Tampilkan postingan dengan label Skill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skill. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Oktober 2010

Hack Facebook dengan Key Logger Sederhana

Banyak sekali orang-orang yang pengen usil dengan membajak akun dari facebook musuh, teman, pacar, suami / istri... Tapi apakah anda tahu bahwa hal itu sangatlah mudah?

Apakah anda ingin melakukannya? Apakah anda yakin?
Saya tidak bertanggung jawab atas cara yang akan saya berikan jika anda menggunakannya untuk tindak kejahatan. Sebab, tujuan saya membuat Key Logger ini adalah untuk membantu teman-teman dalam hal pengawasan penggunaan komputer.


Modal yang anda perlukan sangat kecil sekali. Cukup dengan:
  1. Komputer / Laptop yang terhubung ke Internet
  2. Program Key Logger yang bisa anda download DI SINI
  3. Dan korban yang ingin anda ambil alih akun Facebooknya
Kegunaan dari Aplikasi ini adalah untuk melacak semua aktivitas keyboard.
Biasa digunakan oleh:
  1. Perkantoran (mengawasi kinerja karyawan)
  2. Rumah (mengawasi anak-anak dalam surfing di dunia maya)
  3. Bahkan bisa dipake buat kejahatan (memperoleh password FB, e-mail dll dari pemakai komputer)

Ini adalah Program Keylogger buatanku sendiri..
Cara pakainya mudah..
Ekstrak file MyKeylog ke Hardisk anda.. Terserah, mau di C: ataupun di "D: (recommanded)"
Tapi saya sarankan untuk membuat Folder Rahasia tempat aplikasi ini di ekstrak.

Jika dijalankan, aplikasi ini akan mencatat semua aktifitas dari keyboard..
dan hasil dari catatan tersebut akan di tulis dalam file "Rahasia.txt" tepat dimana aplikasi tersebut berada.
Jadi saya sarankan menyembunyikan aplikasi ini pada folder rahasia anda.

Untuk mematikan program ini anda bisa matikan lewat Task manager > Processes > KeyLogger
Kekurangan program ini tidak autorun (maaf ini program sederhana)
Tetapi kalau anda ingin membuatnya autorun tinggal tambahkan aja shortcut di Start > all Program > Startup

Program ini saya buat dengan menggunakan VB6.

Selamat Menjadi Hacker...

Selasa, 13 Juli 2010

Trik Meningkatkan Pengunjung Blog

Bagi sebagian blogger, menulis adalah hobi mereka...
Tapi siapa yang bisa menolak kalau blog kita bisa di buat ladang bisnis.
Blog yang dapat menghasilkan uang mempunyai syarat-syarat tertentu, salah satunya adalah blog tersebut harus memiliki pengunjung yang tinggi tiap harinya.
Untuk dapat meningkatkan pengunjung blog, kita harus pandai dalam melakukan teknik SEO. Apa itu SEO?
SEO (Search Engine Optimatization) adalah salah satu cara untuk meningkatkan rangking blog / situs kita di Mesin Pencari. Salah satu mesin pencari yang terbesar adalah Google, jadi semakin sering link kita muncul di google, semakin sering pula blog kita dikunjungi.


Hal ini juga ditentukan oleh keyword yang kita pasang di blog. Coba para sobat klik new tab, lalu buka situs google disitu, dan coba cari dengan keywords Hot Side Veteriner. Lihat hasilnya, dan situs blog ini berada pada urutan ke berapa dari atas?

Para sobat pernah googling kan? Jika mencari suatu artikel dan memasang keywords nya di google, apa yang pertama anda klik? Pasti daftar link pada halaman google yang pertama. Entah itu urutan ke 1, 2 ataupun yang selanjutnya. Itulah yang saya maksud dengan SEO.

Terus, bagaimana cara menggunakan teknik ini pada blog kita?
Tenang saja, hal ini akan saya posting di blog ini lain waktu, sebab akan saya bahas pada bab tersendiri. (wah, udah kaya skripsi segala... Ada bab nya)

Terus untuk menarik pengunjung?
  1. Kita harus sering-sering posting artikel. Nggak usah terlalu sering sih, tapi rutin.
  2. Artikel yang kita posting lebih baik harus asli, jangan copy paste milik blog / situs orang.
  3. Artikel kita harus menarik dan Up to Date.
  4. Banyak-banyak menebar link blog kita. Ini bisa kita lakukan waktu kita lagi Blogwalking sambil ngisi komen di sepanjang blog yang kita jumpai.
    Cara menebar link di komen blog orang tu gini:
    "Wah... Nice inpo nih sob. Bisa nambah pengalaman gw... Thanx ya sob. Nih langsung gw coba di blog gw...."
    Pengen Update Status FB via Blackberry Tanpa Blackberry? Klik Disini...!!
  5. Tebar link blog anda di situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dll.
  6. Saling tukar link blog dengan pemilik blog yang lain. Hal ini bisa menambah backlink kita.
  7. Lakukan langkah-langkah di atas dengan rutin di imbangi dengan bersabar dan berdo'a.. He he he.
Mungkin hari ini itu aja sob yang bisa saya tulis.
Tentang pertanyaan seperti teknik SEO, apa itu backlink, Dll saya akan bahas lain waktu. (Kapan?)
Kalau sobat ada trik lain yang lebih jitu, mohon di tulis di komentar postingan kali ini.
Terimakasih.

Minggu, 04 Juli 2010

IB Sapi Pertamaku

IB atau yang disebut juga Inseminasi buatan adalah kegiatan memasukkan cairan sperma kedalam alat kelamin betina. Hal ini biasa dikenal dengan "Kawin Suntik". Keuntungan melakukan kawin suntik adalah:
  1. Praktis bro... Tinggal semprot aja.. Beres.. (Tapi inseminator harus jago...)
  2. Sperma per ejakulasi dari pejantan bisa di encerkan di straw-straw kecil yang bisa dibuat IB sekitar 120 sapi betina (Edan tenan itu sekali ejakulasi lo ya...)
  3. Sperma pejantannya bisa milih... Ada yang Limousine, Simental, dll.
    (kalau manusia tu seperti ditawari gini: Pilih spermanya siapa bu? Ini spermanya Ariel, ini Ian Kasela, dan klo ini sperma saya sendiri....)
  4.  Murah.. Praktis... dan persentase keberhasilan nya tinggi... sebab sperma langsung di semprot ke uterus.
Wah kalau kelemahannya bro, adalah peternak harus tahu tanda-tanda sapi tersebut birahi dan segera menghubungi inseminator terdekat untuk segera di kawin suntik.
Disamping itu, inseminator harus tahu apakah sapi tersebut sedang bunting atau tidak, karena jika sapi tersebut ternyata sedang bunting dan inseminator tetap meng IB nya, maka dapat dipastikan sapi tersebut akan abortus... Weleh weleh...

