maka kesalahan diagnosa dan pengobatan bisa berakibat sangat fatal karena pemberian antibiotik pada kondisi ginjal yang membengkak itu sama saja bunuuh diri.

Untuk mengatasi hal ini, kita hanya bisa berupaya "menekan angka kematian" dengan cara:
  1. Lakukan segera re-vaksinasi menggunakan vaksin AI secara masal.
  2. Tambahkan hexamine (Desinfeksi saluran kemih) dalam minumnya untuk memperbaiki fungsi ginjalnya yang bengkak.
  3. Semprot kandang pagi dan sore menggunakan desinfektan yang mengandung BKC atau jika ingin lebih bagus gunakan iodin sebagai obat semprot. Semprot pagi di bawah jam 10, sore di atas jam 2.
  4. Perbaiki ransum pakannya dengan menggunakan pakan yang berprotein tinggi.
  5. Lakukan biosekuriti yang ketat.
  6. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. :D

Kamis, 28 Oktober 2010

Pulpy Kidney

Sinonim: Enterotoxemia, Overeating disease, Milk Colic, Apoplexy

Pulpy Kidney adalah kejadian keracunan pada domba, bersifat akut dan fatal, disebabkan oleh absorbsi yang terbentuk oleh bakteri Clostridium welchii tipe D, yang berada dalam usus.

Kuman ini juga disebut Clostridium perfingens oleh Velon dan Zuber. Clostridium welchii tersebar luas di dalam tanah dan terdapat dalam usus hampir semua hewan berdarah panas. Didalam tubuh, kuman terdapat dalam lumen usus dan keluar ke jaringan usus pada waktu hewan mati. Beberapa tipe dari kuman ini menyebabkan toxemia yang fatal pada domba, anak sapi, anak babi dan manusia.


Etiologi
Clostridium welchii disebut juga Clostridium perfingens, Bacillus aerogenes capsulatus, Bacillus plegmonis emphysematousae, Welch bacillus, Bacillus paludis, Clostridium ovitoxicum dan Gas bacillus, adalah bakteri berbentuk batang, tunggal atau berpasangan, jarang membentuk rantai kadang berbentuk filamen. Ukuran 4-8 mikron, membentuk spora besar dan oval, terletak subterminal atau sentral. Pada suasana asam pembentukan spora terhambat. Kuman ini non motil, dapat membentuk kapsul dan bersifat Gram positif pada biakan muda, sedang pada biakan tua bersifat Gram negatif.

Clostridium welchii tumbuh pada media umum dalam keadaan anaerob dan suhu optimum 37°C. Pada lempeng agar membentuk koloni halus, bulat tepinya rata, semitranlusen dan berwarna abu-abu. Dapat membentuk 2 tipe koloni.

1. Koloni kecil tipis, bersifat cepat menyebar, terdiri dari kumpulan bakteri berbentuk filamen.
2. Koloni mukoid, melekat pada permukaan media.

Pada biakan cair membentuk kekeruhan yang merata, sedang pada bagian bawah membentuk endapan yang tebal. Pada agar darah membentuk 2 macam koloni, hemolytic dan non hemolytic. Dapat mencairkan gelatin, mengkoagulasi litmus milk serta membentuk gas. Membentuk asam dan gas pada media gula-gula, kecuali mannitol dan dulcitol.


Epizootiologi
Penyakit ini terdapat di Australia, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat. Kejadian di Indonesia belum diketahui dengan nyata.


Phatogenesis
Penyakit ini rentan terhadap domba, sapi kambing, kuda dan manusia. Kerenta terhadap penyakit ini juga faktor umur, umur muda lebih rentan daripada umur tua.

 
Cara Penularan Melalui peroral (saluran pencernaan). Timbulnya penyakit akibat penyerapan toksin yang dibentuk oleh kuman melalui selaput lendir usus.


Gejala Klinis
Masa tunas sangat pendek, kadang hanya 2-3 jam. Kebanyakan kasus diakhiri dengan kematian yang di dahului dengan tanda kekejangan, menghempaskan diri dan sesak nafas.

