Tampilkan postingan dengan label ternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ternak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2014

Rumus - Rumus Pemeliharaan Ayam Broiler


Sudah lama saya tidak menulis artikel di blog ini, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang rumus - rumus yang ada dalam pemeliharaan ayam broiler. Sebelum kita melangkah lebih jauh tentang rumus - rumusnya, ada baiknya kita memahami dulu tentang Broiler atau Ayam Pedaging itu sendiri.

Dalam dunia peternakan, banyak sekali jenis - jenis hewan ternak yang secara umum dapat di budidayakan. Contohnya: Sapi, Babi, Ayam, Itik, Bebek, Puyuh, dan lain - lain.

Fokus kita kali ini adalah tentang perternakan Ayam, khususnya ayam pedaging atau sering disebut ayam broiler. Untuk beternak ayam broiler dapat dikatakan gampang - gampang susah. Gampang karena cepat panen otomatis perputaran uang akan semakin cepat. Susah karena dalam waktu yang singkat tersebut (sekitar 35-40 hari, tergantung masing-masing permintaan pasar) kita dituntut untuk menjaga agar peforma ayam tetap prima dan mencapai target yang di inginkan. Peternak akan dihadapkan dengan masalah penyakit baik dari internal maupun eksternal yang akan dapat mempengaruhi berat badan ayam dan angka kematian ayam (deplesi).

Baik, kita akan bahas satu persatu pengertian dari kata - kata sulit yang ada di seputar pemeliharaan ayam broiler.


RUMUS - RUMUS PERHITUNGAN BROILER
Istilah yang dipakai :

C : Chick-in (Ayam Masuk)
Pop : Populasi (Jumlah Ayam)
ABW : Bobot Rata-rata
FI : Feed Intake (Konsumsi Pakan per Ekor)
FCR : Konversi pakan terhadap daging
Umur : Umur rata-rata (hari)
Dep : Deplesi (Mati & Culling)
SA : Sisa Ayam
IP : Indeks Performance
Berat : 1 kg = 1.000 gram | 1 gram = 0,001 kg | 10 gram = 0,01 kg
Pakan : 1 zak = 50 kg = 50.000 gram


Bobot Rata-Rata (ABW)
(Total bobot panen : Berat ayam terpanen)

Contoh :
Jumlah terpanen 9.800 ekor, total Bobot 18.200 kg
ABW = 18.200 / 9.800 = 1,857 Kg / ekor

Jumlah bobot sampling 9,8 kg, yang ditimbang 15 ekor
9,8 kg = 9.800 gram
ABW = 9.800 / 15 = 653,33 gram / ekor



Feed Intake (FI)
(Pakan Total : Ayam Hidup)
Contoh :
Jumlah ayam terpanen 9.800 ekor, habis pakan 28 ton (28.000 kg)
FI = 28.000 / 9.800 = 2,857 Kg / ekor

Minggu I, Habis pakan 31 zak, sisa ayam 9.940 ekor
31 zak = 31 x 50 kg = 1550 kg atau 1.550.000 gram
FI = 1.550.000 / 9.940 = 155,94 gram / ekor

Karena rumusnya sangat banyak dan saya kurang mampu untuk membuat simbol matematika di blog, maka anda bisa langsung download pdf lengkap tulisan saya dengan KLIK DISINI untuk download.

Terimakasih, semoga bermanfaat. Jangan lupa untuk menuliskan komentar..

Rabu, 24 April 2013

Tanda - Tanda Ayam yang Terserang Virus H5N1 Clade 2.3

Pada bulan februari yang lalu, kita telah di kejutkan oleh kematian itik ataupun bebek secara masal. Dan setelah di memalui pemeriksaan lab, kematian itik-itik tersebut di karenakan oleh infeksi dari virus Flu Burung (H5N1) Clade 2.3 dan menimbulkan dampak kerugian yang sangat luarbiasa.
Sebenarnya virus clade 2.3 sudah lama ada, namun tidak menimbulkan kerugian yang berarti. Itik cenderung tidak menunjukkan gejala-gejala sakit jika terinfeksi oleh virus ini, Namun di perkirakan karena virus flu burung tersebut mengalami mutasi, sehingga itik yang terserang virus ini akan menunjukkan gejala sakit.

Lebih parahnya lagi, virus yang menyerang pada itik tersebut mampu menginffeksi ayam. Angka kematian ayam yang terinfeksi virus H5N1 Clade 2.3 ini sungguh tinggi. Saya baru saja mendapati kasus ayam yang terinfeksi AI clade 2.3 dan ciri-cirinya hampir mirip ND + Gumboro.
  1. Ovarium merah (ada penggumpalan darah)
  2. Tortikolis (leher ayam berputar seperti kasus ND syaraf)
  3. Perdarahan di trakea
  4. Vaskodilatasi (perbesaran vena) di daerah penggantung usus
  5. Ginjal Bengkak 
Ginjal bengkak inilah yang mengakibatkan kematian pada ayam semakin tinggi. Jika kita tidak jeli, maka kesalahan diagnosa dan pengobatan bisa berakibat sangat fatal karena pemberian antibiotik pada kondisi ginjal yang membengkak itu sama saja bunuuh diri.

Untuk mengatasi hal ini, kita hanya bisa berupaya "menekan angka kematian" dengan cara:
  1. Lakukan segera re-vaksinasi menggunakan vaksin AI secara masal.
  2. Tambahkan hexamine (Desinfeksi saluran kemih) dalam minumnya untuk memperbaiki fungsi ginjalnya yang bengkak.
  3. Semprot kandang pagi dan sore menggunakan desinfektan yang mengandung BKC atau jika ingin lebih bagus gunakan iodin sebagai obat semprot. Semprot pagi di bawah jam 10, sore di atas jam 2.
  4. Perbaiki ransum pakannya dengan menggunakan pakan yang berprotein tinggi.
  5. Lakukan biosekuriti yang ketat.
  6. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. :D

Minggu, 31 Oktober 2010

Limfoid Leukosis (LL)

Limfoid Leukosis dan Marek’s disease merupakan dua jenis penyakit neoplasma unggas yang sering ditemukan tetapi sulit dibedakan. Hal ini disebabkan oleh manifestasi patologiknya yang hampir serupa.
Limfoid Leukosis disebabkan oleh virus avian leukosis (ALV) yang tergolong genus retrovirus. Virus AL pada ayam dapat dibagi menjadi 6 sub grup yaitu A, B, C, D, E, dan J.

Penularan virus ini bisa secara vertical dan horizontal. Penularan vertical dari induk kepada anak melalui telur, sedangkan secara horizontal melalui kontak langsung atau tidak langsung melalui ayam sakit (melalui feses dan air liur). Penyakit ini ditandai dengan nafsu makan menurun, jengger dan pial pucat sampai kebiruan dan keriput. Perut terlihat membesar karena hati yang membengkak, bulu-bulu menjadi kotor karena tercemar asam urat dan pigmen empedu dan ayam-ayam tampak kurus dan lemah.

Diagnosa biasanya berdasarkan lesi-lesi makroskopis, mikroskopis dan histopatologis, isolasi dan identifikasi virus. Virus dapat dideteksi dengan uji CFT, RIA, ELISA, FAT dan Resistance Inducing Factor (RIF). Penyakit ini sangat mirip dengan Marek dari perubahan organ visceral dan penyakit ini tidak pernah diikuti dengan gejala syaraf. Penyakit lainnya sebagai diagnosa banding yaitu Eritroblastosis, Mieloblastosis, Penyakit Pullorum, Tuberkulosis, Granuloma Koli, penyakit Hjarres dan Degenerasi lemak hati.

Cara penanggulangan LL melalui ayam yang sakit sebaiknya dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur. Kandang dan peralatan didesinfeksi. Tindakan pencegahan paling efektif adalah dengan vaksinasi, tetapi dianggap tidak efisien karena kejadian penyakit bersifat sporadis dan kerugian yang ditimbulkan penyakit rendah.

Kamis, 28 Oktober 2010

Pulpy Kidney

Sinonim: Enterotoxemia, Overeating disease, Milk Colic, Apoplexy

Pulpy Kidney adalah kejadian keracunan pada domba, bersifat akut dan fatal, disebabkan oleh absorbsi yang terbentuk oleh bakteri Clostridium welchii tipe D, yang berada dalam usus.

Kuman ini juga disebut Clostridium perfingens oleh Velon dan Zuber. Clostridium welchii tersebar luas di dalam tanah dan terdapat dalam usus hampir semua hewan berdarah panas. Didalam tubuh, kuman terdapat dalam lumen usus dan keluar ke jaringan usus pada waktu hewan mati. Beberapa tipe dari kuman ini menyebabkan toxemia yang fatal pada domba, anak sapi, anak babi dan manusia.


Etiologi
Clostridium welchii disebut juga Clostridium perfingens, Bacillus aerogenes capsulatus, Bacillus plegmonis emphysematousae, Welch bacillus, Bacillus paludis, Clostridium ovitoxicum dan Gas bacillus, adalah bakteri berbentuk batang, tunggal atau berpasangan, jarang membentuk rantai kadang berbentuk filamen. Ukuran 4-8 mikron, membentuk spora besar dan oval, terletak subterminal atau sentral. Pada suasana asam pembentukan spora terhambat. Kuman ini non motil, dapat membentuk kapsul dan bersifat Gram positif pada biakan muda, sedang pada biakan tua bersifat Gram negatif.

Clostridium welchii tumbuh pada media umum dalam keadaan anaerob dan suhu optimum 37°C. Pada lempeng agar membentuk koloni halus, bulat tepinya rata, semitranlusen dan berwarna abu-abu. Dapat membentuk 2 tipe koloni.

1. Koloni kecil tipis, bersifat cepat menyebar, terdiri dari kumpulan bakteri berbentuk filamen.
2. Koloni mukoid, melekat pada permukaan media.

Pada biakan cair membentuk kekeruhan yang merata, sedang pada bagian bawah membentuk endapan yang tebal. Pada agar darah membentuk 2 macam koloni, hemolytic dan non hemolytic. Dapat mencairkan gelatin, mengkoagulasi litmus milk serta membentuk gas. Membentuk asam dan gas pada media gula-gula, kecuali mannitol dan dulcitol.


Epizootiologi
Penyakit ini terdapat di Australia, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat. Kejadian di Indonesia belum diketahui dengan nyata.


Phatogenesis
Penyakit ini rentan terhadap domba, sapi kambing, kuda dan manusia. Kerenta terhadap penyakit ini juga faktor umur, umur muda lebih rentan daripada umur tua.

 
Cara Penularan Melalui peroral (saluran pencernaan). Timbulnya penyakit akibat penyerapan toksin yang dibentuk oleh kuman melalui selaput lendir usus.


Gejala Klinis
Masa tunas sangat pendek, kadang hanya 2-3 jam. Kebanyakan kasus diakhiri dengan kematian yang di dahului dengan tanda kekejangan, menghempaskan diri dan sesak nafas.

Penyakit dapat terjadi:

a. Bentuk saraf perakut : Hewan kejang, menghempaskan diri, sesak nafas dan mati dalam waktu singkat.
b. Bentuk subakut : Suhu normal dan hewan depresi
c. Bentuk digesi : Umumnya kronis, terdapat diare yang berbau busuk, hewan mungkin sembuh sendiri setelah satu minggu


Kelainan Patologi Anatomi
Perikardium berisi cairan berwarna kuning yang berlebihan. Pada endokardium terdapat ekimose. Terjadi kerusakan jaringan ginjal secara cepat sehingga ginjal melembek seperti bubur.


Diagnosis Banding
 a. Black disease, terdapat hemoglobinuria, diakhiri kematian yang tenang tanpa gejala konvulasi
b. Black leg, adanya gas gangrene disertai tanda krepitasi pada palpasi otot tebal
c. Anthrax, terjadi kematian mendadak disertai perdarahan dari lubang alami
d. Hypomagnesia


Pencegahan
Mencegah pemberian makanan butiran dalam jumlah besar dan mendadak


Imunisasi
- Imunisasi pasif diikuti dengan imunisasi aktif, terhadap hewan yang terserang
- Imunisasi aktif terhadap hewan bunting untuk mendapatkan anti toksin di dalam kolostrum yang bermanfaat bagi anak sapi yang baru lahir

Jumat, 27 Agustus 2010

Histologi Testis

Testis terdiri dari kelenjar-kelenjar yang berbentuk tubulus, dibungkus oleh selaput tebal yang disebut tunika albugenia. Pada sudut posterior organ ini terbungkus oleh selaput atau kapsula yang disebut mediastinum testis. Septula testis merupakan selaput tipis yang meluas mengelilingi mediastinum sampai ke tunika albugenia dan membagi testis menjadi 250-270 bagian berbentuk piramid yang disebut lobuli testis. Isi dari lobulus adalah tubulus seminiferus, yang merupakan tabung kecil panjang dan berkelok-kelok memenuhi seluruh kerucut lobulus. Muara tubulus seminiferus terdapat pada ujung medial dari kerucut. Pada ujung apikal dari tiap-tiap lobulus akan terjadi penyempitan lumen dan akan membentuk segmen pendek pertama dari sistem saluran kelamin yang selanjutnya akan masuk ke rete testis.