Dan Hari ini adalah IB pertamaku... Aku bersama dengan temanku di ajak oleh salah seorang dosen untuk melakukan IB di sebuah peternakan sapi yang lumayan besar di Mojokerto.
Rencananya kami akan meng IB sapi di peternakan tersebut sebanyak 40 ekor sapi.. (Wuiiih)
Tetapi sesampainya disana, sapi yang birahi hanya berjumlah 20 ekor saja.
NB: Ini kerena sebelumnya sapi-sapi tersebut telah dilakukan Gertak birahi

Suntikan awal di serahkan padaku Tanpa ragu lagi ku kerjakan IB pertamaku tersebut dengan sukses, Ku semprotkan sperma tepat setelah IB gun ku mencapai ring servik ke-4..
Kemudian dilanjutkan dengan temanku...
Dan aku lagi, begitu pula berikutnya..

Tangan kiri ku sudah mulai merasa kram dan gemetar setelah aku mencapai sapi ke-4
Ternyata temanku juga begitu, terlihat tangannya juga sudah tidak kuat membuka tutup botol saat dia hendak minum.
Akhirnya dosenku turun tangan, beliau sanggup meng IB seluruh sapi sendirian...
Padahal umur beliau sudah bisa dibilang tua lho...
Tanpa di duga, hujan pun turun, Beliau tetap melanjutkan IB walaupun hujan-hujan.
"Ini tugas... Beginilah seharusnya dokter hewan." Ucap beliau.
Wuiiih... kereen...
Ha ha ha... Hari yang sangat melelahkan... Tapi menyenangkan...

Tambahan

Ciri-ciri sapi birahi:
3A,BC (Abang, Abuh, Anget, Bengak-bengok, Clingkrak-clingkrik)

Yang artinya

Abang: Merah = Alat kelamin sapi betina bila di buka, akan berwarna merah

Abuh : Bengkak = Alat kelamin sapi betina terlihat bengkak

Anget : Hangat = Alat kelamin sapi betina akan terasa hangat bila disentuh

Bengak-bengok : Teriak-teriak = Sapi akan gaduh sendiri (mengemoh)

Clingkrak-clingkrik : Naik-naik = Sapi akan menaiki temannya sendiri (walaupun sesama jenis)

Rabu, 21 Oktober 2009

Penyebab Abortus Pada Hewan

Abortus atau keluron adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup, sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum masa akhir kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri di luar tubuh induk (Toelihere, 1985).
Abortus dapat terjadi pada berbagai umur kebuntingan dari 42 hari sampai saat akhir masa kebuntingan. Abortus dapat terjadi bila kematian fetus di dalam uterus disertai dengan adanya kontraksi dinding uterus sebagai akibat kerja secara bersama-sama dari hormon estrogen, oksitosin, dan prostaglandin F2? pada waktu terjadinya kematian fetus itu. Oleh karena itu fetus yang telah mati terdorong keluar dari saluran alat kelamin (Hardjopranjoto, 1995).
Penyebab abortus secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu abortus karena sebab-sebab infeksi dan, abortus karena sebab-sebab non infeksi.


Abortus karena infeksi


Brucellosis

Sifat dan Kejadian
Brucellosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder beberapa jenis hewan lainnya dan manusia. Brucellosis disebabkan bakteri Brucella abortus (Anonim, 1978). Abortus karena Br. abortus umumnya terjadi dari bulan ke-6 sampai ke-9 periode kebuntingan. Kejadian abortus berkisar antara 5-90% di dalam suatu kelompok ternak tergantung pada berat ringan infeksi, daya tahan hewan bunting, virulensi organisme dan faktor-faktor lain (Toelihere, 1985).

Terjadinya keguguran setelah kebuntingan 5 bulan merupakan petunjuk kunci untuk menemukan penyakit ini. Seekor sapi betina setelah keguguran itu masih mungkin bunting lagi tetapi tingkat kelahiran akan rendah dan tidak teratur (Blakely & Bade, 1991). Sedangkan menurut Akoso (1990), terjadinya keguguran karena penyakit ini biasanya pada usia kebuntingan 7 bulan. Kemungkinan selaput janin akan tertinggal lama dan menyebabkan sapi menjadi mandula dalah merupakan gejala penyakit ini

Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui ingesti makanan dan air yang terkontaminasi oleh kotoran-kotoran dari alat kelamin hewan yang mengalami abortus. Disamping itu penularannya dapat juga terjadi melalui selaput lendir mata dan melalui IB dengan semen terinfeksi. Anak sapi yang menyusu dari induk yang tertular juga dapat tertulari (Toelihere, 1985).

Patogenesis
Permulaan infeksi brucellosis terjadi pada kelenjar limfe supramamaria. Pada uterus, lesi pertama terlihat pada jaringan ikat antara kelenjar uterus mengarah terjadinya endometritis ulseratif, kotiledon kemudian terinfeksi disertai terbentuknya eksudat pada lapisan allantokhorion. Brucella banyak terdapat pada vili khorion, karena terjadi penghancuran jaringan, seluruh vili akan rusak menyebabkan kematian fetus dan abortus. Jadi kematian fetus adalah gangguan fungsi plasenta disamping adanya endotoksin. Fetus biasanya tetap tinggal di uterus selama 24-72 jam setelah kematian. Selaput fetus menderita oedematous dengan lesi dan nekrosa (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Upaya yang dapat dilakukan terhadap pencegahan penyakit ini adalah memisahkan sapi yang menderita abortus pada tempat yang terisolasi, menghindari perkawinan antara pejantan dengan betina yang menderita abortus, jangan memberikan susu pada sapi dengan susu sapi yang menderita abortus, selalu memperhatikan kebersihan baik kandang maupun peralatan kandang dan peralatan pemerah yang digunakan, serta melaksanakan vaksinasi secara teratur (Siregar, 1982). Apabila terjadi abortus akibat Brucella abortus fetus dan placenta yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis (Toelihere, 1985).