Penyakit dapat terjadi:

a. Bentuk saraf perakut : Hewan kejang, menghempaskan diri, sesak nafas dan mati dalam waktu singkat.
b. Bentuk subakut : Suhu normal dan hewan depresi
c. Bentuk digesi : Umumnya kronis, terdapat diare yang berbau busuk, hewan mungkin sembuh sendiri setelah satu minggu


Kelainan Patologi Anatomi
Perikardium berisi cairan berwarna kuning yang berlebihan. Pada endokardium terdapat ekimose. Terjadi kerusakan jaringan ginjal secara cepat sehingga ginjal melembek seperti bubur.


Diagnosis Banding
 a. Black disease, terdapat hemoglobinuria, diakhiri kematian yang tenang tanpa gejala konvulasi
b. Black leg, adanya gas gangrene disertai tanda krepitasi pada palpasi otot tebal
c. Anthrax, terjadi kematian mendadak disertai perdarahan dari lubang alami
d. Hypomagnesia


Pencegahan
Mencegah pemberian makanan butiran dalam jumlah besar dan mendadak


Imunisasi
- Imunisasi pasif diikuti dengan imunisasi aktif, terhadap hewan yang terserang
- Imunisasi aktif terhadap hewan bunting untuk mendapatkan anti toksin di dalam kolostrum yang bermanfaat bagi anak sapi yang baru lahir

Kamis, 15 Oktober 2009

Strategi Menghadapi Abad Zoonosis

Zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya) merupakan ancaman baru bagi kehidupan manusia di dunia. Berbagai fakta telah menunjukkan bahwa zoonosis berpotensi merugikan jauh lebih besar jika dibandingkan kerugian akibat perang. Perkembangan zoonosis dalam beberapa tahun terakhir menjadi tanda akan hadirnya ancaman yang mematikan bagi umat manusia. Jika tidak dikendalikan secara komprehensif maka perubahan pola zoonosis dapat terus muncul dan menyebar melintasi batas wilayah. Kondisi ini kian membuat dunia menjadi khawatir.

Sampai saat ini setidaknya tidak kurang dari 300 penyakit yang berasal dari hewan yang dapat menular ke manusia. Sebagian berpeluang menjadi wabah di suatu negara jika tidak ditangani dengan baik. Sebut saja rabies, antraks, BSE, SARS, flu burung, serta penyakit mulut dan kuku (PMK) yang membuat kita harus berpikir ulang untuk mengabaikan permasalahan ini. Dalam dua puluh tahun terakhir, 75% dari penyakit-penyakit baru (emerging diseases) pada manusia terjadi akibat perpindahan patogen hewan ke manusia atau bersifat zoonotik dan 1415 mikroorganisme patogen pada manusia yang telah diketahui sebesar 61,6% bersumber dari hewan (Brown 2004).

Simak saja kasus terakhir zoonosis bulan November 2008 kemarin dilaporkan 4 orang meninggal akibat rabies di Bali. Belum lagi jika kita melihat laporan dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang menyatakan bahwa lebih dari 250 foodborne disease (penyakit yang ditularkan melalui makanan). Sebagian besar penyakit tersebut bersifat infeksius yang disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, dan prion yang dapat dipindahkan melalui makanan serta tidak sedikit diantaranya adalah foodborne zoonosis (penyakit hewan yang ditularkan ke manusia melalui makanan).

Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan zoonosis meningkat dari waktu ke waktu dan seiring waktu semakin banyak korban yang diakibatkannya, sehingga kita memerlukan strategi dalam menghadapi zoonosis serta foodborne disease tersebut. Strategi tersebut tentu tidak bisa dilakukan oleh salah satu profesi saja mengingat ancaman zoonosis tidak hanya melibatkan manusia tetapi hewan sebagai sumbernya. Artinya kita memerlukan kerja sama yang baik antara profesi dokter dan profesi dokter hewan.

Jika kita berharap adanya kerjasama tersebut maka kita perlu melihat garis pembatas antara kedokteran dan kedokteran hewan sekarang ini lebih nyata dibandingkan abad-abad yang lampau, sesungguhnya pemisahan antara kedua disiplin ini mulai terbentuk di abad ke-20. Sejumlah alasan penyebab adalah secara geografis beberapa perguruan tinggi kedokteran dan kedokteran hewan tidak ditempatkan pada satu lingkup dan pengaturan akademik yang sama.