Dinding tubulus seminiferus terdiri dari tiga lapisan dari luar ke dalam yaitu tunika propria, lamina basalis dan lapisan epitelium. Tunika propria terdiri atas beberapa lapisan fibroblas, yang berfungsi sebagai alat transportasi sel spermatozoa dari tubulus seminiferus ke epididimis dengan jalan kontraksi. Lapisan epitel pada tubulus seminiferus terdiri dari dua jenis sel yaitu sel-sel penyokong yang disebut sebagai sel sertoli dan sel-sel spermatogonium. Sel-sel spermatogonium merupakan sel benih sejati, karena sel-sel inilah dihasilkan spermatozoa melalui pembelahan sel. Sel-sel spermatogonium tersusun dalam 4-8 lapisan yang menempati ruang antara membrana basalis dan lumen tubulus.

Rabu, 25 Agustus 2010

Organ Reproduksi Hewan Jantan

Susunan alat kelamin jantan pada umumnya terdiri dari:
  1. Alat kelamin utama yaitu gonad atau testis
  2. Saluran alat kelamin yang terdiri dari epididymis, vas deferens, ampula dan urethra. Kelenjar-kelenjar asesoris yaitu vesikularis, prostata dan bulbourethralis (Cowper) 
  3. Alat kelamin luar yaitu penis, preputium dan skrotum.
Testis dari beberapa spesies hewan agak berbeda dalam hal: Ukuran, bentuk dan lokasinya, walaupun struktur penyusun utamanya sama. Pada kebanyakan mamalia, testis terletak pada daerah pre pubis, merupakan kelenjar tubuler berbentuk bulat lonjong terdapat sepasang.

Testis terbungkus dalam kantong skrotum, dimana dalam skrotum berisi dua lobi testis yang masing-masing lobi mengandung satu testis. Testis dapat menggantung di dalam skrotum secara bebas dengan bantuan korda spermatika yang didalamnya mengandung duktus deferens, pembuluh darah, syaraf serta pembuluh limfe.

Minggu, 22 Agustus 2010

Penanganan Prolapsus Uteri Pada Sapi

Pada tulisan terdahulu saya pernah mem-posting artikel yang berjudul Prolapsus Uteri Pada Sapi. Memang kasus prolapsus uteri banyak di jumpai di desa-desa. Jika hal ini terjadi pada peternak di desa, pasti sapinya langsung di jual atau di afkir (potong). Padahal dalam undang-undang tidak boleh memotong sapi betina jika sapi tersebut masih produktif. Kecuali pada kasus-kasus tertentu yang memaksa pemilik harus segera memotongnya.

Padahal jika kasus ini di tangani lebih lanjut, maka tidak perlu adanya sapi yang di korbankan (hehehe). Tapi memang sih, kasus prolapsus adalah kasus yang kambuhan. Untuk mengetahui pengertian dari prolapsus uteri itu sendiri dapat anda klik langsung DISINI.

Ini adalah sebuah penanganan darurat untuk kasus prolapsus uteri yang sering terjadi di desa. Jika di desa, maka peralatan dan obat akan semakin terbatas. Untuk itu penanganan

Minggu, 04 Juli 2010

IB Sapi Pertamaku

IB atau yang disebut juga Inseminasi buatan adalah kegiatan memasukkan cairan sperma kedalam alat kelamin betina. Hal ini biasa dikenal dengan "Kawin Suntik". Keuntungan melakukan kawin suntik adalah:
  1. Praktis bro... Tinggal semprot aja.. Beres.. (Tapi inseminator harus jago...)
  2. Sperma per ejakulasi dari pejantan bisa di encerkan di straw-straw kecil yang bisa dibuat IB sekitar 120 sapi betina (Edan tenan itu sekali ejakulasi lo ya...)
  3. Sperma pejantannya bisa milih... Ada yang Limousine, Simental, dll.
    (kalau manusia tu seperti ditawari gini: Pilih spermanya siapa bu? Ini spermanya Ariel, ini Ian Kasela, dan klo ini sperma saya sendiri....)
  4.  Murah.. Praktis... dan persentase keberhasilan nya tinggi... sebab sperma langsung di semprot ke uterus.
Wah kalau kelemahannya bro, adalah peternak harus tahu tanda-tanda sapi tersebut birahi dan segera menghubungi inseminator terdekat untuk segera di kawin suntik.
Disamping itu, inseminator harus tahu apakah sapi tersebut sedang bunting atau tidak, karena jika sapi tersebut ternyata sedang bunting dan inseminator tetap meng IB nya, maka dapat dipastikan sapi tersebut akan abortus... Weleh weleh...

Dan Hari ini adalah IB pertamaku... Aku bersama dengan temanku di ajak oleh salah seorang dosen untuk melakukan IB di sebuah peternakan sapi yang lumayan besar di Mojokerto.
Rencananya kami akan meng IB sapi di peternakan tersebut sebanyak 40 ekor sapi.. (Wuiiih)
Tetapi sesampainya disana, sapi yang birahi hanya berjumlah 20 ekor saja.
NB: Ini kerena sebelumnya sapi-sapi tersebut telah dilakukan Gertak birahi

Suntikan awal di serahkan padaku Tanpa ragu lagi ku kerjakan IB pertamaku tersebut dengan sukses, Ku semprotkan sperma tepat setelah IB gun ku mencapai ring servik ke-4..
Kemudian dilanjutkan dengan temanku...
Dan aku lagi, begitu pula berikutnya..

Tangan kiri ku sudah mulai merasa kram dan gemetar setelah aku mencapai sapi ke-4
Ternyata temanku juga begitu, terlihat tangannya juga sudah tidak kuat membuka tutup botol saat dia hendak minum.
Akhirnya dosenku turun tangan, beliau sanggup meng IB seluruh sapi sendirian...
Padahal umur beliau sudah bisa dibilang tua lho...
Tanpa di duga, hujan pun turun, Beliau tetap melanjutkan IB walaupun hujan-hujan.
"Ini tugas... Beginilah seharusnya dokter hewan." Ucap beliau.
Wuiiih... kereen...
Ha ha ha... Hari yang sangat melelahkan... Tapi menyenangkan...

Tambahan

Ciri-ciri sapi birahi:
3A,BC (Abang, Abuh, Anget, Bengak-bengok, Clingkrak-clingkrik)

Yang artinya

Abang: Merah = Alat kelamin sapi betina bila di buka, akan berwarna merah

Abuh : Bengkak = Alat kelamin sapi betina terlihat bengkak

Anget : Hangat = Alat kelamin sapi betina akan terasa hangat bila disentuh

Bengak-bengok : Teriak-teriak = Sapi akan gaduh sendiri (mengemoh)

Clingkrak-clingkrik : Naik-naik = Sapi akan menaiki temannya sendiri (walaupun sesama jenis)

Senin, 01 Februari 2010

Teknik Pembuatan Silase

Bahan pembuatan Silase
Bahan untuk pembuatan silase adalah segala macam hijauan dan bahan dari tumbuhan lainnya yang di sukai oleh ternak ruminansia, seperti :
-Rumput, Sorghum, Jagung, Biji-bijian kecil, tanaman tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas dan jerami padi, dll

Syarat hijauan (tanaman) yang dibuat Silase :
Segala jenis tumbuhan atau hijauan serta bijian yang di sukai oleh ternak, terutama yang mengandung banyak karbohidrat nya. Untuk penjelasan mengapa dan apa sebabnya lihat di bagian Prinsip Fermentasi

Bahan tambahan
Dengan mengetahui prinsip fermentasi dan phase tahapan prosesnya , maka kita bisa memanipulasi proses fermentasi dalam pebuatan silase. Manipulasi di tujukan untuk mempercepat proses atau untuk meningkatkan dan mempertahankan kadar nutrisi yang terkandung pada bahan baku silase Manipulasi dengan penambahan bahan additive ini bisa dilakukan secara langsung dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung karbohidrat yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain :
-Molase (melas) : 2,5 kg /100 kg hijauan.
-Onggok (tepung) : 2,5 kg/100 kg hijauan.
-Tepung jagung : 3,5 kg/100 kg hijauan.
-Dedak halus : 5,0 kg/100 kg hijauan.
-Ampas sagu : 7,0 kg/100 kg hijauan.
Biasanya ini diperlukan bila bahan dasarnya kurang banyak mengadung karbohidrat

Proses pembuatan Silase
Setelah memahami prinsip dasar pembuatan silase, maka proses tahap pelaksanaan pembuatan silase akan menjadi sangat mudah di fahami apa dan mengapanya.

Penyiapan Silo
Silo hanyalah nama sebuah wadah yang bisa di tutup dan kedap udara, artinya udara tidak bisa masuk maupun keluar dar dan ke dalam wadah tersebut. Wadah tersebut juga harus kedap rembesan cairan. Untuk memenuhi kriteria ini maka bahan plastik merupakan jawaban yang terbaik dan termurah serta sangat fleksibel penggunaannya. Walaupun bahan dari metal, semen dll tetap baik untuk di gunakan. Ukuran di sesuaikan dengan kebutuhan, mulai kantong keresek plastik ukuran satu kilogram, sampai silo silindris dengan garis tengah 100 meter dan ketinggian 30 meter. Pilihlah ukuran, bahan serta konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anda.

Gentong plastik (biasanya berwarna biru) yang mempunyai tutup yang bisa di kunci dengan rapat, merupakan salah satu pilihan yang terbaik. Karena di samping ukurannya yang sedang sehingga mudah untuk di angkat manusia, kemudian dengan penambahan jumlah bisa memenuhi kebutuhan yang lebih banyak.

Jika ingin membuat dalam jumlah yang banyak sekali gus, maka cara yang termurah adalah dengan menggali tanah. Ukuran di sesuaikan dengan kebutuhan. Kemudian menggunakan kantung plastik yang di jual meteran, sehingga penutupannya bisa dilakukan dengan sangat rapat.

Prinsip yang harus di perhatikan adalah, saat membuka dan memberikan silase pada ternak, maka silo tersebut akan kemasukan udara/oksigen yang bisa dan akan merusak silase yang telah jadi karena terjadinya proses aerobic, lihat dip hase-6. Inilah sebabnya kenapa pembuatan dalam jumlah kecil dengan menggunakan silo yang banyak serta portable (seperti gentong plastik biru, atau kantong plastik), jauh lebih berdaya guna di banding dengan pembuatan dalam jumlah sangat besar dalam satu wadah/silo. Untuk itu ketahuilah jumlah kebutuhan ternak anda, lalu sesuaikan pembuatan silo, sehingga penggunaannya bisa sekali buka silo , isinya langsung habis di konsumsi sehingga tidak adalagi sisa yang harus di simpan. Penyimpanan sisa silase ini , di samping sangat merepotkan juga sangat riskan terhadap terjadinya proses pembusukan karena terjadi nya eksposur tehadap oksigen yang akan mengaktive kan bakteri aerob.