Leptospirosis

Sifat dan Kejadian
Leptospirosis pada sapi disebabkan oleh spirocheta yang kecil dan berbentuk filamen, yang terpenting diantaranya adalah Leptospira pamona, L. hardjo, L. grippotyphosa dan L. conicola. Organisme ini mudah dimusnahkan oleh panas, sinar matahari, pengeringan, asam, dan desinfektan. Leptospira dapat hidup selama beberapa hari atau minggu dalam lingkungan yang lembab pada suhu sedang seperti di tambak, aliran air yang macet atau di tanah basah (Toelihere, 1985).
Air merupakan media penyebaran utama untuk penyakit ini. Penularannya dapat pula melalui luka, semen, baik perkawinan alamiah maupun perkawinan dengan IB. selain dapat menular ke ternak lain penyakit ini juga dapat menular ke manusia (Blakely &Bade, 1991). Pembawa utama Leptospira adalah rodentia. Anjing dan babi dapat berfungsi sebagai pembawa potensial (Anonim, 1980).
Penyebaran Leptospirosis bergantung pada keadaan luar, yaitu penyebarannya terutama melalui air dan lumpur. Hewan biasanya mengeluarkan Leptospira melalui air kemih. Bila air kemih in tiba di dalam air atau lumpur yang sedikit alkali atau netral maka Leptospira itu dapat tinggal hidup berminggu-minggu. Bila hewan atau orang kontak langsung dengan air atau lumpur ini maka ia terinfeksi. Leptospira ini masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir konjungtiva, mulut, hidung dan luka kulit.

Patogenesis
Setelah infeksi terjadi pada sapi, Leptospira masuk dan berkembang di dalam aliran darah. Masa inkubasi terjadi 4-10 hari dengan fase bakteremia yang akan berakhir kira-kira 7 hari, diikuti pengeluaran Leptospira dalam air susu dan terjadi kerusakan fungsi ginjal. Dengan terbentuknya antibody dalam sirkulasi darah setelah 5-10 hari bakteremia berhenti, bakteri akan melokalisir dan menetap di sejumlah organ tubuh terutama tubulus renalis ginjal dan alat kelamin dewasa. Selanjutnya Leptospira dikeluarkan dalam urine selama 20 bulan atau lebih, tergantung pada serotype dan umur sapi. Pada induk sapi yang bunting maupun tidak bunting Leptospira akan menetap pada uterus pasca infeksi. Lokalisasi Leptospira pada uterus yang bunting dapat menulari fetus, diikuti dengan keluarnya kotoran yang mengandung Leptospira dari alat kelamin sampai 8 hari pasca lahir. Leptospira dapat juga menetap di tuba falopii 22 hari setelah melahirkan (Hardjopranjoto, 1995).
Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan tindakan-tindakan higienik dan sanitasi, vaksinasi dan pengobatan antibiotika. Bakterin dapat memberi kekebalan yang baik selama 2 sampai 12 bulan. Oleh karena itu vaksinasi memakai bakterin sebaiknya dilakukan 2 kali dalam 1 tahun. Pengobatan terhadap leptospirosis akut meliputi penyuntikan antibiotika dalam dosis tinggi seperti 3 juta satuan penicillin dan 5 gram streptomycin 2 kali sehari atau 2,5-5 gram tetracycline per 500 kg berat badan setiap hari selama 5 hari (Toelihere, 1985). Sedangkan cara pengendalian yang ideal adalah dengan penyingkiran hewan pembawa (Anonim, 1980).


Camphylobacteriosis

Sifat dan Kejadian
Camphylobacteriosis yang disebabkan oleh Camphylobakter foetus veneralis (dahulu disebut Vibrio fetus veneralis) adalah salah satu penyakit penyebab utama kegagalan reproduksi pada sapi yang disebarkan melalui perkawinan. Umumnya ditemukan kematian embrio dini atau abortus pada bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Toelihere, 1985).
Penyebarannya lewat ingesti, masuk darah menyebabkan plasentitis dengan kotiledon hemoragik dan sekitar interkotiledonaria mengalami udema (Prihatno, 2006).

Patogenesis
Infeksi Camphylobacter fetus venerealis pada sapi betina akan diikuti oleh endometritis, ditandai dengan adanya kerusakan pada endometrium yang mencapai puncaknya pada 8-13 minggu setelah penularan, disertai keluarnya cairan keruh kemudian berubah menjadi mukopurulen yang kadang-kadang diikuti salphingitis. Eksudat ditemukan dalam kelenjar uterus disertai infiltrasi limfosit ke dalam rongga periglandular. Karena adanya endometritis, embrio akan memperoleh oksigen lebih sedikit, sehingga akan mati dalam waktu yang singkat tanpa gejala yang jelas. Abortus terjadi pada umur 2-3 bulan dengan selaput fetus yang utuh pada waktu diabortuskan (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian yaitu IB dengan semen sehat yang berasal dari pejantan yang sehat pula, hewan betina atau pejantan yang terkena harus istirahat kelamin selama 3 bulan dan vaksinasi dengan bakterin 30-90 hari sebelum dikawinkan atau setiap tahun (Prihatno, 2006). Sedangkan pengobatannya dapat dilakukan dengan pemberian antibiotic berspektrum luas baik pejantan maupun betina (Prihatno, 1994).

Infectious Bovine Rhinotracheitis dan Infectious Pustular Vulvovaginitis (IBR-IPV)

Sifat dan Kejadian
Penyakit ini baru dikenal sejak tahun 1950 di Amerika Serikat yang disebabkan oleh virus. Penyebaran virus ini adalah melalui udara yaitu pada saat banyak hewan berkumpul. Hingga sekarang hanya sapi yang diketahui peka terhadap penyakit ini. Infeksi buatan dapat dilakukan denan inhalasi larutan yang mengandung virus di dalam hidung atau dengan injeksi intra tracheal (Ressang, 1984). Kejadian abortus dapat setiap saat, tetapi umumnya mulai bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Prihatno, 2006).
Penularan penyakit ini dapat secara vertikal maupun horizontal. Secara vertical dapat melalui infeksi intra uterine, sedangkan secara horizontal dapat melalui inhalasi dari cairan hidung dan melalui semen yang mengandung virus (Anonim, 1982).