Faktor lain adalah pengaruh sosial. Namun ekologi dan mikrobiologi tidak diajarkan di kedokteran seperti halnya di kedokteran hewan, sehingga mahasiswa kedokteran tidak begitu menyadari pentingnya penyakit zoonotik bagi kedokteran. Tambahan pula, fokus perguruan tinggi kedokteran hewan juga bergeser lebih ke hewan ternak dan hewan kesayangan untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Lebih lanjut kita juga perlu mengintegrasikan sistem pendidikan di lingkup dan antara perguruan tinggi kedokteran, kedokteran hewan dan kesehatan masyarakat. Upaya ini juga dimaksudkan untuk menghimbau peningkatan komunikasi lintas disiplin dalam berbagai kesempatan, baik itu seminar, konferensi, jurnal, kuliah, maupun pengembangan jaringan (networking) di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu kunci keberhasilan dalam menghadapai zoonosis dan foodborne disease adalah terjalinnya kemitraan yang sinergis antara Kedokteran, Kedokteran Hewan dan Kesehatan Masyarakat tidak hanya dalam tingkat profesi tetapi juga tingkat mahasiswa. Strategi ini tentu tidak bisa berjalan jika hanya sebatas wacana atau opini saja tetapi harus dilaksanakan atau jika memungkinkan adalah diformalkan. Semoga...

Rabies - Antara Bisnis, Edukasi, dan Ancaman

Oleh :Drh. Syailin
Malang - JawaTimur (Di copy asli dari Koran PDHI)

Tinggal 9 propinsi yang tetap bebas rabies yaitu ;Nusa Tenggara Barat, Papua,Irian Jaya Barat, Bangka-Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur. Sedangkan sebanyak 24 provinsi lainnya termasuk Bali, Jawa Barat dan Banten merupakan daerah tertular rabies dengan masih ditemukan penderita rabies pada manusia dan specimen positif rabies pada hewan.


Kasus gigitan hewan penular rabies di Indonesia rata-rata tiap tahun berkisar 14.000 orang.

Kasus rabies di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Esser pada tahun 1884 pada seekor kerbau,kemudian oleh Pening tahun 1889 pada seekor anjing dan Eilerls de Zhaan pada tahun 1894 pada manusia. Semua kasus ini terjadi di Cirebon Provinsi Jawa Barat dan setelah itu menyebar ke daerah lain di Indonesia.

Kasus gigitan hewan penular rabies di Indonesia rata-rata tiap tahun berkisar 14.000 orang, antara 50 – 60 % mendapat Vaksin Anti Rabies (VAR), selama tiga tahun terakhir (2005 – 2007) tercatat penderita rabies (meninggal) sebanyak 258 orang.
Penyakit anjing gila (rabies) adalah suatu penyakit menular yang akut, menyerang susunan syaraf pusat, disebabkan oleh virus rabies jenis Rhabdho virus yang dapat menyerang semua hewan berdarah panas dan manusia. Penyakit ini sangat ditakuti dan mengganggu ketentraman hidup manusia, karena apabila sekali gejala klinis penyakit rabies timbul maka biasanya diakhiri dengan kematian.

CARA PENULARAN
Virus Rabies selain terdapat di susunan syaraf pusat, juga terdapat di air liur hewan penderita rabies. Oleh sebab itu penularan penyakit rabies pada manusia atau hewan lain melalui gigitan.
Gejala-gejala rabies pada hewan timbul kurang lebih 2 minggu (10 hari - 8 minggu). Sedangkan pada manusia 2-3 minggu sampai 1 tahun. Masa tunas ini dapat lebih cepat atau lebih lama tergantung pada:
  1. Dalam dan parahnya luka bekas gigitan
  2. Lokasi luka gigitan
  3. Banyaknya syaraf disekitar luka gigitan
  4. Pathogenitas dan jumlah virus yang masuk melalui gigitan
  5. Jumlah luka gigitan

HEWAN-HEWAN YANG BIASA MENYEBARKAN PENYAKIT RABIES DI INDONESIA
  1. Hewan Kesayangan (Anjing , Kucing , Kera)
  2. Binatang buas (sigung, rakun, rubah, dan kelelawar)

TANDA-TANDA PENYAKIT RABIES PADA HEWAN
Gejala penyakit dikenal dalam 3 bentuk:

  1. Bentuk ganas (Furious rabies)
    Masa eksitasi panjang, kebanyakan akan mati dalam 2-5 hari setelah tanda-tanda terlihat. Tanda-tanda yang sering terlihat :

    • Hewan menjadi penakut atau menjadi galak.
    • Senang bersembunyi di tempat-tempat yang dingin, gelap dan menyendiri tetapi dapat menjadi agresif. 
    • Tidak menurut perintah majikannya. 
    • Nafsu makan hilang. 
    • Air liur meleleh tak terkendali. 
    • Hewan akan menyerang benda yang ada disekitarnya dan memakan barang, benda-benda asing seperti batu, kayu dsb. 
    • Menyerang dan menggigit barang bergerak apa saja yang dijumpai. 
    • Kejang-kejang disusul dengan kelumpuhan. 
    • Ekor diantara 2 (dua) paha.
     