Penyiapan bahan baku silase serta penempatan pada silo:
Bahan baku sebaiknya berasal dari tumbuhan atau bijian yang segar yang langsung di dapat dari pemanenan, jangan yang telah tersimpan lama – mengapa – lihat pada Prinsip Dasar Fermentasi Silase.
1.Pemotongan atau Pencacahan Bahan Baku Ukuran pemotongan sebaiknya sekitar 5 centimeter. Pemotongan dan pencacahan perlu di lakukan agar mudah di masukan dalam silo dan mengurangi terperangkapnya ruang udara di dalam silo serta memudahkan pemadatan. Jika hendak menggunakan bahan tambahan, maka taburkan bahan tambahan tersebut kemudian di aduk secara merata, sebelum di masukan dalam silo
2.Masukan cacahan tersebut kedalam silo secara bertahap, lapis demi lapis.
3.Saat memasukan bahan baku kedalam silo secara bertahap, lakukan penekanan atau pengepresan untuk setiap lapisan agar padat. Kenapa harus di padatkan, karena oksigen harus sebanyak mungkin di kurangi atau di hilangkan sama sekali dari ruang silo – Lihat Prinsip Dasar Fermentasi Silase.
4.Lakukan penutupan dengan serapat mungkin sehingga tidak ada udara yang bisa masuk kedalam silo. (Lihat Prinsip Dasar Fermentasi Silase)
5.Biarkan silo tertutup rapat serta di letakan pada ruang yang tidak terkena matahari atau kena hujan secara langsung, selama tiga minggu
6.Setelah tiga minggu maka silase sudah siap di sajikan sebagai pakan ternak. Sedangkan untuk menilai kualitas hasil pembuatan silase ini bisa di lihat di Kriteria Silase yang baik, jika penilaian anda mendapatkan hasil 100 atau mendekati 100, maka cara and membuat silase sudah sangat baik, lakukan cara tersebut untuk pembuatan silase berikutnya.
7.Silo yang tidak di buka dapat terus di simpan sampai jangka waktu yang sangat lama asalkan tidak kemasukan udara.
8.Pemberian pada ternak yang belum terbiasa makan silase, harus di berikan sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan. Jika sudah terbiasa secara bertahap dapat seluruhnya diberi silase sesuai dengan kebutuhan.

Bagi Pemula:
Bagi pemula yang belum pernah membuat fermentasi silase, akan menganggap proses ini adalah proses yang sulit dan serba canggih. Namun jika telah mengetahui prinsip dasarnya maka pembuatan silse ini bukanlah merupakan sesuatu yang sulit ataupun aneh serba canggih serta padat teknologi. Sedikit menyinggung sejarah di temukannya silase; 
Pada jaman dahulu kala di daratan Eropa ada seorang penggembala sapi, yang selalu dengan rajin dan penuh perhatian pada ternak yang di gembalanya. Dia sangat memperhatikan keberadaan beberapa anak sapi gembalaannya yang sering tidak kebagian hijauan saat merumput. Kemudian dia menyabit rumput, yang kemudian dia tempatkan pada kantung kain tebal yang selalu dia bawa sebagai tempat menyimpan bekal makannya. Rumput yang di bawanya kemudian dengan penuh rasa kasih sayang di berikan pada anak-anak sapi setibanya di kandang.

Pada suatu ketika , setelah menyabit dan menempatkan rumput di dalam kantung tebalnya, anak–anak sapi tersebut selalu mendekatinya dan berusaha memakan rumput yang berada dalam kantung tersebut. Penggembala itu merasa kesal, menghardik agar anak sapi tersebut belajar merumput, kemudian dia mengubur kantung plastiknya di dalam tanah, agar anak sapi tersebut tidak manja dan mau berusaha lebih keras dalam merumput.

Sebagai manusia biasa si penggembala tidak bisa menemukan kembali kuburan kantung plastiknya, saat mereka pulang ke kandang.Beberapa minggu kemudian saat menggembala pada tempat yang sama dimana dia mengubur kantung plastiknya, secara kebetulan dia menemukan kembali kuburan tersebut.
Setelah di gali ulang, di buka dan dilihat isinya, ternyata rumput tersebut masih ada serta beraroma wangi dan berasa kemanisan. Dia coba berikan pada anak-anak sapi, ternyata mereka sangat menyukainya, demikian juga saat di berikan pada sapi dewasa lainnya.Sejak itulah proses fermentasi di kenal dan di pergunakan untuk mengawetkan hijauan.

Jika saat ini proses fermentasi silase terkesan serba scientific, itu karena para ilmuwan terus menyelidiki dan mengembangkannya , dengan menggunakan istilah-istilah yang ruwet njlimet serta susah di mengerti, walaupun tujuannya memudahkan bagi para peternak.

Bagi para pemula dan peserta yang belum pernah membuat fermentasi silase, lakukan tahapan pada penjelasan di atas, dengan sekala jumlah yang kecil terlebih dahulu.Gunakan kantung plastik bekas pembungkus sebagi silo, sebanyak sepuluh kantung silo atau kelipatan dari sepuluh. Perhatikan betul-betul jangan sampai ada yang bocor silo mini nya.Lima silo mini diperuntukan pembuatan silase tanpa bahan tambahan,lima lainnya untuk pembuatan silase dengan menggunakan bahan tambahan. Setiap minggu bukalah masing-masing satu silo yang memakai bahan tambahan dan yang tidak. Periksa dengan seksama hasilnya. Lakukan pencatatan dari apa yang anda temukan, bandingkan dengan penjelasan diatas.

Pada minggu ke empat dan kelima, anda akan mampu memberikan skore atau penilaian hasil fermentasi yang anda lakukan , dengan melihat Kriteria Silase yang baik di bawah ini.Setelah melakukan berulang ulang, maka anda akan merasakan bahwa proses pembuatan silase adalah suatu proses yang penuh dengan nuansa seni yang tinggi, sehingga sangat menyenangkan untuk di lakukan. Ketekunan, kecepatan, kebersihan serta kepatuhan pada prosedur dan tahap pembuatan silase, akan menentukan perbedaan hasil yang di dapat. Penilai ahir dari produksi silase anda , adalah ternak anda, jika ternak anda menyukainya, pertumbuhannya lebih baik, serta anda tidak takut lagi menghadapi kelangkaan hijauan saat musim panas yang panjang. Berarti anda telah meraih satu tahap kesuksesan dalam hidup anda. Tiada yang menilai kesuksesan anda, tiada yang memberikan penghargaan pada kesuksesan anda ini, namun dengan pasti kesuksesan berikutnya telah menanti anda.

Kriteria Silase yang baik :
Indikasi dan penjelasan serta nilai keberhasilannya:

KEWANGIAN
1. Wangi seperti buah-buahan dan sedikit asam, sangat wangi dan terdorong untuk mencicipinya. Nilai 25
2. Ingin mencoba mencicipinya tetapi asam, bau wangi Nilai 20
3. Bau asam, dan apabila diisap oleh hidung,rasa/wangi baunya semakin kuat atau sama sekali tidak ada bau. Nilai 10
4. Seperti jamur dan kompos bau yang tidak sedap. Nilai 0

RASA
5. Apabila dicoba digigit, manis dan terasa asam seperti youghurt/yakult. Nilai 25
6. Rasanya sedikit asam Nilai 20
7. Tidak ada rasa Nilai 10
8. Rasa yang tidak sedap, tidak ada dorongan untuk mencobanya. 0

WARNA
9. Hijau kekuning- kuningan. Nilai 25
10.Coklat agak kehitam-hitaman. Nilai 10
11.Hitam, mendekati warna kompos Nilai 0

SENTUHAN
12. Kering, tetapi apabila dipegang terasa lembut dan empuk. Apabila menempel ditangan karena baunya yang wangi tidak dicucipun tidak apa-apa. Nilai 25
13. Kandungan airnya terasa sedikit banyak tetapi tidak terasa basah. Apabila ditangan dicuci bau wanginya langsung hilang. Nilai 10
14. Kandungan airnya banyak, terasa basah sedikit (becek) bau yang menempel ditangan, harus dicuci dengan sabun supaya baunya hilang. Nilai 0

Jumlah nilai = Nilai wangi + Nilai rasa + Nilai warna + Nilai sentuh, angka 100 adalah yang terbaik

Penyimpanan Silase:
Silase dapat di simpan dalam waktu yang sangat lama selama tetap berada dalam keadaan kedap udara

Lesman 

Sabtu, 30 Januari 2010

Pembuatan Pakan Ternak dengan Urease

Selama ini penggunaan jerami padi hanyalah diberikan langsung kepada ternak saja. Jika dilihat dari nilai nutrisinya, jerami padi ini mempunyai kandungan protein 4,5 – 5,5%, lemak 1,4 - 1,7 %, serat kasar 31,5 – 46,5%, abu 19,9 – 22,9%, kalsium 0,19%, fosfor 0,1% dan BETN 27,8 – 39,9%. Dengan demikian karakteristik jerami padi sebagai pakan ternak tergolong hijauan bermutu rendah.

Selain kandungan nutrisinya yang rendah, jerami padi juga termasuk pakan hijauan yang sulit dicerna karena kandungan serat kasarnya tinggi sekali. Daya cerna yang rendah itu terutama disebabkan oleh struktur jaringan jerami yang sudah tua. Jaringan-jaringan pada jerami telah mengalami proses lignifikasi (pengerasan) sehingga terbentuk ligriselulosa dan lignohemiselulosa.

Selain oleh adanya proses lignifikasi, rendahnya daya cerna ternak terhadap jerami disebabkan oleh tingginya kandungan silikat. Lignifikasi dan silifikasi tersebut bersama-sama mempengaruhi rendahnya daya cerna jerami padi. Rendahnya protein kasar dan mineral pada jerami padi juga membawa efek langsung, yaitu jerami padi sulit dicerna kalau hanya diberikan secara tunggal untuk pakan ternak.

Rendahnya kandungan nutrisi jerami padi tersebut dan sulitnya daya cerna jerami maka pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia perlu diefektifkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara penambahan suplemen atau bahan tambahan lain agar kelengkapan nilai nutrisinya dapat memenuhi kebutuhan hidup ternak secara lengkap sekaligus meningkatkan daya cerna pakan.

Penambahan suplemen tersebut bisa menggunakan starbio atau urea atau pakan tambahan lainnya. Salah satu contoh urea, urea ini dapat memperbaiki nilai gizi jerami padi. Pemberian sedikit urea pada jerami dapat meningkatkan kandungan nitrogen pada jerami, jumlah jerami yang dikonsumsi, dan daya cerna jerami. Urea yang masuk rumen dihidrolisa/dipecah dengan cepat oleh enzim urease dan mikroba rumen menjadi amnia. Dan amonia ini akan digunakan oleh mikroba rumen untuk aktivitas sintesis protein sehingga bisa membuat jerami padi menjadi lebih baik untuk dikonsumsi dan daya cernanya yang tinggi.

Bahan yang digunakan adalah jerami padi sebanyak 100 kg, urea padatan sebanyak 4 kg (4% dari 100 kg), air secukupnya, dan penutup jerami padi tersebut agar terjadi reaksi anaerob.

Cara pembuatan jerami fermentasi atau urease jerami dengan menggunakan bahan tambahan urea adalah :

1) Jerami padi ditambahkan urea sebanyak 4 % dalam 100 kg jerami.
2) Urea padatan sebanyak 4% dilarutkan dengan sedikit air supaya lebih merata saat disemprotkan.
3) Jerami ditumpuk, lalu baru disemprotkan larutan urea diatasnya dan kembali diberi jerami, dan seterusnya hingga jerami habis.
4) Setelah selesai jerami tadi ditutup agar terjadi reaksi anaerob dan didiamkan selama 2 minggu.
5) Setelah 2 minggu, jerami fermentasi sudah dapat diberikan

Wahyu_site

Rabu, 21 Oktober 2009

Penyebab Abortus Pada Hewan

Abortus atau keluron adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup, sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum masa akhir kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri di luar tubuh induk (Toelihere, 1985).
Abortus dapat terjadi pada berbagai umur kebuntingan dari 42 hari sampai saat akhir masa kebuntingan. Abortus dapat terjadi bila kematian fetus di dalam uterus disertai dengan adanya kontraksi dinding uterus sebagai akibat kerja secara bersama-sama dari hormon estrogen, oksitosin, dan prostaglandin F2? pada waktu terjadinya kematian fetus itu. Oleh karena itu fetus yang telah mati terdorong keluar dari saluran alat kelamin (Hardjopranjoto, 1995).
Penyebab abortus secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu abortus karena sebab-sebab infeksi dan, abortus karena sebab-sebab non infeksi.


Abortus karena infeksi


Brucellosis

Sifat dan Kejadian
Brucellosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder beberapa jenis hewan lainnya dan manusia. Brucellosis disebabkan bakteri Brucella abortus (Anonim, 1978). Abortus karena Br. abortus umumnya terjadi dari bulan ke-6 sampai ke-9 periode kebuntingan. Kejadian abortus berkisar antara 5-90% di dalam suatu kelompok ternak tergantung pada berat ringan infeksi, daya tahan hewan bunting, virulensi organisme dan faktor-faktor lain (Toelihere, 1985).