Patogenesis
Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4-6 hari. Infeksi virus ini menyebabkan lepuh-lepuh pada mukosa vulva dan vagina, yaitu dimulai dengan bintik-bintik merah sebesar jarum pentul yang dalam waktu 2-3 hari akan membesar. Lepuh-lepuh ini berdinding tipis dan berisi cairan. Sapi yang terinfeksi mengalami demam yang disertai radang vagina. Dari vulva akan keluar cairan yang mula-mula bening kemudian bersifat nanah. Infeksi virus ini juga menyebabkan lepuh-lepuh pada fetus.dan nekrosis pada bagian korteks ginjal fetus (Hardjopronjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Vaksinasi terhadap sapi-sapi yang tidak bunting dengan kombinasi IBR-IPV dan BVD-MD pada usia 6-8 bulan dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini. Sapi yang terkena diisolasi dan diistirahatkan kelamin selama kurang lebih 1 bulan kemudian untuk mencegah infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik (Prihatno, 1994).


Bovine Virus Diarrhea Mucosal Disease (BVD-MD)

Umumnya menyerang sapi dan menyebabkan infertilitas. Pada sapi bunting yang terinfeksi dapat menyebabkan abortus.abortus dapat terjadi pada usia kebuntingan 2-9 bulan dan sangat menular. Penularan dapat lewat oral atau parenteral, urin atau feses. Infeksi pada fetus antara hari ke 45 dan 125 kebuntingan dan mungkin menyebabkan kematian fetus, abortus, resorbsi, fetal immunotoleran, dan infeksi persisten. Gejala yang nampak adalah demam tinggi, depresi, anoreksia, diare, dan produksi susu turun.

Patogenesis
Masa inkubasi secara alami berlangsung selam 21 hari. Virus masuk ke dalam aliran darah setelah terjadinya penularan (viremia), kemudian diikuti dengan timbulnya kerusakan-kerusakan sel epitel pada mukosa saluran pencernaan. Pada hewan yang buting virus ini menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh infeksi pada fetus, kemudian diikuti abortus atau kelahiran anak yang abnormal (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Diagnosanya sulit karena tidak ada lesi spesifik pada fetus. Uji serologik untuk menentukan titer antibodi mungkin dapat membantu diagnosa. Pencegahan dengan mengeleminir sapi terinfeksi dan melakukan vaksinasi (Prihatno, 2006).


Epizootic Bovine Abortion (EBA)

Sifat dan Kejadian
Epizootic Bovine Abortion (EBA) disebabkan oleh Chlamydia psittasi dan vektornya adalah Ornithodoros coriaceus. Penyakit ini menyebabkan abortus yang tinggi (30-40%) pada tri semester akhir kebuntingan pada sapi dara (Prihatno, 2006).

Menurut McKercher (1969) yand disitasi oleh Toelihere (1985) penyakit ini terutama menyerang fetus dan menyebabkan abortus pada umur kebuntingan 7, 8, dan 9 bulan. Beberapa fetus dilahirkan mati atau anak sapi lahir hidup tetapi lemah dan mati beberapa waktu kemudian. Gejala penyakit ini dapat dilihat dengan adanya kerusakan menyolok pada fetus yang diabortuskan pada placenta ada bercak-bercak (Partodiharjo, 1987).

Patogenensis
Virus ini terutama menyerang fetus, ditandai adanya haemorrhagia petechial pada mukosa konjungtiva, mulut dan kulit fetus. Terdapat cairan berwarna jerami umumnya terdapat di dalam rongga tubuh. Infeksi virus ini pada fetus menyebabkan hati membengkak, berbungkul kasar dan berwarna kuning dan hampir semua kelenjar limfa membengkak dan oedematous (Toelihere, 1985).

Pengendalian dan Pencegahan
Melihat ganasnya penyakit ini, maka diperkirakan penyebaran yang cepat dan antibodi yang terbentuk cukup kuat dalam tubuh sapi, dapat diperkirakan vaksin akan mudah didapat. Tetapi kenyataannya sampai sekarang belum ada vaksinnya (Partodiharjo, 1987). Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan mengisolasi dan mengobati hewan yang terinfeksi disamping pemberian vaksinasi tetapi belum ada vaksinnya (Prihatno, 1994).


Aspergillosis

Sifat dan Kejadian
Aspergillosis adalah penyakit jamur pada unggas, burung liar termasuk penguin, dan mamalia yang sudah lama dikenal. Jenis Aspergillus yang dianggap patogen untuk hewan adalah Aspergillus flavus, A. candidus, A. niger, A. glaucus. Ummnya penyakit ini bersifat menahun, akan tetapi pada hewan muda dapat berjalan akut. Pada sapi jamur dapat menyebabkan abortus bila jamur berlokasi di selaput fetus (Ressang, 1984).
Hampir semua abortus pad sapi disebabkan oleh Aspergillus fumigatus dan Mucorales. Kebanyakan abortus terjadi pada bulan ke-5 sampai ke-7 masa kebuntingan, tetapi dapat berlangsung dari bulan ke-4 sampai waktu partus. Fetus umumnya dikeluarkan dalam keadaan mati, tetapi beberapa kasus terjadi kelahiran prematur (Toelihere, 1985). Organ reproduksi yang sering ditumbuhi jamur adalah uterus (Robert, 1986).

Patogenesis
Jamur masuk lewat inhalasi sampai ke paru-paru, spora akan mengikuti aliran darah menuju plasenta dan menyebabkan plasentitis diikuti oleh kematian fetus dan abortus. Jamur juga dapat masuk ke tubuh melalui makanan, lewat ingesti spora masuk rumen menyebabkan rumenitis kemudian masuk ke dalam darah menuju plasenta dan menyebabkan plasentitis yang diikuti oleh abortus (Prihatno, 2006).

Pengendalian dan Pencegahan
Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara antara lain : menyingkirkan hewan penderita, menghindari pemberian makanan bercendawan, memusnahkan sumber cendawan Aspergillus, memberikan perawatan dan makanan hewan untuk mempertinggi daya tahan tubuh, bekas tempat sapi yang terinfeksi didesinfeksi. Pengobatannya dengan griseofulvin untuk hewan besar memberikan hasil yang memuaskan tetapi biaya cukup mahal (Anonim, 1981).