  2. Bentuk diam (Dumb Rabies)
    Masa eksitasi pendek, paralisa cepat terjadi. Tanda- tanda yang sering terlihat :

    • Bersembunyi di temapat yang gelap dan sejuk
    • Kejang-kejang berlangsung sangat singkat, bahakan sering tidak terlihat. 
    • Lumpuh, tidak dapat menelan, mulut terbuka. 
    • Air liur keluar terus menerus (berlebihan). 
    • Mati. 
     
  3. Bentuk Asystomatis

    • Hewan tidak menunjukkan gejala sakit.
    • Hewan tiba-tiba mati.

TANDA-TANDA PENYAKIT ANJING GILA PADA MANUSIA
  1. Pada manusia yang penting diperhatikan adalah riwayat gigitan dari hewan seperti anjing, kucing dan kera.
  2. Dilanjutkan dengan gejala-gejala nafsu makan hilang, sakit kepala, tidak bisa tidur, demam tinggi, mual atau muntah-muntah.
  3. Adanya rasa panas (nyeri) pada tempat gigitan dan menjadi gugup.
  4. Takut dengan air, suara keras, cahaya dan angin.
  5. Air liur dan air mata keluar berlebihan.
  6. Kejang-kejang disusul dengan kelumpuhan.
  7. Biasanya penderita akan meninggal 4-6 hari setelah gejala klinis atau tanda-tanda penyakit pertama timbul.

LANGKAH YANG PERLU DIKERJAKAN APABILA DIGIGIT ANJING
Apabila seseorang digigit hewan yang tersangka rabies, maka tindakan yang harus diambil adalah:
  1. Mencuci luka gigitan dengan sabun atau dengan deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Kemudian luka diberi alkohol 70% atau Yodium tincture. Setelah itu pergi secepatnya ke Puskesmas atau Dokter yang terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi hewan.
  2. Kejang otot tenggorokan dan pita suara bisa menyebankan rasa sakit luar biasa. Kejang ini terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernafasan. Angin sepoi-sepoi dan mencoba untuk minum air bisa menyebabkan kekejangan ini. Oleh karena itu penderita rabies tidak dapat minum. Karena hal inilah, maka penyakit ini kadang-kadang juga disebut hidrofobia (takut air).
  3. Laporkan kepada petugas Dinas Peternakan setempat tentang kasus penggigitan tersebut.
  4. Hewan yang menggigit dikirim ke rumah observasi hewan Dinas Peternakan untuk diobservasi dan diperiksa kesehatannya selama 10 hingga 14 hari.
  5. Bila hewan yang menggigit tidak diketahui atau tidak dapat ditemukan, maka orang yang tergigigit harus dibawa ke rumah sakit khusus infeksi

JIKA SESEORANG DIGIGIT HEWAN, MAKA HEWAN YANG MENGGIGIT HARUS DIAWAS
  1. Immunofluoresensi (tes antibodi fluoresensi) yang dilakukan terhadap hewan tersebut bisa menunjukkan bahwa hewan tersebut menderita rabies.
  2. Biopsi kulit, dimana kulit leher diambil untuk diiperiksa dibawah mikroskop, biasanya dapat menunjukkan adanya virus.

YANG PERLU KITA KERJAKAN AGAR HEWAN KESAYANGAN KITA (anjing, kucing, kera) TIDAK TERJANGKIT PENYAKIT ANJING GILA
  1. Memelihara hewan piaraan dengan baik.
  2. Membawa hewan ke dokter hewan praktek, untuk mendapatkan vaksinasi anti rabies secara teratur 1-2 kali setahun tergantung jenis vaksin yang digunakan.
  3. Setelah hewan tersebut divaksin, mintalah surat keterangan vaksinasi.
  4. Anjing, kucing, kera peliharaan sebaiknya jangan dilepas keluar pekarangan.



LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENCEGAH RABIES BISA DIAMBIL SEBELUM TERJANGKIT VIRUS ATAU SEGERA SETELAH TERJANGKIT
Vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang beresiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu:
  • Dokter hewan
  • Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi
  • Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah di mana rabies padaanjing banyak ditemukan
  • Para penjelajah gua kelelawar.
Pemberian vaksin anti rabies (VAR) atau VAR disertai dengan serum anti rabies (SAR) harus didasarkan atas tindakan tajam dengan mempertimbangkan hasil-hasil penemuan di bawah ini:
  1. Anamnesis:

    • kontak/jilatan/gigitan
    • kejadian di daerah tertular/terancam/bebas 
    • didahului tindakan provokatif/tidak 
    • hewan yang menggigit menunjukkan gejala rabies 
    • hewan yang menggigit mati, tapi masih diragukan menderita rabies 
    • penderita luka gigitan pernah di VAR, kapan ? 
    • hewan yang menggigit pernah di VAR, kapan ?
       
  2. Pemeriksaan fisik:

    • identifikasi luka gigitan (status lokalis).
     
  3. Lain-lain:

    • temuan pada waktu observasi hewan
    • hasil pemeriksaan spesimen dari hewan 
    • petunjuk WHO
Vaksinasi memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap penyebaran selanjutnya harus mendapatkan dosis buster vaksinasi setiap 2 tahun.


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG RABIES
Sejak tahun 1926 pemerintah telah mengeluarkan peraturan tentang rabies pada anjing, kucing, dan kera. Yaitu Hondsdol heid Ordonantie Staatblad No. 452 tahun 1926 dan pelaksanaannya termuat dalam Staatblad No. 452 tahun 1926. Selanjutnya Ordonantie tersebut tersebut mengalami perubahan/penambahan-penambahan yang disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Di DKI Jakarta terdapat SK Gubernur No. 3213 tahun 1984 tentang Tatacara Penertiban Hewan Piaraan Anjing, Kucing dan Kera di wilayah DKI Jakarta yang antara lain berisi:
  1. Kewajiban pemilik hewan piaraan untuk memvaksin hewannya dan menggantungkan peneng tanda lunas pajak.
  2. Menangkap dan menyerahkan hewannya apabila mengigit orang untuk diobservasi.
  3. Hewan yang dibiarkan lepas dan dianggap liar atau tersangka menderita rabies akan ditangkap oleh petugas penertiban.
  4. Berhasil tidaknya usaha pengendalian penyakit rabies sangat erat hubungannya dengan kesadaran, pengetahuan dan partisipasi masyarakat.

LANDASAN KERJA SAMA
Untuk dapat mencapai hasil maksimal pembebasan rabies telah diatur sesuai kewenangan instansi terkait yaitu:
  1. Pemberantasan rabies pada hewan menjadi tanggung jawab Departemen Pertanian
  2. Penanggulangan rabies pada manusia menjadi tanggung jawab Departemen Kesehatan
  3. Koordinasi data pembebasan rabies menjadi tanggung jawab Departemen Dalam Negeri.

KEBIJAKAN UMUM
Melaksanakan kegiatan pembebasan rabies secara terpadu dibawah koordinasi Pemerintah Daerah yaitu :
  1. Mencegah kematian karena rabies dengan penanganan kasus gigitan hewan penular rabies
  2. Mencegah penularan rabies dari hewan kepada manusia dengan meningkatkan kerjasama untuk mempercepat pembebasan rabies pada hewan
  3. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas dalam tatalaksana kasus gigitan hewan penular rabies.

KEBIJAKAN OPERASIONAL
Menurunkan angka kematian karena rabies pada manusia menjadi Nol Kasus dengan:
  1. Memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) kepada penderita gigitan hewan indikasi
  2. Vaksinasi Hewan
  3. Melakukan pertolongan pertama luka gigitan dengan mencuci luka gigitan, kepada semua penderita gigitan hewan penular rabies menggunakan deterjen (sabun cuci)
  4. Memantau pemberian VAR untuk mencegah Drop Out Vaksinasi
  5. Melakukan pelacakan kasus gigitan hewan penular rabies untuk menentukan faktor penularan.