Terjadinya keguguran setelah kebuntingan 5 bulan merupakan petunjuk kunci untuk menemukan penyakit ini. Seekor sapi betina setelah keguguran itu masih mungkin bunting lagi tetapi tingkat kelahiran akan rendah dan tidak teratur (Blakely & Bade, 1991). Sedangkan menurut Akoso (1990), terjadinya keguguran karena penyakit ini biasanya pada usia kebuntingan 7 bulan. Kemungkinan selaput janin akan tertinggal lama dan menyebabkan sapi menjadi mandula dalah merupakan gejala penyakit ini

Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui ingesti makanan dan air yang terkontaminasi oleh kotoran-kotoran dari alat kelamin hewan yang mengalami abortus. Disamping itu penularannya dapat juga terjadi melalui selaput lendir mata dan melalui IB dengan semen terinfeksi. Anak sapi yang menyusu dari induk yang tertular juga dapat tertulari (Toelihere, 1985).

Patogenesis
Permulaan infeksi brucellosis terjadi pada kelenjar limfe supramamaria. Pada uterus, lesi pertama terlihat pada jaringan ikat antara kelenjar uterus mengarah terjadinya endometritis ulseratif, kotiledon kemudian terinfeksi disertai terbentuknya eksudat pada lapisan allantokhorion. Brucella banyak terdapat pada vili khorion, karena terjadi penghancuran jaringan, seluruh vili akan rusak menyebabkan kematian fetus dan abortus. Jadi kematian fetus adalah gangguan fungsi plasenta disamping adanya endotoksin. Fetus biasanya tetap tinggal di uterus selama 24-72 jam setelah kematian. Selaput fetus menderita oedematous dengan lesi dan nekrosa (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Upaya yang dapat dilakukan terhadap pencegahan penyakit ini adalah memisahkan sapi yang menderita abortus pada tempat yang terisolasi, menghindari perkawinan antara pejantan dengan betina yang menderita abortus, jangan memberikan susu pada sapi dengan susu sapi yang menderita abortus, selalu memperhatikan kebersihan baik kandang maupun peralatan kandang dan peralatan pemerah yang digunakan, serta melaksanakan vaksinasi secara teratur (Siregar, 1982). Apabila terjadi abortus akibat Brucella abortus fetus dan placenta yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis (Toelihere, 1985).



Leptospirosis

Sifat dan Kejadian
Leptospirosis pada sapi disebabkan oleh spirocheta yang kecil dan berbentuk filamen, yang terpenting diantaranya adalah Leptospira pamona, L. hardjo, L. grippotyphosa dan L. conicola. Organisme ini mudah dimusnahkan oleh panas, sinar matahari, pengeringan, asam, dan desinfektan. Leptospira dapat hidup selama beberapa hari atau minggu dalam lingkungan yang lembab pada suhu sedang seperti di tambak, aliran air yang macet atau di tanah basah (Toelihere, 1985).
Air merupakan media penyebaran utama untuk penyakit ini. Penularannya dapat pula melalui luka, semen, baik perkawinan alamiah maupun perkawinan dengan IB. selain dapat menular ke ternak lain penyakit ini juga dapat menular ke manusia (Blakely &Bade, 1991). Pembawa utama Leptospira adalah rodentia. Anjing dan babi dapat berfungsi sebagai pembawa potensial (Anonim, 1980).
Penyebaran Leptospirosis bergantung pada keadaan luar, yaitu penyebarannya terutama melalui air dan lumpur. Hewan biasanya mengeluarkan Leptospira melalui air kemih. Bila air kemih in tiba di dalam air atau lumpur yang sedikit alkali atau netral maka Leptospira itu dapat tinggal hidup berminggu-minggu. Bila hewan atau orang kontak langsung dengan air atau lumpur ini maka ia terinfeksi. Leptospira ini masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir konjungtiva, mulut, hidung dan luka kulit.

Patogenesis
Setelah infeksi terjadi pada sapi, Leptospira masuk dan berkembang di dalam aliran darah. Masa inkubasi terjadi 4-10 hari dengan fase bakteremia yang akan berakhir kira-kira 7 hari, diikuti pengeluaran Leptospira dalam air susu dan terjadi kerusakan fungsi ginjal. Dengan terbentuknya antibody dalam sirkulasi darah setelah 5-10 hari bakteremia berhenti, bakteri akan melokalisir dan menetap di sejumlah organ tubuh terutama tubulus renalis ginjal dan alat kelamin dewasa. Selanjutnya Leptospira dikeluarkan dalam urine selama 20 bulan atau lebih, tergantung pada serotype dan umur sapi. Pada induk sapi yang bunting maupun tidak bunting Leptospira akan menetap pada uterus pasca infeksi. Lokalisasi Leptospira pada uterus yang bunting dapat menulari fetus, diikuti dengan keluarnya kotoran yang mengandung Leptospira dari alat kelamin sampai 8 hari pasca lahir. Leptospira dapat juga menetap di tuba falopii 22 hari setelah melahirkan (Hardjopranjoto, 1995).
Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan tindakan-tindakan higienik dan sanitasi, vaksinasi dan pengobatan antibiotika. Bakterin dapat memberi kekebalan yang baik selama 2 sampai 12 bulan. Oleh karena itu vaksinasi memakai bakterin sebaiknya dilakukan 2 kali dalam 1 tahun. Pengobatan terhadap leptospirosis akut meliputi penyuntikan antibiotika dalam dosis tinggi seperti 3 juta satuan penicillin dan 5 gram streptomycin 2 kali sehari atau 2,5-5 gram tetracycline per 500 kg berat badan setiap hari selama 5 hari (Toelihere, 1985). Sedangkan cara pengendalian yang ideal adalah dengan penyingkiran hewan pembawa (Anonim, 1980).


Camphylobacteriosis

Sifat dan Kejadian
Camphylobacteriosis yang disebabkan oleh Camphylobakter foetus veneralis (dahulu disebut Vibrio fetus veneralis) adalah salah satu penyakit penyebab utama kegagalan reproduksi pada sapi yang disebarkan melalui perkawinan. Umumnya ditemukan kematian embrio dini atau abortus pada bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Toelihere, 1985).
Penyebarannya lewat ingesti, masuk darah menyebabkan plasentitis dengan kotiledon hemoragik dan sekitar interkotiledonaria mengalami udema (Prihatno, 2006).

Patogenesis
Infeksi Camphylobacter fetus venerealis pada sapi betina akan diikuti oleh endometritis, ditandai dengan adanya kerusakan pada endometrium yang mencapai puncaknya pada 8-13 minggu setelah penularan, disertai keluarnya cairan keruh kemudian berubah menjadi mukopurulen yang kadang-kadang diikuti salphingitis. Eksudat ditemukan dalam kelenjar uterus disertai infiltrasi limfosit ke dalam rongga periglandular. Karena adanya endometritis, embrio akan memperoleh oksigen lebih sedikit, sehingga akan mati dalam waktu yang singkat tanpa gejala yang jelas. Abortus terjadi pada umur 2-3 bulan dengan selaput fetus yang utuh pada waktu diabortuskan (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian yaitu IB dengan semen sehat yang berasal dari pejantan yang sehat pula, hewan betina atau pejantan yang terkena harus istirahat kelamin selama 3 bulan dan vaksinasi dengan bakterin 30-90 hari sebelum dikawinkan atau setiap tahun (Prihatno, 2006). Sedangkan pengobatannya dapat dilakukan dengan pemberian antibiotic berspektrum luas baik pejantan maupun betina (Prihatno, 1994).

Infectious Bovine Rhinotracheitis dan Infectious Pustular Vulvovaginitis (IBR-IPV)

Sifat dan Kejadian
Penyakit ini baru dikenal sejak tahun 1950 di Amerika Serikat yang disebabkan oleh virus. Penyebaran virus ini adalah melalui udara yaitu pada saat banyak hewan berkumpul. Hingga sekarang hanya sapi yang diketahui peka terhadap penyakit ini. Infeksi buatan dapat dilakukan denan inhalasi larutan yang mengandung virus di dalam hidung atau dengan injeksi intra tracheal (Ressang, 1984). Kejadian abortus dapat setiap saat, tetapi umumnya mulai bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Prihatno, 2006).
Penularan penyakit ini dapat secara vertikal maupun horizontal. Secara vertical dapat melalui infeksi intra uterine, sedangkan secara horizontal dapat melalui inhalasi dari cairan hidung dan melalui semen yang mengandung virus (Anonim, 1982).

Patogenesis
Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4-6 hari. Infeksi virus ini menyebabkan lepuh-lepuh pada mukosa vulva dan vagina, yaitu dimulai dengan bintik-bintik merah sebesar jarum pentul yang dalam waktu 2-3 hari akan membesar. Lepuh-lepuh ini berdinding tipis dan berisi cairan. Sapi yang terinfeksi mengalami demam yang disertai radang vagina. Dari vulva akan keluar cairan yang mula-mula bening kemudian bersifat nanah. Infeksi virus ini juga menyebabkan lepuh-lepuh pada fetus.dan nekrosis pada bagian korteks ginjal fetus (Hardjopronjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Vaksinasi terhadap sapi-sapi yang tidak bunting dengan kombinasi IBR-IPV dan BVD-MD pada usia 6-8 bulan dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini. Sapi yang terkena diisolasi dan diistirahatkan kelamin selama kurang lebih 1 bulan kemudian untuk mencegah infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik (Prihatno, 1994).


Bovine Virus Diarrhea Mucosal Disease (BVD-MD)

Umumnya menyerang sapi dan menyebabkan infertilitas. Pada sapi bunting yang terinfeksi dapat menyebabkan abortus.abortus dapat terjadi pada usia kebuntingan 2-9 bulan dan sangat menular. Penularan dapat lewat oral atau parenteral, urin atau feses. Infeksi pada fetus antara hari ke 45 dan 125 kebuntingan dan mungkin menyebabkan kematian fetus, abortus, resorbsi, fetal immunotoleran, dan infeksi persisten. Gejala yang nampak adalah demam tinggi, depresi, anoreksia, diare, dan produksi susu turun.

Patogenesis
Masa inkubasi secara alami berlangsung selam 21 hari. Virus masuk ke dalam aliran darah setelah terjadinya penularan (viremia), kemudian diikuti dengan timbulnya kerusakan-kerusakan sel epitel pada mukosa saluran pencernaan. Pada hewan yang buting virus ini menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh infeksi pada fetus, kemudian diikuti abortus atau kelahiran anak yang abnormal (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Diagnosanya sulit karena tidak ada lesi spesifik pada fetus. Uji serologik untuk menentukan titer antibodi mungkin dapat membantu diagnosa. Pencegahan dengan mengeleminir sapi terinfeksi dan melakukan vaksinasi (Prihatno, 2006).


Epizootic Bovine Abortion (EBA)

Sifat dan Kejadian
Epizootic Bovine Abortion (EBA) disebabkan oleh Chlamydia psittasi dan vektornya adalah Ornithodoros coriaceus. Penyakit ini menyebabkan abortus yang tinggi (30-40%) pada tri semester akhir kebuntingan pada sapi dara (Prihatno, 2006).

Menurut McKercher (1969) yand disitasi oleh Toelihere (1985) penyakit ini terutama menyerang fetus dan menyebabkan abortus pada umur kebuntingan 7, 8, dan 9 bulan. Beberapa fetus dilahirkan mati atau anak sapi lahir hidup tetapi lemah dan mati beberapa waktu kemudian. Gejala penyakit ini dapat dilihat dengan adanya kerusakan menyolok pada fetus yang diabortuskan pada placenta ada bercak-bercak (Partodiharjo, 1987).

Patogenensis
Virus ini terutama menyerang fetus, ditandai adanya haemorrhagia petechial pada mukosa konjungtiva, mulut dan kulit fetus. Terdapat cairan berwarna jerami umumnya terdapat di dalam rongga tubuh. Infeksi virus ini pada fetus menyebabkan hati membengkak, berbungkul kasar dan berwarna kuning dan hampir semua kelenjar limfa membengkak dan oedematous (Toelihere, 1985).