Trichomoniasis

Sifat dan Kejadian
Trichomoniasis adalah penyakit venereal yang ditandai dengan sterilitas, abortus muda, dan pyometra, yang disebabkan oleh Trichomonas foetus. Abortus terjadi antara minggu pertama dan minggu ke-16 masa kebuntingan (Toelihere, 1985). Penularan dari sapi betina ke sapi yang lain terjadi melalui pejantan yang mengawininya. Penyakit ini pada tingkatan yang lanjut menunjukkan keadaan preputium penis sapi jantan yang mengalami peradangan, meskipun penyakit ini dapat pula ditularkan melalui IB (Blakely & Bade, 1991).
Gejala penyakit ini ditandai dengan siklus estrus yang pendek tidak teratur, dan pada umumnya menyebabkan infertilitas yang bersifat sementara. Sering sekali ditemui abortus muda (umur 4 bulan atau kurang) dan kejadian pyometra (Partodiharjo, 1987).

Patogenesis
Pada vagina trichomonisis menimbulkan vaginitis kataralis, yang mukosa vaginanya berwarna kemerahan dan basah. Pada infeksi yang kronis didapatkan udemaa pada vulva. Pada uterus infeksi T. fetus menyebabkan endometritis kataralis yang dapat berubah menjadi purulen. Apabila sapi bunting, keradangan pada kotiledon mengakibatkan kemtian dan maserasi fetus atau abortus, kemudian disusul terjadinya piometra. Pada kasus tersebut corpus luteum gravidatum tetap berkembang dan disebut corpus luteum persisten. Plasenta mengalami penebalan dilapisi sejumlah kecil gumpalan eksudat berwarna putih kekuningan. Pada kotiledon sedikit nekrosis (Hardjopranjoto, 1995).

Pengendalian dan Pencegahan
Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan pengobatan antibiotik secara lokal pada betina terinfeksi. Sedangkan pada pejantan terinfeksi dilakukan pembilasan kantong penis dengan antibiotik atau antiseptika ringan cukup membinasakan T. fetus. Disamping itu pengolahan semen yang digunakan untuk IB dengan baik merupakan cara pemberantasan Trichomoniasis (Partodiharjo, 1987). Semen yang beredar secara komersial dapat diberi perlakuan khusus dengan pemberian antibiotik untuk menghindari ancaman infeksi sapi betina yang di IB. pengobatan terhadap Trichomonisis dapat berhasil secara efektif dengan menggunakan antibiotik spektrum luas baik untuk pejantan maupun betina. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah isolasi dan memberikan waktu istirahat untuk kegiatan seksual (Blakely & Bade, 1991).


Abortus karena sebab-sebab non infeksi

Abortus karena faktor genetik
Inbreeding menyebabkan kematian embrio, abortus dan kelahiran anak yang mati karena konsentrasi gen-gen letal perzigot lebih tinggi dibandingkan dengan pada crossbreeding (Toelihere, 1985). Gen lethal yang diperoleh dari induk dan bapaknya, dapat menyebabkan abortus. Kelainan kromosom baik pada autosom maupun kromosom kelamin juga dapat menyebabkan abortus (Hardjopranjoto, 1995).
Sebelum implantasi, embrio lebih mudah terkena pengaruh mutasi genetic dan kelainan kromosom diikuti oleh kematian fetus. Kelainan kromososm dapat dibedakan atas kelainan jumlah kromosm dan struktur kromosom. Kejadian ini dapat berlangsung karena kegagalan penyebaran kromosom atau susunan kromatin dalan sel tubuh penderita, terjadi selama berlangsungnya proses meiosis dan mitosis dari sel ovum atau sel sperma yang dapat menghasilkan dua bentuk sel yang poliploid. Yang dimaksud dengan poliploid adalah penambahan jumlah kromosom yang normal (2n+1) (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena sebab-sebab hormonal
Senyawa estrogenik bila diberikan dalam dosis tinggi untuk periode yang lama dapat menyebabkan abortus pada sapi (Toelihere, 1985). Hormon estrogen dihasilkan oleh folikel ovarium dan mempunyai fungsi stimulasi kontraksi uterus, juga menyebabkan uterus lebih peka terhadap pengaruh oksitosin pada saat menjelang partus. Estrogen bekerjasama dengan relaksin dapat merelaksasi servik dan ligamentum pelvis. Pada periode kebuntingan gangguan ketidakseimbangan hormone dapat menyebabkan terjadinya abortus (Hardjopranjoto, 1995).
Defisiensi progesteron merupakan penyebab abortus muda pada sapi. Abortus karena defisiensi progesteron dapat terjadi pada 45 sampai 180 hari masa kebuntingan, tetapi lebih sering pada 100 hari masa kebuntingan(Toelihere, 1985). Progesterone dihasilkan oleh korpus luteum dan mempunyai fungsi berhubungan dengan pertumbuhan sel-sel endometrium sebelum dan selama hewan bunting. Kemampuan korpus luteum gravidatum untuk menghasilkan hormone progesterone dapat mempertahankan kebuntingan (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena defisiensi makanan
Malnutrisi untuk waktu yang lama menyebabkan penghentian siklus birahi dan kegagalan konsepsi. Defisiensi makanan dan kelaparan yang parah dapat menyebabkan abortus (Toelihere, 1985).
Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan abortus pada sapi umur kebuntingan tua atau terjadi kelahiran anak lemah atau mati. Provitamin A dapat dipecah menjadi vitamin A oleh dinding usus. Kekurangan vitamin A dalam ransom dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesuburan sampai pada tingkat kemajiran.pada induk yang sedang bunting, kekurangan vitamin A dapat diikuti oleh abortus. Ini disebabkan kekurangan vitamin A meyebabkan terjadinya keratinisasidari epitel uterus, sehingga proses implantasi menjadi terganggu dan meyebabkan degenerasi plasenta (Hardjopranjoto, 1995). Apabila kebuntingan berlangsung sampai akhir waktunya, kelahiran mungkin sulit terjadi dan disusul olen infeksi dan retensio secundinae (Toelihere, 1985). Hal yang sama juga pernah dilaporkan tentang defisisensi selenium (Toelihere, 1985). Kekurangan selenium dapat menyebabkan terjadinya degenerasi urat daging jantung dan rangka dari fetus, sehingga menyebabkan kematian fetus tersebut (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena keracunan (bahan toksik)
Keracunan nitrat yang banyak dikandung oleh rumput liar dirawa-rawa atau daun cemara (pinus ponderosa) bila termakan dalam jumlah besar pada induk yang sedang bunting, dapat menyebabkan abortus pada 21-142 hari kemudiansesudah ingesti. Abortus dapat terjadi pada umur kebuntingan 6-9 bulan. Anak sapi dapat lahir premature, lemah dan mati sesudah beberapa waktu, sering juga terjadi retensi secundae. Bahan toksik yang terkandung di dalam daun pinus mungkin adalah suatu zat anti estrogenic yang akan mempengaruhi metabolisme tubuh terutama menekan sekresi kelenjar kelamin. Daun lamtoro yang diberikan dalam jumlah besar dapat menyebabkan abortus karena racun mimosin yang dikandung. Racun mimosin bila termakan induk hewan yang bunting secara berlebihan dapat mempengaruhi metablisme hormonal, sehingga menyebabkan penurunan respon ovarium terhadap sekresi hormone gonadotropin (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena gangguan dari luar tubuh induk
Stress karena panas dapat menyebabkan hipotensi fetus, hypoxia, dan asidosis (Prihatno, 2006). Suhu yang panas dapat menyebabkan penurunan kadar hormone reproduksi seperti FSH dan LH, selain itu juga dapat menyebabkan penurunan volume darah yang mengalir ke alat reproduksi, sehingga menyebabkan perubahan lingkungan uterus yang lebih panas dan menambah kemungkinan kematian fetus (Hardjopranjoto, 1995).