Rabu, 14 Oktober 2009

Cara Mencagah Tertular Flu Babi / Swine Flu / H1N1

Dikutip Dari Blog P. Triakoso (Dosen Saya)

Ada guyonan yang pernah diutarakan seorang teman saya, “apa penyebab swine flu atau flu babi?”. Tanpa pikir panjang saya jawab saja, “virus influenza H1N1″. “Bukan…”, begitu katanya. “Lho,..lalu apa?”, tanya saya. Jawabnya, “B4B1″ alias babi. Itu hanya guyonan saja.

Tapi saya yakin sudah mulai banyak orang yang mengenal flu babi atau swine flu yang disebabkan virus influenza H1N1. Dan tentu saja dengan segala ketakutan yang menyertainya. Banyak pertanyaan tentang penyakit tersebut termasuk apakah flu babi bisa dicegah. Mungkin beberapa tips berikut dapat mencegah atau mengurangi risiko penularan dan penyebaran H1N1.
  1. Secara rutin dan sesering mungkin membasuh tangan.
  2. Usahakan agar tidak memegang daerah wajah (hands off the face). Semua bagian wajah sebaiknya bebas dari sentuhan tangan seperti pipi, dahi terutama bibir, hidung, kecuali untuk kebutuhan yang penting seperti makan.
  3. Berkumur setidaknya 3 kali sehari menggunakan air garam hangat. Dapat juga menggunakan antiseptik mulut seperti Listerine dan semacamnya, bila kurang percaya pada air garam hangat. H1N1 membutuhkan waktu beberapa hari (2-3 hari) setelah inisiasi infeksi pada rongga hidung kemudian melakukan proliferasi dan menimbulkan gejala klinis. Proses berkumur tersebut akan mencegah proses proliferasi virus. Beberapa informasi menyatakan bahwa penggunaan air garam hangat mempunyai efek pada orang yang masih sehat sebagaimana Tamiflu memberikan efek tersebut pada orang yang sakit.
  4. Sama seperti point 3, bersihkan hidung setidaknya sekali sehari menggunakan air garam hangat. Kalau muslim, sebagaimana membersihkan hidung saat wudlu. Sedikit menghirup air kemudian menghembuskannya kuat-kuat. Hal ini dapat membuang virus yang ada di sekitar hidung.
  5. Tingkatkan kekebalan tubuh dengan makan yang sehat, terutama yang banyak mengandung vitamin C. Jika mengkonsumsi supplemen, sebaiknya juga yang mengandung zinc (Zn) selain yang mengandung vitamin C. Karena zinc punya peran penting dalam sistem kekebalan atau imunitas.
Mudah-mudahan beberapa tips tersebut dapat membantu mengurangi risiko atau mencegah penularan virus H1N1 yang sekarang sudah menyebar dimana-mana.



Tapi ada juga guyonan dari tulisan salah seorang teman
Cara mencegah penularan flu babi:
  1. Jangan berjabat tangan dengan babi yang sedang flu (selain akan tertular flu oleh babi, anda juga akan dianggap orang gila)
  2. Jangan berciuman dengan babi yang sedang flu (apalagi yang ini, anda ga mau kan diliat orang sedang berciuman dengan babi)
  3. Cucilah tangan setelah anda bergulat dengan babi di kandang babi
  4. Jangan suka mengucapkan kata babi ke pada orang lain (contoh: babi lu..)Jangan tidur dengan babi
  5. Jangan menerima babi sebagai teman Anda di facebook karena dia dapat mengharvest teman2 Anda di facebook
  6. Jikapun Anda memang memelihara babi, sediakan selalu sapu tangan/tissue untuk babi-babi Anda menutup hidung dan mulutnya bila bersin.
  7. Hindarilah berenang di kolam renang babi, setidaknya untuk saat ini.
  8. Jangan memforward email ini ke babi-babi, dikhawatirkan mereka jadi tau sehingga mencari cara penularan lain
  9. Hindari memakai segala asesori babi (kaos gambar babi, anting2 babi, kalung babi, ikat pinggang sabuk babi, dll), babi-babi yang sedang flu itu mungkin akan mengira Anda adalah simpatisan babi, sehingga kemungkinan mereka akan menyerbu Anda untuk meminta perlindungan karena saat ini banyak yang memburu mereka untuk membunuhnya.
  10. Salah satu yang juga penting adalah agar para babi ngepet untuk segera menyadarkan diri dan kembali ke jalan yang benar sebelum mereka menciptakan varian baru virus tersebut; flu babi ngepet.



Terimakasih Telah Membaca...