Pengendalian dan Pencegahan
Melihat ganasnya penyakit ini, maka diperkirakan penyebaran yang cepat dan antibodi yang terbentuk cukup kuat dalam tubuh sapi, dapat diperkirakan vaksin akan mudah didapat. Tetapi kenyataannya sampai sekarang belum ada vaksinnya (Partodiharjo, 1987). Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan mengisolasi dan mengobati hewan yang terinfeksi disamping pemberian vaksinasi tetapi belum ada vaksinnya (Prihatno, 1994).


Aspergillosis

Sifat dan Kejadian
Aspergillosis adalah penyakit jamur pada unggas, burung liar termasuk penguin, dan mamalia yang sudah lama dikenal. Jenis Aspergillus yang dianggap patogen untuk hewan adalah Aspergillus flavus, A. candidus, A. niger, A. glaucus. Ummnya penyakit ini bersifat menahun, akan tetapi pada hewan muda dapat berjalan akut. Pada sapi jamur dapat menyebabkan abortus bila jamur berlokasi di selaput fetus (Ressang, 1984).
Hampir semua abortus pad sapi disebabkan oleh Aspergillus fumigatus dan Mucorales. Kebanyakan abortus terjadi pada bulan ke-5 sampai ke-7 masa kebuntingan, tetapi dapat berlangsung dari bulan ke-4 sampai waktu partus. Fetus umumnya dikeluarkan dalam keadaan mati, tetapi beberapa kasus terjadi kelahiran prematur (Toelihere, 1985). Organ reproduksi yang sering ditumbuhi jamur adalah uterus (Robert, 1986).

Patogenesis
Jamur masuk lewat inhalasi sampai ke paru-paru, spora akan mengikuti aliran darah menuju plasenta dan menyebabkan plasentitis diikuti oleh kematian fetus dan abortus. Jamur juga dapat masuk ke tubuh melalui makanan, lewat ingesti spora masuk rumen menyebabkan rumenitis kemudian masuk ke dalam darah menuju plasenta dan menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh abortus (Prihatno, 2006).

Pengendalian dan Pencegahan
Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara antara lain : menyingkirkan hewan penderita, menghindari pemberian makanan bercendawan, memusnahkan sumber cendawan Aspergillus, memberikan perawatan dan makanan hewan untuk mempertinggi daya tahan tubuh, bekas tempat sapi yang terinfeksi didesinfeksi. Pengobatannya dengan griseofulvin untuk hewan besar memberikan hasil yang memuaskan tetapi biaya cukup mahal (Anonim, 1981).


Trichomoniasis

Sifat dan Kejadian
Trichomoniasis adalah penyakit venereal yang ditandai dengan sterilitas, abortus muda, dan pyometra, yang disebabkan oleh Trichomonas foetus. Abortus terjadi antara minggu pertama dan minggu ke-16 masa kebuntingan (Toelihere, 1985). Penularan dari sapi betina ke sapi yang lain terjadi melalui pejantan yang mengawininya. Penyakit ini pada tingkatan yang lanjut menunjukkan keadaan preputium penis sapi jantan yang mengalami peradangan, meskipun penyakit ini dapat pula ditularkan melalui IB (Blakely & Bade, 1991).
Gejala penyakit ini ditandai dengan siklus estrus yang pendek tidak teratur, dan pada umumnya menyebabkan infertilitas yang bersifat sementara. Sering sekali ditemui abortus muda (umur 4 bulan atau kurang) dan kejadian pyometra (Partodiharjo, 1987).

Patogenesis
Pada vagina trichomonisis menimbulkan vaginitis kataralis, yang mukosa vaginanya berwarna kemerahan dan basah. Pada infeksi yang kronis didapatkan udemaa pada vulva. Pada uterus infeksi T. fetus menyebabkan endometritis kataralis yang dapat berubah menjadi purulen. Apabila sapi bunting, keradangan pada kotiledon mengakibatkan kemtian dan maserasi fetus atau abortus, kemudian disusul terjadinya piometra. Pada kasus tersebut corpus luteum gravidatum tetap berkembang dan disebut corpus luteum persisten. Plasenta mengalami penebalan dilapisi sejumlah kecil gumpalan eksudat berwarna putih kekuningan. Pada kotiledon sedikit nekrosis (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan pengobatan antibiotik secara lokal pada betina terinfeksi. Sedangkan pada pejantan terinfeksi dilakukan pembilasan kantong penis dengan antibiotik atau antiseptika ringan cukup membinasakan T. fetus. Disamping itu pengolahan semen yang digunakan untuk IB dengan baik merupakan cara pemberantasan Trichomoniasis (Partodiharjo, 1987). Semen yang beredar secara komersial dapat diberi perlakuan khusus dengan pemberian antibiotik untuk menghindari ancaman infeksi sapi betina yang di IB. pengobatan terhadap Trichomonisis dapat berhasil secara efektif dengan menggunakan antibiotik spektrum luas baik untuk pejantan maupun betina. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah isolasi dan memberikan waktu istirahat untuk kegiatan seksual (Blakely & Bade, 1991).


Abortus karena sebab-sebab non infeksi

Abortus karena faktor genetik
Inbreeding menyebabkan kematian embrio, abortus dan kelahiran anak yang mati karena konsentrasi gen-gen letal perzigot lebih tinggi dibandingkan dengan pada crossbreeding (Toelihere, 1985). Gen lethal yang diperoleh dari induk dan bapaknya, dapat menyebabkan abortus. Kelainan kromosom baik pada autosom maupun kromosom kelamin juga dapat menyebabkan abortus (Hardjopranjoto, 1995).
Sebelum implantasi, embrio lebih mudah terkena pengaruh mutasi genetic dan kelainan kromosom diikuti oleh kematian fetus. Kelainan kromososm dapat dibedakan atas kelainan jumlah kromosm dan struktur kromosom. Kejadian ini dapat berlangsung karena kegagalan penyebaran kromosom atau susunan kromatin dalan sel tubuh penderita, terjadi selama berlangsungnya proses meiosis dan mitosis dari sel ovum atau sel sperma yang dapat menghasilkan dua bentuk sel yang poliploid. Yang dimaksud dengan poliploid adalah penambahan jumlah kromosom yang normal (2n+1) (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena sebab-sebab hormonal
Senyawa estrogenik bila diberikan dalam dosis tinggi untuk periode yang lama dapat menyebabkan abortus pada sapi (Toelihere, 1985). Hormon estrogen dihasilkan oleh folikel ovarium dan mempunyai fungsi stimulasi kontraksi uterus, juga menyebabkan uterus lebih peka terhadap pengaruh oksitosin pada saat menjelang partus. Estrogen bekerjasama dengan relaksin dapat merelaksasi servik dan ligamentum pelvis. Pada periode kebuntingan gangguan ketidakseimbangan hormone dapat menyebabkan terjadinya abortus (Hardjopranjoto, 1995).
Defisiensi progesteron merupakan penyebab abortus muda pada sapi. Abortus karena defisiensi progesteron dapat terjadi pada 45 sampai 180 hari masa kebuntingan, tetapi lebih sering pada 100 hari masa kebuntingan(Toelihere, 1985). Progesterone dihasilkan oleh korpus luteum dan mempunyai fungsi berhubungan dengan pertumbuhan sel-sel endometrium sebelum dan selama hewan bunting. Kemampuan korpus luteum gravidatum untuk menghasilkan hormone progesterone dapat mempertahankan kebuntingan (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena defisiensi makanan
Malnutrisi untuk waktu yang lama menyebabkan penghentian siklus birahi dan kegagalan konsepsi. Defisiensi makanan dan kelaparan yang parah dapat menyebabkan abortus (Toelihere, 1985).
Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan abortus pada sapi umur kebuntingan tua atau terjadi kelahiran anak lemah atau mati. Provitamin A dapat dipecah menjadi vitamin A oleh dinding usus. Kekurangan vitamin A dalam ransom dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesuburan sampai pada tingkat kemajiran.pada induk yang sedang bunting, kekurangan vitamin A dapat diikuti oleh abortus. Ini disebabkan kekurangan vitamin A meyebabkan terjadinya keratinisasidari epitel uterus, sehingga proses implantasi menjadi terganggu dan meyebabkan degenerasi plasenta (Hardjopranjoto, 1995). Apabila kebuntingan berlangsung sampai akhir waktunya, kelahiran mungkin sulit terjadi dan disusul olen infeksi dan retensio secundinae (Toelihere, 1985). Hal yang sama juga pernah dilaporkan tentang defisisensi selenium (Toelihere, 1985). Kekurangan selenium dapat menyebabkan terjadinya degenerasi urat daging jantung dan rangka dari fetus, sehingga menyebabkan kematian fetus tersebut (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena keracunan (bahan toksik)
Keracunan nitrat yang banyak dikandung oleh rumput liar dirawa-rawa atau daun cemara (pinus ponderosa) bila termakan dalam jumlah besar pada induk yang sedang bunting, dapat menyebabkan abortus pada 21-142 hari kemudiansesudah ingesti. Abortus dapat terjadi pada umur kebuntingan 6-9 bulan. Anak sapi dapat lahir premature, lemah dan mati sesudah beberapa waktu, sering juga terjadi retensi secundae. Bahan toksik yang terkandung di dalam daun pinus mungkin adalah suatu zat anti estrogenic yang akan mempengaruhi metabolisme tubuh terutama menekan sekresi kelenjar kelamin. Daun lamtoro yang diberikan dalam jumlah besar dapat menyebabkan abortus karena racun mimosin yang dikandung. Racun mimosin bila termakan induk hewan yang bunting secara berlebihan dapat mempengaruhi metablisme hormonal, sehingga menyebabkan penurunan respon ovarium terhadap sekresi hormone gonadotropin (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena gangguan dari luar tubuh induk
Stress karena panas dapat menyebabkan hipotensi fetus, hypoxia, dan asidosis (Prihatno, 2006). Suhu yang panas dapat menyebabkan penurunan kadar hormone reproduksi seperti FSH dan LH, selain itu juga dapat menyebabkan penurunan volume darah yang mengalir ke alat reproduksi, sehingga menyebabkan perubahan lingkungan uterus yang lebih panas dan menambah kemungkinan kematian fetus (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena sebab-sebab fisik
Pemecahan kantong amnion dengan penekanan manual pada kantung amnion selama kebuntingan muda, 30-60 hari umur kebuntingan dapat menyebabkan abortus. Sebab utama kematian fetus adalah rupture jantung atau pecahnya pembuluh darah pada dasar jantung fetus yang menyebabkan perdarahan ke dalam kantung amnion. Pemecahan corpus luteum gravidatum/verum pada ovarium akan disusul abortus beberapa hari kemudian. Pada sapi corpus luteum diperlukan selama periode kebuntingan dan kelahiran normal. Corpus luteum menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi untuk pertumbuhan kelenjar endometrium, sekresi susu uterus, pertumbuhan endometrium dan pertautan placenta untuk memberi makan kepada fetus yang berkembang, dan menghambat pergerakan uterus untuk membantu pertautan placenta. Sehingga penyingkiran corpus luteum kebuntingan pada sapi pasti menyebabkan abortus (Toelihere, 1985).

Abortus karena sebab-sebab lain
Kembar pada sapi menyebabkan lebih banyak kelahiran prematur, abortus, distokia, dan kelahiran anak yang lemah atau mati dibandingkan fetus tunggal (Toelihere, 1985). Banyaknya fetus yang ditampung oleh kedua cornua uteri dari seekor induk sangat tergantung kepada sifat genetisnya. Makin bertambahnya jumlah fetus, makin bertambah pula jumlah plasentanya dan makin bertambah ruangan didalam uterus yang dibutuhkan, serta makin bertambah kebutuhan darah untuk fetusnya. Namun demikian, kemapuan rongga uterus untuk menampung fetus secara alamiah adalah terbatas. Dengan bertambahnya fetus di dalam uterus di luar kemampuannya, dapat mengurangi penyediaan darah pada tiap fetus. Kondisi sepetri ini cenderung menyebabkan kematian fetus, khususnya bila fetus berada dalam satu cornua (Hardjopranjoto, 1995).

Penyebab Kematian Embrio Dini Pada Sapi

Kematian embrio diartikan sebagai kematian fertilitas ovum dan embrio sampai dengan akhir implantasi. Kurang lebih 25-40% kasus kematian embrio dini terjadi dalam suatu peternakan. Kematian ini lebih sering terjadi pada periode awal embrio daripada periode akhir. Kematian embrio dini dianggap sebagai proses eliminasi genotip yang tidak sehat/baik pada setiap generasi atau adanya kebuntingan ganda pada sapi dan domba.
Setelah terjadi proses pembuahan yang terjadi pada bagian ampula dari tuba falopii, individu baru yang terbantuk disebut zigot. Zigot setelah membelah (cleavage) disebut embrio. Embrio dalam perkembangannya akan berpindah menuju rongga uterus disusul dengan proses implantasi, yaitu upaya embrio untuk mengadakan hubungan langsung dengan dinding uterus sehingga terjadi hubungan yang erat antara embrio dengan dinding uterus induknya.