Abortus karena sebab-sebab fisik
Pemecahan kantong amnion dengan penekanan manual pada kantung amnion selama kebuntingan muda, 30-60 hari umur kebuntingan dapat menyebabkan abortus. Sebab utama kematian fetus adalah rupture jantung atau pecahnya pembuluh darah pada dasar jantung fetus yang menyebabkan perdarahan ke dalam kantung amnion. Pemecahan corpus luteum gravidatum/verum pada ovarium akan disusul abortus beberapa hari kemudian. Pada sapi corpus luteum diperlukan selama periode kebuntingan dan kelahiran normal. Corpus luteum menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi untuk pertumbuhan kelenjar endometrium, sekresi susu uterus, pertumbuhan endometrium dan pertautan placenta untuk memberi makan kepada fetus yang berkembang, dan menghambat pergerakan uterus untuk membantu pertautan placenta. Sehingga penyingkiran corpus luteum kebuntingan pada sapi pasti menyebabkan abortus (Toelihere, 1985).

Abortus karena sebab-sebab lain
Kembar pada sapi menyebabkan lebih banyak kelahiran prematur, abortus, distokia, dan kelahiran anak yang lemah atau mati dibandingkan fetus tunggal (Toelihere, 1985). Banyaknya fetus yang ditampung oleh kedua cornua uteri dari seekor induk sangat tergantung kepada sifat genetisnya. Makin bertambahnya jumlah fetus, makin bertambah pula jumlah plasentanya dan makin bertambah ruangan didalam uterus yang dibutuhkan, serta makin bertambah kebutuhan darah untuk fetusnya. Namun demikian, kemapuan rongga uterus untuk menampung fetus secara alamiah adalah terbatas. Dengan bertambahnya fetus di dalam uterus di luar kemampuannya, dapat mengurangi penyediaan darah pada tiap fetus. Kondisi sepetri ini cenderung menyebabkan kematian fetus, khususnya bila fetus berada dalam satu cornua (Hardjopranjoto, 1995).

Penyebab Kematian Embrio Dini Pada Sapi

Kematian embrio diartikan sebagai kematian fertilitas ovum dan embrio sampai dengan akhir implantasi. Kurang lebih 25-40% kasus kematian embrio dini terjadi dalam suatu peternakan. Kematian ini lebih sering terjadi pada periode awal embrio daripada periode akhir. Kematian embrio dini dianggap sebagai proses eliminasi genotip yang tidak sehat/baik pada setiap generasi atau adanya kebuntingan ganda pada sapi dan domba.
Setelah terjadi proses pembuahan yang terjadi pada bagian ampula dari tuba falopii, individu baru yang terbantuk disebut zigot. Zigot setelah membelah (cleavage) disebut embrio. Embrio dalam perkembangannya akan berpindah menuju rongga uterus disusul dengan proses implantasi, yaitu upaya embrio untuk mengadakan hubungan langsung dengan dinding uterus sehingga terjadi hubungan yang erat antara embrio dengan dinding uterus induknya.

PENYEBAB KEMATIAN EMBRIO DINI
Berbagai faktor yang memegang peranan penting dalam mempengaruhi perkembangan embrio atau fetus didalam uterus induknya. Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kematian embrio dini adalah :
1. Genetik
Kematian embrio karena faktor genetik diturunkan melalui gen letal atau terjadi mutasi selama gametogenesis yang menyebabkan gangguan fertilitas. Kematian embrio dini pada sapi sering terjadi karena perkawinan inbreeding atau perkawinan sebapak atau seibu, sehingga sifat jelek yang dimiliki induk akan lebih sering muncul pada turunannya. Kematian embrio dini karena faktor genetik memegang peranan cukup besar, yaitu sekitar 33 % dari seluruh kasus kematian embrio dini. Sebelum implantasi, embrio lebih mudah terkena pengaruh mutasi genetik dan kelainan kromosom (chromosomal aberration) diikuti oleh kematian embrio dini. Kelainan kromosom dapat dibedakan atas kelainan jumlah kromosom dan struktur kromosom. Kejadian ini tetap berlangsung karena kegagalan penyebaran kromosom atau susunan kromatin dalam sel tubuh penderita yang terjadi selama berlangsungnya proses meiosis dan mitosis dari sel telur atau sel mani yang dapat menghasilkan 2 bentuk sel yang poliploid. Aneuploid adalah kelainan kromosom hewan yang dapat terjadi karena pengurangan jumlah kromosom yang normal (2n-1), sedang poliploid adalah penambahan jumlah kromosom yang normal (2n+1). Kelainan tersebut di atas dapat menyebabkan kematian embrio dini pada sapi. Bentuk kelainan kromosom yang menyebabkan kematian embrio dini ini dapat terjadi pada sapi usia kebuntingan 8-16 hari.

2. Hormonal
Cepat dan lambatnya transport dari ovum dipengaruhi oleh keseimbangan estrogen-progesteron, yang juga akan mempengaruhi kematian embrio preimplantasi. Ketidakseimbangan kedua hormon tersebut akan menyebabkan regresi korpus luteum dan berakhirnya kebuntingan.
Periode kritis dari kehidupan embrio adalah pada periode akhir blastosis. Normalnya korpus luteum akan menghasilkan progesteron yang beraksi menutup saluran reproduksi betina sesuai dengan perkembangan embrio.
Kematian embrio pada sapi sebenarnya tidak disebabkan oleh kurangnya progesteron selama fase luteal, tetapi karena regresi dari luteal sebelum kematian embrio. Kurangnya respon terhadap hormon luteotropik juga berpengaruh pada kematian embrio pada sapi-sapi subfertil.

3. Nutrisi
Pemenuhan kebutuhan kalori dan kurangnya nutrisi spesifik (lemak, vitamin E, selenium, zing, tembaga, mangaan) akan mempengaruhi rata-rata ovulasi , fertililisasi dan juga kematian embrio dini. Sapi dengan konsumsi “rumen degradable protein” yang tinggi akan menyebabkan kematian embrio karena akan menurunkan pH lingkungan uterus selama fase luteal dimana embrio harus tumbuh. Konsumsi lemak pada sapi akan mempengaruhi produksi progesteron yang sangat penting untuk implantasi dan sebagai nutrisi yang penting untuk pembentukan awal embrio. Salah satu efek dari peningkatan konsumsi lemak akan meningkatkan ukuran folikel ovarium yang akan meningkatkan ukuran korpus luteum sehingga produksi progesteron juga tinggi.

4. Umur
Kematian embrio tinggi pada hewan yang telah bunting 5 kali dibandingkan dengan hewan muda.

5. Jumlah embrio pada uterus
Banyaknya embrio pada uterus akan berpengaruh pada tersedianya ruang untuk perkembangan embrio, suplai darah. Pada sapi dengan kebuntingan kembar lebih besar kemungkinan terjadi kematian embrio daripada bunting tunggal karena berkurangnya ruang untuk perkembangan embrio dan perebutan nutrisi intrauterin. Kematian embrio terjadi pada 3 atau 4 minggu pertama kebuntingan.

6. Suhu
Kematian embrio terjadi pada induk yang terekspos suhu tinggi seperti pada daerah tropis. Fertilisasi pada domba dan sapi pada suhu tinggi akan terganggu walaupun tetap berkembang dan akan mati pada periode kritis saat implantasi. Berkurangnya fertilisasi mungkin karena penurunan daya hidup dan perkembangan embrio pada umur 6-8 hari dan kematian embrio juga dilaporkan pada sapi-sapi yang di Inseminasi Buatan pada saat musim panas.
Stress karena panas pada usia kebuntingan 8-17 hari akan mengubah lingkungan uterus yang tidak sesuai untuk pertumbuhan embrio dan aktivitas sekretori saat bunting.
Panas akan mengantagonis efek penghambatan sekresi PGF2 dari uterus, sehingga korpus luteum akan mengalami regresi dan kebuntingan tidak dapat dipertahankan.

7. Lingkungan kandang
Sapi yang diternakkan dalam jumlah banyak dengan sedikit pengawasan akan menyebabkan sapi tidak diperhatikan dan juga mungkin program recordingnya tidak bagus sehingga terjadi kesalahan pada saat dikawinkan misalnya terlalu cepat atau terlalu lama dikawinkan.

8. Infeksi
Beberapa infeksi yang dapat menyebabkan kematian embrio dini adalah :
a. Brucellosis
Pada sapi brucellosis umumnya disebabkan oleh Brucella abortus , sedangkan pada kambing dan domba disebabkaan oleh Brucella melitensis. Brucellosis akan menimbulkan gejala retensi plasenta dan metritis.
b. Vibriosis
Vibriosis disebabkan oleh Vibrio fetus venerealis atau Campylobacter foetus venerealis. Gejala khas dari vibriosis adalah endometritis dan salphingiitis. Jika terjadi fertilisasi maka akan tejadi kematian embrio dini.Siklus estrus juga akan diperpanjang 27-57 hari.
c.Trikomoniasis
Trikomoniasis disebabkan oleh Tritrichomonas fetus yang juga akan menyebabkan kematian embrio dini. Infeksi ini akan menyebabkan kemajiran, S/C yang tinggi (5x lebih), angka kebuntingan yang rendah, abortus dini dan pyometra.

9.Lingkungan uterus
Adanya endometritis parturient dan tidak kondusif untuk kebuntingan mungkin juga disebabkan ingesti substansi steroid eksogenik atau ketidakcukupan sekresi endogen progesteron.

10. Laktasi
Selama periode laktasi, kematian embrio dini dapat terjadi ternak sapi. Terjadinya kematian embrio dini ditandai dengan perpanjangan waktu siklus birahi setelah IB yang terakhir. Pengaruh buruk dari laktasi terhadap perkembangan embrio sampai saat ini belum jelas benar. Diduga ada hubungan dengan ketidakseimbangan hormonal selama laktasi, khususnya hormon progesteron terhadap kehidupan embrio dalam uterus. Tetapi, mungkin juga karena stress menyusui atau produksi susu yang tinggi menyebabkan embrio dalam uterus tidak cukup pakan untuk perkembangannya. Disamping itu ada kemungkinan bahwa proses involusi uteri yang belum sempurna setelah melahirkan, bila terjadi pembuahan dapat menurunkan kemampuan embrio yang terbentuk dalam mengadakan perlekatan pada dinding uterus pada proses implantasi, sehingga mudah terjadi kematian embrio dini.

11. Faktor kekebalan
Setelah proses pembuahan, pada tubuh induk terjadi persentuhan dengan antigen berasal dari sperma dan embrio. Jika mekanisme immunosupresi tidak berjalan dengan baik, maka antibodi yang terbentuk akan mengganggu kehidupan embrio di dalam uterus. Ketidakcocokan antara unsur kekebalan yang berasal dari induk dengan embrio dapat menyebabkan kematian embrio, kematian fetus atau pedet yang baru dilahirkan. Pada sapi penderita dengan golongan darah yang mengandung zat transferin (beta globulin) dan antigen “J” di dalam serum darah, dapat bertindak sebagai penyebab kematian embrio sehingga menimbulkan angka kebuntingan.

12. Kesuburan sperma
Waktu subur (fertile life) dari sperma berkisar antara 18-24 jam. Penyimpanan sperma (baik penyimpanan dingin maupun beku) dapat menurunkan kesuburan sperma. Kesuburan sperma yang menurun karena disimpan, mempunyai peranan dalam mendorong terjadinya kematian embrio dini. Dari pengalaman di lapangan tentang pengenceran dan penyimpanan sperma sapi pada suhu rendah menyimpulkan bahwa tidak ada akibat kematian embrio bila diinseminasikan pada sapi aseptor IB. Inseminasi buatan yang dilakukan pada induk sapi yang terlalu awal dari masa birahi, dapat menyebabkan sperma menjadi terlalu tua pada saat proses pembuahan. Akibatnya zigot yang terbentuk dalam keadaan lemah, yang dalam perkembangannya akan diikuti oleh kematian embrio dini.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Obat Generik Untuk Hewan, Kenapa Tidak?