PENYEBAB KEMATIAN EMBRIO DINI
Berbagai faktor yang memegang peranan penting dalam mempengaruhi perkembangan embrio atau fetus didalam uterus induknya. Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kematian embrio dini adalah :
1. Genetik
Kematian embrio karena faktor genetik diturunkan melalui gen letal atau terjadi mutasi selama gametogenesis yang menyebabkan gangguan fertilitas. Kematian embrio dini pada sapi sering terjadi karena perkawinan inbreeding atau perkawinan sebapak atau seibu, sehingga sifat jelek yang dimiliki induk akan lebih sering muncul pada turunannya. Kematian embrio dini karena faktor genetik memegang peranan cukup besar, yaitu sekitar 33 % dari seluruh kasus kematian embrio dini. Sebelum implantasi, embrio lebih mudah terkena pengaruh mutasi genetik dan kelainan kromosom (chromosomal aberration) diikuti oleh kematian embrio dini. Kelainan kromosom dapat dibedakan atas kelainan jumlah kromosom dan struktur kromosom. Kejadian ini tetap berlangsung karena kegagalan penyebaran kromosom atau susunan kromatin dalam sel tubuh penderita yang terjadi selama berlangsungnya proses meiosis dan mitosis dari sel telur atau sel mani yang dapat menghasilkan 2 bentuk sel yang poliploid. Aneuploid adalah kelainan kromosom hewan yang dapat terjadi karena pengurangan jumlah kromosom yang normal (2n-1), sedang poliploid adalah penambahan jumlah kromosom yang normal (2n+1). Kelainan tersebut di atas dapat menyebabkan kematian embrio dini pada sapi. Bentuk kelainan kromosom yang menyebabkan kematian embrio dini ini dapat terjadi pada sapi usia kebuntingan 8-16 hari.

2. Hormonal
Cepat dan lambatnya transport dari ovum dipengaruhi oleh keseimbangan estrogen-progesteron, yang juga akan mempengaruhi kematian embrio preimplantasi. Ketidakseimbangan kedua hormon tersebut akan menyebabkan regresi korpus luteum dan berakhirnya kebuntingan.
Periode kritis dari kehidupan embrio adalah pada periode akhir blastosis. Normalnya korpus luteum akan menghasilkan progesteron yang beraksi menutup saluran reproduksi betina sesuai dengan perkembangan embrio.
Kematian embrio pada sapi sebenarnya tidak disebabkan oleh kurangnya progesteron selama fase luteal, tetapi karena regresi dari luteal sebelum kematian embrio. Kurangnya respon terhadap hormon luteotropik juga berpengaruh pada kematian embrio pada sapi-sapi subfertil.

3. Nutrisi
Pemenuhan kebutuhan kalori dan kurangnya nutrisi spesifik (lemak, vitamin E, selenium, zing, tembaga, mangaan) akan mempengaruhi rata-rata ovulasi , fertililisasi dan juga kematian embrio dini. Sapi dengan konsumsi “rumen degradable protein” yang tinggi akan menyebabkan kematian embrio karena akan menurunkan pH lingkungan uterus selama fase luteal dimana embrio harus tumbuh. Konsumsi lemak pada sapi akan mempengaruhi produksi progesteron yang sangat penting untuk implantasi dan sebagai nutrisi yang penting untuk pembentukan awal embrio. Salah satu efek dari peningkatan konsumsi lemak akan meningkatkan ukuran folikel ovarium yang akan meningkatkan ukuran korpus luteum sehingga produksi progesteron juga tinggi.

4. Umur
Kematian embrio tinggi pada hewan yang telah bunting 5 kali dibandingkan dengan hewan muda.

5. Jumlah embrio pada uterus
Banyaknya embrio pada uterus akan berpengaruh pada tersedianya ruang untuk perkembangan embrio, suplai darah. Pada sapi dengan kebuntingan kembar lebih besar kemungkinan terjadi kematian embrio daripada bunting tunggal karena berkurangnya ruang untuk perkembangan embrio dan perebutan nutrisi intrauterin. Kematian embrio terjadi pada 3 atau 4 minggu pertama kebuntingan.

6. Suhu
Kematian embrio terjadi pada induk yang terekspos suhu tinggi seperti pada daerah tropis. Fertilisasi pada domba dan sapi pada suhu tinggi akan terganggu walaupun tetap berkembang dan akan mati pada periode kritis saat implantasi. Berkurangnya fertilisasi mungkin karena penurunan daya hidup dan perkembangan embrio pada umur 6-8 hari dan kematian embrio juga dilaporkan pada sapi-sapi yang di Inseminasi Buatan pada saat musim panas.
Stress karena panas pada usia kebuntingan 8-17 hari akan mengubah lingkungan uterus yang tidak sesuai untuk pertumbuhan embrio dan aktivitas sekretori saat bunting.
Panas akan mengantagonis efek penghambatan sekresi PGF2 dari uterus, sehingga korpus luteum akan mengalami regresi dan kebuntingan tidak dapat dipertahankan.

7. Lingkungan kandang
Sapi yang diternakkan dalam jumlah banyak dengan sedikit pengawasan akan menyebabkan sapi tidak diperhatikan dan juga mungkin program recordingnya tidak bagus sehingga terjadi kesalahan pada saat dikawinkan misalnya terlalu cepat atau terlalu lama dikawinkan.

8. Infeksi
Beberapa infeksi yang dapat menyebabkan kematian embrio dini adalah :
a. Brucellosis
Pada sapi brucellosis umumnya disebabkan oleh Brucella abortus , sedangkan pada kambing dan domba disebabkaan oleh Brucella melitensis. Brucellosis akan menimbulkan gejala retensi plasenta dan metritis.
b. Vibriosis
Vibriosis disebabkan oleh Vibrio fetus venerealis atau Campylobacter foetus venerealis. Gejala khas dari vibriosis adalah endometritis dan salphingiitis. Jika terjadi fertilisasi maka akan tejadi kematian embrio dini.Siklus estrus juga akan diperpanjang 27-57 hari.
c.Trikomoniasis
Trikomoniasis disebabkan oleh Tritrichomonas fetus yang juga akan menyebabkan kematian embrio dini. Infeksi ini akan menyebabkan kemajiran, S/C yang tinggi (5x lebih), angka kebuntingan yang rendah, abortus dini dan pyometra.

9.Lingkungan uterus
Adanya endometritis parturient dan tidak kondusif untuk kebuntingan mungkin juga disebabkan ingesti substansi steroid eksogenik atau ketidakcukupan sekresi endogen progesteron.

10. Laktasi
Selama periode laktasi, kematian embrio dini dapat terjadi ternak sapi. Terjadinya kematian embrio dini ditandai dengan perpanjangan waktu siklus birahi setelah IB yang terakhir. Pengaruh buruk dari laktasi terhadap perkembangan embrio sampai saat ini belum jelas benar. Diduga ada hubungan dengan ketidakseimbangan hormonal selama laktasi, khususnya hormon progesteron terhadap kehidupan embrio dalam uterus. Tetapi, mungkin juga karena stress menyusui atau produksi susu yang tinggi menyebabkan embrio dalam uterus tidak cukup pakan untuk perkembangannya. Disamping itu ada kemungkinan bahwa proses involusi uteri yang belum sempurna setelah melahirkan, bila terjadi pembuahan dapat menurunkan kemampuan embrio yang terbentuk dalam mengadakan perlekatan pada dinding uterus pada proses implantasi, sehingga mudah terjadi kematian embrio dini.

11. Faktor kekebalan
Setelah proses pembuahan, pada tubuh induk terjadi persentuhan dengan antigen berasal dari sperma dan embrio. Jika mekanisme immunosupresi tidak berjalan dengan baik, maka antibodi yang terbentuk akan mengganggu kehidupan embrio di dalam uterus. Ketidakcocokan antara unsur kekebalan yang berasal dari induk dengan embrio dapat menyebabkan kematian embrio, kematian fetus atau pedet yang baru dilahirkan. Pada sapi penderita dengan golongan darah yang mengandung zat transferin (beta globulin) dan antigen “J” di dalam serum darah, dapat bertindak sebagai penyebab kematian embrio sehingga menimbulkan angka kebuntingan.

12. Kesuburan sperma
Waktu subur (fertile life) dari sperma berkisar antara 18-24 jam. Penyimpanan sperma (baik penyimpanan dingin maupun beku) dapat menurunkan kesuburan sperma. Kesuburan sperma yang menurun karena disimpan, mempunyai peranan dalam mendorong terjadinya kematian embrio dini. Dari pengalaman di lapangan tentang pengenceran dan penyimpanan sperma sapi pada suhu rendah menyimpulkan bahwa tidak ada akibat kematian embrio bila diinseminasikan pada sapi aseptor IB. Inseminasi buatan yang dilakukan pada induk sapi yang terlalu awal dari masa birahi, dapat menyebabkan sperma menjadi terlalu tua pada saat proses pembuahan. Akibatnya zigot yang terbentuk dalam keadaan lemah, yang dalam perkembangannya akan diikuti oleh kematian embrio dini.

Minggu, 18 Oktober 2009

Distomatosis Pada Hewan Qurban


Produksi daging sapi meskipun menduduki ranking kedua setelah produksi daging unggas, tetapi sampai saat ini masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan daging secara keseluruhan.

Kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas peternakan rakyat adalah peternak masih berpikiran beternak adalah usaha sambilan. Usaha yang perlu ditempuh adalah memperbaiki tatalaksana budidaya mulai dari pemilihan bibit, pakan, pemeliharaan sampai pakan termasuk di dalamnya manajemen kesehatan (Anonim, 2001).

Berkaitan dengan masalah pemeliharaan, masih banyak yang harus mendapatkan perhatian agar angka kelahiran dapat ditingkatkan setinggi mungkin sedangkan angka kematian dapat ditekan serendah mungkin. Pengendalian terhadap penyakit infeksius maupun non-infeksius seperti parasit sering dianggap sepele dan kurang diperhatikan karena serangan yang tidak berbahaya umumnya tidak jelas dan serangan parasit kebanyakan bersifat subklinik (Subronto dan Tjahajati, 2001).

Pada umumnya parasit merugikan kesehatan hewan maupun manusia, dari sudut pandang ekonomi kerugian terjadi akibat rusaknya organ karena parasitnya sendiri, kematian ternak dan biaya yang harus ditanggung untuk pengendaliaanya. Kerugian ekonomi akibat cacing berupa perkembangan tubuh ternak terhambat, sedangkan pada sapi dewasa kenaikan berat badan tidak tercapai, organ tubuh rusak dan kualitas karkas jelek, menurunnya fertilitas dan predisposisi penyakit metabolik. Hal ini disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, perubahan distribusi air, elektrolit dan protein darah (Anderson and Waller, 1983).

Hasil survei di beberapa pasar hewan dan rumah potong hewan di Indonesia menunjukkan bahwa 90% sapi yang berasal dari peternakan rakyat terjadi infeksi cacingan, seperti cacing hati (Abidin, 2002). Sedangkan data pada Dinas Peternakan Propinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2004 sebanyak 7903 kasus penyakit cacing (helminthiasis) meningkat 60,2% dibanding kejadian serupa pada tahun 2003 sebanyak 3142 kasus (Anonimus, 2005).

Menurut Suweta (1982) pada ternak sapi tiap tahunnya terjadi kerugian sebesar 20 milyar rupiah akibat penyakit cacing hati dengan perkiraan hilangnya daging sebesar 5 - 7,5 juta kilogram karena penurunan berat badan. Kerugian sebesar ini hanya disebabkan oleh cacing hati (Fascioliasis) dan akan jauh lebih besar lagi bila dihitung kerugian yang diakibatkan oleh cacing lain. Kerugian yang jumlahnya tidak kecil akibat penyakit cacing ini merupakan suatu problem yang sangat dilematik dalam usaha bidang peternakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk peternakan.

Penyakit cacing ini pada berbagai kasus. Umumnya menyerang ternak yang dipelihara dengan tata laksana kurang baik, khususnya ternak yang berumur muda. Pada ternak sapi Bali yang telah diketahui lebih resisten terhadap parasit dibandingkan bangsa sapi Eropa yang ada di Indonesia masih banyak ditemukan terinfeksi cacing.

Geografis Indonesia yang terletak di daerah sangat basa (super humid climatic area). Dengan demikian pengaruh kekeringan tidak pernah berlangsung lama hingga dapat mematikan stadia di alam bebas, sedangkan suhu udara sepanjang tahun adalah optimal bagi kelangsungan hidup stadia infeksi cacing untuk berkembang. Oleh karenanya ketahanan hidup /survival rate stadia infektif di luar hospes (ternak sapi) tinggi dan populasi stadium infektif meningkat dengan cepat.

Fascioliasis pada ternak sapi ini mempunyai prevalensi yang tinggi karena sapi yang dipelihara secara ekstensif, dimana untuk dapat makanan sapi mencari sendiri sehingga tidak menjamin baik secara kuantitas maupun kualitas mendapat makanan sesuai dengan kebutuhannya. Kekurangan makanan akan menyebabkan ternak mengalami malnutrisi.

Padahal diketahui bahwa sapi yang memperoleh makanan yang cukup dan bermutu baik akan lebih resisten terhadap infeksi cacing. Sebaiknya sapi yang mengalami malnutrisi akan lebih peka.

Pemanfaatan Limbah Untuk Pakan Itik

Itik yang sedikitnya mengelola 5000 ekor, idealnya bisa menghasilkan 60-80% telur sehari. Proyeksi ini tidak berlebihan apabila enam aspek dasar usaha itu dipenuhi secara benar dan tepat. Itik di Indonesia mampu menyumbangkan 1,5% daging dan 22% totol telur yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Itik cukup potensial diternakan karena secara ekonomi menjanjikan keuntungan. Hal itu bisa terpenuhi apabila si peternak mampu menyelenggarakan peternakan itik yang intensif, efisien, dan memenuhi skala ekonomi.

Dalam beternak itik, efisiensi bisa dimulai dari biaya produksi, antara lain dalam kualitas dan cara pemberian pakan, dana pembibitan/peremajaan, dan tepat waktu melepas itik yang tidak produktipf lagi. Diversifikasi produk juga perlu dilakukan, tidak hanya mendagangkan telur segar tetapi juga menciptakan pasar untuk telur asin atau telur olahan lainnya, telur tetas, daging itik, dan anak itik (DOD).

Persyaratan dasar agar suatu investasi dalam peternakan unggas, khususnya itik mencapai suatu skala usaha yang menguntungkan meliputi pembibitan, perkandangan, pakan, kesehatan ternak dan lingkungan, ekonomi, serta pasca panen. Keenam aspek tersebut sangat menentukan mutu produk, efisiensi, dan hasil yang berpengaruh pada penciptaan pasar serta perolehan keuntungan yang layak. Sebagai contoh dari hasilpenelitian laboratorium dan lapangan terproyeksi bahwa skala usaha beternak

Pemeliharaan itik secara intensif mengandung konsekuensi terhadap penyediaan segala hal yang dibutuhkan itik, terutama pakan. Jenis, jumlah maupun kualitas pakan yang dikonsumsi itik tergantung pada apa yang diisediakan oleh peternak, sehingga peternak perlu mempunyai pengetahuan yang sepadan dengan kebutuhan gizi ternak itik yang dipelihara. Pada umumnya masih banyak dijumpai adanya pertimbangan ekonomi dari pada pertimbangan teknis kebutuhan ternak. Jenis pakan yang diberikan setiap peternak agak berbeda, hal ini tergantung dari ketersediaan bahan yang ada disekitarnya.

BPTP Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2009

Meningkatkan Efisiensi Reproduksi Melalui Kelahiran Pedet Kembar

Sebagaimana diketahui bahwa alam telah menciptakan berbagai spesies hewan dengan spesifikasi dan karakteristik yang tidak sama. Pada sapi mempunyai uterus yang dikenal dengan tipe bikornua. Pada kornua uterus inilah terjadinya proses kebuntingan. Karena sapi lebih sering dikenal dengan sebutan beranak tunggal, maka hanya satu kornua uterus saja yang selama ini melayani kebuntingan. Pada kebuntingan kembar alami umumnya juga terjadi didalam salah satu kornua uterus. Sehingga kornua uterus yang sebelah menganggur selama masa kebuntingan. Kornua uterus inilah perlu diberdayakan juga untuk menampung kebuntingan, sehingga diperoleh kebuntingan kembar, bahkan kembar lebih dari dua ekor.

Salah satu tujuan pemberdayaan dan penerapan bioteknologi reproduksi antara lain adalah memperoleh efisiensi dan efektifitas siklus reproduksi yaitu menghasilkan keturunan. Sebagai indikator keberhasilan budidaya peternakan adalah perkembang biakan yang identik dengan produktivitas, terutama pada budidaya ternak yang memang bertujuan untuk breeding. Lebih rinci lagi tepatnya adalah terpenuhinya calving interval yang ideal atau rata-rata setiap tahun dapat menghasilkan anak keturunan.

Calving internal sapi perah 365-390 hari dan sapi potong 420-450 hari. Selama ini secara alami sebagian besar sapi melahirkan hanya satu ekor pedet. Kejadian kelahiran kembar alami masih sangat rendah. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian oleh para peneliti dan praktisi.

Melalui pemberdayaan biteknologi reproduksi, seekor sapi betina dapat diatur agar mampu bunting dan melahirkan pedet kembar untuk mempercepat peningkatan populasi. Menurut Echterkamp (1992) kapasitas uterus dapat ditingkatkan mengandung tiga fetus per kornua uterus, bahkan lebih. Sedang menurut Seike, dkk (1989) dapat menghasilkan 143,3% kelahiran pedet, dibanding jumlah induk yang mengandung pada induksi kebuntingan kembar. Kebuntingan kembar selama ini adalah kembar dua yang diposisikan di masing-masing kornua uterus kanan dan kiri.

Dalam kebuntingan kembar dua secara alami atau tidak diprogram umumnya terjadi dalam salah satu kornua uteri yang ipsilateral dengan keberadaan corpus luteum (CL). Namun dalam membuat kebuntingan kembar dua (terprogram dengan transfer embrio) sebaiknya dilakukan dengan cara penempatan bikornua atau masing-masing kontra lateral dan ipsilateral terhadap CL. Selain menghindari kemungkinan terjadinya kembar free martin, program kembar dua cara ini lebih efektif keberhasilannya (Hart Elock, et al.1990).

Secara teoritis kebuntingan ipsilateral maupun kontra lateral terhadap CL tidak berpengaruh secara nyata, asal fungsional CL gravidarum prima dalam menghasilkan hormon progesteron untuk memelihara kebuntingan. Kebuntingan kembar membutuhkan CL gravidarum fungsional sekurang-kurangnya sejumlah fetus kembar itu untuk menjaga stabilitas uterus dalam memelihara kehidupan intra uterin (Knickerbocker, 1986 dan Hafez, 1993). Karena itu dalam setiap program kebuntingan kembar hendaknya dipersiapkan dengan pembentukan CL lebih dari satu melalui cara superovulasi dosis ringan dengan hormon gonadotropin.

Dua fetus per kornua uterus memang suatu angka yang fantastis, apalagi tiga fetus. Berarti seekor sapi betina dapat diprogran bunting kembar antara 2-6 fetus selama masa kebuntingan. Kapasitas dan kemampuan salah satu kornua uterus dalam menampung kebuntingan kembar tentu sangat terbatas. Disadari atau tidak bahwa selama ini belum ada hipotesa apalagi penelitian (?) yang mengurai fungsi lain cavum uterus yang nota bene lebih luas daripada lumen kornua uterus.

Fungsi cavum uterus atau tepatnya bagian endometrium yang dikenal selama ini adalah menghasilkan hormon prostaglandin (PGF2α) sebagai faktor luteolitik terhadap fungsional CL periodicum dalam rangkaian siklus birahi. Fungsi lain cavum uterus hanya sebagai jalan melintasnya sel spermatozoa dari vagina (proses kawin alam) atau dari servik uterus (proses IB) menuju ke tuba falopii untuk bertemu dengan sel telur dalam proses fertilisasi. Selain itu juga cavum uterus hanya sebagai jalan lintasan keluarnya fetus pada proses kelahiran

Karena tidak memungkinkan seberapapun elastisitas kornua uterus dalam menampung perkembangan kebuntingan kembar, apalagi sampai tiga fetus per kornua uterus. Maka cavum uterus yang relatif lebih luas daripada lumen kornua uterus patut dapat diduga atau merupakan suatu hipotesa sebagai penampung perkembangan fetus dan perluasan selaput fetus (plasenta) dalam kebuntingan kembar. Mengingat luasnya cavum uterus dan daya elastisnya, bukan tidak mungkin pada suatu ketika nanti seekor sapi induk betina dapat diprogram untuk bunting kembar 4-6 atau 2-3 fetus per kornua uteri.

Berbagai cara dapat ditempuh untuk menciptakan kebuntingan kembar, antara lain melalui cara IB. Dalam hal ini harus ada lebih dari satu sel telur setiap ovulasi, sehingga perlu ditempuh dengan induksi superovulasi dosis ringan agar tidak terlau banyak sel telur yang terbuang selain efisiensi nilai ekonomis harga hormon gonadotropin. Cara lain untuk membentuk kebuntingan kembar adalah dengan transfer embrio (TE), yaitu dengan menempatkan embrio dalam masing-masing kornua uterus. Atau kombinasi antara IB dan TE, yaitu pada waktu birahi dilakukan IB sebagaimana prosedur selama ini dikenal dan seminggu (6-8) hari kemudian dilakukan TE dengan posisi kontra lateral dengan keberadaan CL. Posisi ipsilateral dengan CL sudah ditempati oleh fetus hasil dari IB.

Variasi dalam program kelahiran pedet kembar juga memungkinkan untuk penerapan kombinasi antara kelahiran sapi perah dan atau sapi potong sesuai dengan kebutuhan. Di lain fihak juga memungkinkan penerapan jenis preservasi embrio, misalnya embrio beku dan embrio segar. Juga asal muasal pembuatan embrio antara embrio invivo dan atau embrio invitro.

Jumat, 16 Oktober 2009

Ransum Ayam Kampung

Pelihara ayam buras (kampung)??? bingung kasih makannya biar siayam cepet ndut? Pada prinsipnya macam zat gizi yang dibutuhkan ayam buras sama dengan yang dibutuhkan ayam ras yaitu :
a. Protein
b. Vitamin
c. Energi (Karbohidrat dan lemak)
d. Mineral dan
e. Air.

jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh kedua jenis ayam tersebut mungkin berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan zat gizi untuk ayam buras lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan ayam ras. Oleh karena itu penggunaan 100% ransum ayam ras komersial untuk ayam buras merupakan pemborosan karena pertumbuhan maupun produksi telur masih jauh di bawah pertumbuhan maupun produksi telur ayam ras. Hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan genetis ayam buras. Banyak
faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi, diantaranya :

a. Jenis ternak
b. Umur unggas
c. Lingkungan, terutama cuaca
d. Tingkat produksi

3 jenis pakan buat ayam :
1. pakan nabati
2. pakan hewani
3 suplemen.

Bahan pakan nabati adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Bahan pakan nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi, misalnya dedak dan daun-daunan yang suka dimakan oleh ayam buras. Disamping itu bahan pakan nabati banyak pula yang mempunyai kandungan protein tinggi
seperti bungkil kelapa. bungkil kedele dan bahan pakan asal kacang-kacangan. Dan tentu saja kaya akan energi seperti jagung.

Dedak halus
Dedak sebagai limbah penggilingan padi banyak terdapat di Indonesia karena Indonesia merupakan negara penghasil padi. Pada saat musim panen, dedak mudah diperoleh dan murah harganya. Dedak sebagai bahan pakan ternak luas penggunaannya, dapat digunakan sebagai bahan pakan berbagai jenis dan tipe ternak.
Dedak halus dibedakan antara dedak halus pabrik dan dedak halus kampung. Dedak halus kampung mengandung lebih banyak serat kasar dibandingkan dedak halus pabrik, serta kandungan proteinnya hanya 10,1 %, sedangkan dedak halus pabrik mengandung protein 13,6%. Sedangkan kandungan lemaknya tinggi, sekitar 13%, demikian juga serat kasarnya kurang lebih 12%. Oleh karena itu penggunaan dedak halus dalam pakan ayam buras sebaiknya tidak melebihi 45%. Bila beras yang sudah putih digiling kembali, maka akan didapatkan limbah berupa bekatul dengan kandungan proteinnya 10,8%, ini dapat juga digunakan sebagai bahan pakan ayam buras.

Jagung
Jagung sebagai pakan ayam buras sudah sejak lama digunakan. Jagung mengandung protein agak rendah (sekitar 9,4%), tetapi kandungan energi metabolismenya tinggi. (3430 kkal/kg). Oleh karena itu jagung merupakan sumber energi yang baik. Kandungan serat kasarnya rendah (sekitar 2%), sehingga memungkinkan jagung dapat digunakan dalam tingkat yang lebih tinggi. Jagung kuning mengandung
pigmen karoten yang disebut “xanthophyl”. Pigmen ini memberi warna kuning telur yang bagus dan daging yang menarik, tidak pucat.

Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa merupakan limbah dari pembuatan minyak kelapa dapat digunakan sebagai pakan lemak. Indonesia kaya akan pohon kelapa dan banyak mendirikan pabrik
minyak goreng, sehingga bungkil kelapa banyak tersedia kandungan protein cukup tinggi
sekitar 21,6% dan energi metabolis sekitar 1540 – 1745 Kkal/Kg. Tetapi bungkil kelapa ini
miskin akan Cysine dan Histidin serta kandungan lemaknya tinggi sekitar 15%. Oleh
karena itu penggunaan dalam menyusun ransum tidak melebihi 20%, sedang kekurangan
Cysine dan Histidin dapat dipenuhi dari tepung itu atau Cysine buatan pabrik.
Secara umum bungkil kelapa berwarna coklat, ada coklat tua ada coklat muda (coklat
terang) sebaiknya dipilih bungkil kelapa yang berwarna coklat muda atau coklat terang
inilah yang kita pilih. Bungkil Kelapa mudah dirusak oleh jamur dan mudah tengik, sehingga harus
hati-hati dalam menyimpannya.

Singkong/Ketela Pohon
Parutan singkong mentah dapat dijadikan bahan pakan pokok ayam buras yang dipelihara secara intensif. Singkong dapat diberikan dalam bentuk mentah (segar) ataupun setelah melalui pengolahan misalnya gaplek atau aci. Penggunaan tepung gaplek dalam ransum tidak lebih dari 40%. Dalam bentuk mentah, singkong sebaiknya digunakan dalam tempo 24 jam setelah masa panennya. Lebih dari tempo itu maka nilai gizinya akan menurun (rusak). Selain umbinya, daun singkong juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam buras, baik dalam bentuk tepung ataupun dalam bentuk segar (sebagai hijauan). Tepung daun singkong ini dapat menggantikan kacang hijau dan kedelai sampai jumlah 8%.

Bungkil kedelai.
Kacang kedelai mentah tidak dianjurkan untuk dipergunakan sebagai pakan ayam karena kacang kedelai mentah mengandung beberapa trypsin, yang tidak tahan terhadap panas, karena itu sebaiknya kacang kedelai diolah lebih dahulu. Bungkil kedelai merupakan limbah pembuatan minyak kedelai, mempunyai
kandungan protein ± 42,7% dengan kandungan energi metabolisme sekitar 2240 Kkal/Kg, kandungan serat kasar rendah, sekitar 6%. Tetapi kandungan methionisne rendah. Penggunaan bungkil kedelai dalam ransum ayam dianjurkan tidak melebihi 40%, sedang kekurangan methionisme dapat dipenuhi demi tepung ikan atau methionisme buatan pabrik.

Daun lamtoro.
Pemberian daun lamtoro mesti hati-hati karena daun lamtoro mengandung alkoloid yang beracun dengan nama mimosin. Pemberian tepung daun lamtoro dalam jumlah yang banyak akan mengakibatkan ayam berhenti bertelur. Karena itu, kendatipun kandungan protein daun lamtoro cukup tinggi (22,30%), dalam penggunaannya dianjurkan tidak melebihi dari 5% dalam pakan ayam.

Daun turi.
Tepung daun turi sudah biasa dipergunakan dalam pakan ayam. Daun turi yang berbunga merah mengandung kadar protein sekitar 31,68%, sedangkan daun turi yang berbunga putih mengandung kadar protein 40,62%.

Bahan Pakan Hewani.
Bahan pakan asal hewan ini umumnya merupakan limbah industri, sehingga sifatnya memanfaatkan limbah. Bahan pakan hewani yang biasa digunakan adalah tepung ikan, tepung tulang, tepung udang dan tepung kerang. Beberapa bahan pakan hewan yang lain adalah cacing, serangga, ulat dll. Bahan-bahan pakan ini ditemukan ayam yang dipelihara secara intensif, cacing, serangga dan lain-lain tidak diberikan. Tetapi bekicot yang banyak didapat di musim hujan, sudah mulai diternakkan, merupakan bahan pakan
alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein pada ransum ayam.

Tepung Ikan.
Tepung ikan merupakan bahan pakan yang sangat terkenal sebagai sumber protein yang tinggi. Tetapi perlu diketahui bahwa kandungan gizi tepung ikan ini berbeda, sesuai dengan jenis ikannya . Disamping jenis ikan, proses pengeringan ikan juga mempengaruhi kualitas tepung ikan tersebut. Ada beberapa macam proses pengeringan, yaitu pengeringan matahari, pengeringan vacum, pengeringan dengan uap panas dan pengeringan dengan pijar api sesaat. Pengeringan matahari merupakan proses termudah dan termurah, tetapi juga rendah kadar proteinnya. Tepung ikan lokal yang bersumber dari sisa industri ikan kalengan atau limbah tangkapan nelayan dan hanya dijemur dengan panas matahari mempunyai kandungan protein kasar hanya 51-55%. Selain sebagai sumber protein dengan asam amino yang baik, tepung ikan juga merupakan sumber mineral dan vitamin. Dengan kandungan gizi yang sangat baik ini maka tak heran bila harganyapun mahal. Oleh karena itu, untuk menekan harga ransum, pengguna tepung ikan dibatasi dibawah 8%. Di Indonesia, tepung ikan ada beberapa macam baik produk lokal maupun import dengan kualitas yang beragam. Dengan kondisi ini peternak disarankan membeli tepung ikan dari penjual yang terpercaya dan sudah biasa menjual tepung ikan yang baik.

Tepung Udang
Tepung udang berasal dari limbah industri udang, sehingga kualitas gizinya tergantung dari bagian yang ikut tergiling. Apabila bagian kepala dan kaki ikut tergiling tentu kualitasnya lebih baik daripada hanya
kulit udangnya saja. Kandungan protein tepung udang berkisar antara 43 – 47%. Tepung udang merupakan bahan pakan alternatif sebagai sumber protein, karena tidak semua tempat tepung udang ini dapat diperoleh.

Tepung Tulang
Tepung tulang digunakan sebagai sumber mineral. Tepung tulang umumnya mengandung Calcium antara 24 – 25% dan Phospor antara 12-15%. Karena sifatnya sebagai pelengkap, pemakaian tepung tulang hanya sedikit.

Tepung Kerang
Tepung kerang merupakan sumber Calcium, karena mengandung Calcium hampir 36%. Dengan berkembangnya mineral dan vitamin buatan pabrik, bahan pakan alami sudah banyak ditinggalkan. Tetapi apabila harganya murah dan kesediaannya terjamin, peternak dapat memanfaatkan tepung kerang ini sebagai sumber Calcium untuk ransum ayam burasnya.

Bekicot
Bekicot merupakan bahan pakan yang murah sekali karena kita dapat dengan mudah memperolehnya disekitar lingkungan hidup dan mudah pula membudidayakannya. Hampir 95% dari tubuh bekicot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam, yang terbuang hanyalah kotoran dan lendirnya. Cara memanfaatkannya adalah sebagai berikut :
- 60 gr bekicot dipuasakan selama 2 hari agar kotorannya habis
- Rendamlah dalam air garam dengan perbandingan 1 liter air dengan 50 gr garam dapur, kemudian diaduk selama 15 – 20 menit.
- Daging bekicot dicuci kemudian masukkan ke dalam air mendidih selama 10 menit
(sampai masak).
Daging bekicot dapat diberikan sebagai pakan ayam, baik dalam bentuk basah
(segar), kering ataupun, dalam bentuk tepung, dengan kandungan protein untuk
masing-masingnya adalah sebagai berikut :
a. Dalam bentuk basah (segar) 54,29%
b. Dalam bentuk kering 64,13 %
c. Dalam bentuk tepung 24,80%
Meskipun kandungan protein tepung bekicot tinggi, tetapi pemakaiannya tidak boleh melebihi 10%. Cangkang bekicot dapat digunakan sebagai pakan tambahan menggantikan tepung kapur dan grit.

Bahan Pakan Pelengkap/Suplemen.
Bahan pakan pelengkap ini merupakan bahan buatan pabrik dan diproduksi untuk melengkapi zat-zat gizi yang biasanya kurang banyak atau kurang lengkap dikandung oleh bahan pakan alami.

a. Vitamin, merupakan zat gizi yang berfungsi untuk pembentukan tulang, pertumbuhan serta memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit atau infeksi.

b. Mineral, merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang tidak banyak tetapi sangat penting untuk pembentukan alat-alat tubuh antara lain untuk pembentukan tulang (Ca dan P). darah (zat besi/Fe) dan kerabang telur (Ca dan P).
c. Lysine dan Methionine
Seperti diketahui dalam formula ransum ayam buras, 90% disusun dari bahan pakan nabati yang umumnya tidak mengandung Asam Amino yang imbang. Biasanya bahan pakan nabati ini miskin akan Lysine dan Methionine. Biasanva kekurangan Asam Amino ini dapat diatasi dengan penggunaan tepung ikan pada formula ransum. Tetapi karena harganya mahal penggunaan tepung ikan ini terbatas. sehingga untuk
mengatasi kekurangan Asam Amino ini digunakan Lysine dan Methionine buatan pabrik. Lysine dan Methionine merupakan Asam Amino esensial yang dibutuhkan oleh ternak. Dewasa ini kedua Asam Amino sudah diproduksi dan dikemas sebagai produk siap pakai oleh pabrik.

d. Probiotik, adalah koloni kecil bibit mikroba yang berasal dari lambung sapi, yang dikemas dalam campuran tanah, akar rumput dan daun-daunan atau ranting yang dibusukkan. Mikroba-mikroba tersebut berfungsi sebagai penghuni protein, serat kasar dan nitrogen fiksasi non simbiotik. Dengan menambahkan probiotik tersebut dalam ransum ayam, maka ransum yang digunakan menjadi lebih efisien dan kadar amonia lebih rendah sehingga bau menyengat yang biasanya kita cium disekitar kandang menjadi berkurang karena sifatnya sebagai pengurai. Penggunaan probiotik ini juga lebih luas, tidak saja sebagai suplemen pada ransum ayam buras tetapi juga digunakan untuk menjinakkan berbagai limbah (yang berbentuk organik) seperti bau spesifik dari septitank, limbah rumah potong dan limbah industri. Seiring dengan perkembangan teknologi, probiotik ini sudah diproduksi secara massal (pabrik) dengan dikemas dalam bentuk siap pakai sehingga menjadi lebih mudah dalam penggunaannya. Aturan penggunaan biasanya sudah disertakan pula dalam kemasannya. Produk ini sudah diperdagangkan dan peternak dapat memperolehnya di Poultry Shop. Mengenai penggunaan probiotik ini, Balai Informasi Pertanian (BIP) DKI Jakarta pernah melaksanakan uji adaptif penggunaan suplemen probiotik yang dicampurkan dalam ransum ayam buras petelur (TA 1995/1996). Dengan menambahkan probiotik dalam ransum yang biasa digunakan oleh peternak ternyata hasilnya dapat:
- meningkatkan produksi telur
- penggunaan pakan lebih efisien
- kadar air feses (kotoran) lebih rendah dan bau feses di lingkungan kandang menjadi berkurang.

Secara ekonomis harga probiotik tersebut relatif lebih murah, hanya Rp. 4.000 – Rp. 5.000 per kg. Sedang penggunaannya relatif sedikit, hanya sekitar 25 gr per 1 kg ransum.