Obat merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan hewan, selain dapat menghilangkan gejala dari suatu penyakit, obat juga mencegah timbulnya penyakit dan bahkan obat digunakan untuk penyembuhan. Alasan klasik atau klise selama ini adalah harga obat mahal, terutama dalam manajemen kesehatan hewan ternak yang memang berdasarkan azas untung dan rugi. Beda dengan kesehatan manusia yang berapapun harga obat tetap harus dibeli untuk demi nyawa yang tidak bisa dihargai dengan uang. Karena itu pada pengobatan manusia dikenal obat generik yang harganya lebih murah dibanding dengan obat paten, tanpa mengurangi khasiat dan keamanan obat itu. Bagaimana dengan obat generik untuk hewan ternak....?

Di kalangan ilmu pengobatan untuk manusia sudah lama pemerintah menganjurkan penggunaan obat generic yang dikatakan sebagai obat murah tetapi tidak murahan. Pembuatan obat generic juga harus mematuhi standar prosedur operasional tertentu, yaitu cara pembuatan obat yang baik (cpob). Sehingga kwalitas obat generic sama dengan obat patent atau obat bermerek.

Yang menjadikan harga obat generic lebih murah antara lain adalah bentuk kemasan biasanya multiple dose dalam dus atau kaleng yang jumlahnya banyak, tidak dipromosikan dengan merek dagang dan mungkin tidak perlu membayar hak paten. Promosi di media massa umumnya juga tidak menyolok yang biasanya hanya menunjukkan nama generic dan logo identitas produsennya (obat generic berlogo, OGB). Dengan perkataan lain, OGB memiliki mutu atau tidak ada alasan menilai OGB tidak sekhasiat obat paten, begitu pula keamanannya.

Mutu merupakan karakter produk yang paling menentukan dalam penggunanannya. Karena itu mutu dijadikan acuan untuk menetapkan kebenaran khasiat (efficacy) dan keamanan (safety) . Sehingga untuk mendapatkan kebenaran khasiat dan keamanan, mutu harus selalu diawasi dengan ketat pada pembuatan obat generic. Dengan pengawasan mutu yang sama ketatnya, harus dapat diyakini bahwa khasiat dan keamanan obat generic dan obat paten dapat sama satu terhadap yang lainnya. Prinsipnya bahwa obat generic sama khasiat dan keamananannya dengan obat paten atau mutu obat generic sama dengan mutu obat paten yang dikenal selama ini. Dalam pengertian kebijaksanaan obat nasional (KONAS) bahwa yang dimaksud obat meliputi obat untuk manusia dan obat untuk hewan. Sehingga kedua jenis obat itu harus diatur dan diawasi dengan seksama, antara lain mengantisipasi peredaran obat terhadap kemungkinan dapat merusak kesehatan masyarakat melalui kesehatan masyarakat veteriner, berkaitan dengan konsumsi bahan pangan asal hewan ternak yaitu susu, daging dan telur. Tidak menutup kemungkinan juga bahan pangan asal ikan

Obat generic umumnya mungkin juga hanya banyak digunakan pada unit pelayanan kesehatan milik pemerintah, sedangkan pelayanan kesehatan swasta mungkin juga orang cenderung memilih obat paten. Adanya suatu anggapan yang tentunya tidak benar bahwa obat patent lebih mahal tetapi lebih manjur daripada obat generic. Di lain fihak ada anggapan lain bahwa kesehatan manusia apalagi nyawa sangat mahal yang tidak dapat dihargai dengan sejumlah uang seberapapun. Artinya semahal-mahalnya obat orang akan berusaha membeli meskipun obat patent memang lebih mahal.

Sebaliknya pada pemeliharaan kesehatan hewan atau terutama hewan ternak dan lebih terutama lagi di tingkat petani ternak sangat memperhitungkan azas benefit-cost ratio dalam pembelian obat. Banyak pertimbangan nilai ekonomis yang perlu diperhitungkan. Misalnya tidak ada artinya menganggarkan obat pada hewan ternak yang prognosanya infausta. Atau lebih baik beberapa ekor yang sudah tertular dilakukan stamping out (test and slaughter) untuk mencegah penularan pada kelompok masih sehat yang lebih banyak. Atau pertimbangan tidak ada artinya hewan ternak sakit diobati sampai sembuh tetapi setelah sembuh tidak produktif. Oleh karena itu dalam penata laksanaan manajemen kesehatan hewan ternak perlu kiranya dipertimbangkan penggunaan obat generic, terutama obat-obat esensial yang selama ini nampaknya belum ada.

Selain itu bagi dokter hewan praktisi tentu lebih praktis karena dapat digunakan untuk semua spesies hewan dengan memperhatikan dosis berdasarkan berat badan dan mengetahui konsentrasi obat tersebut. Pengertian obat esensial adalah obat pilihan yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, preventif profilaktif, kuratif atau terapi dan rehabilitasi. Diharapkan dengan aneka ragam dan jenis obat generic dalam daftar obat esensial, dijamin sudah dapat dijadikan dasar upaya medis veteriner untuk mengatasi semua masalah patologis berdasarkan atas pola penyakit yang memerlukan invasi dan intervensi obat-obatan.

Dalam penerapan pengobatan terhadap hewan terdapat beberapa variabelitas, antara lain spesies, berat badan, umur dan karakteristik pola pencernaan (herbivore, carnivore, omnivore) yang membutuhkan pertimbangan secara khusus terutama dalam penentuan dosis dan aplikasi obatnya. Di lain fihak setiap obat juga mempunyai karakteristik aplikasi berdasarkan sifat bahan sediaan suatu obat itu. Penentuan dosis pada hewan secara generic umumnya berdasarkan berat badan dan atau umur yang kedua-duanya dapat diasumsikan saling mempunyai korelasi. Artinya hewan pada umur tetentu secara normal seharusnya mempunyai berat badan tertentu dan atau sebaliknya pada berat badan tertentu seharusnya dicapai dalam umur yang tertentu pula. Tetapi dalam pelaksanaannya umumnya berat badan lebih sering dipakai sebagai acuan daripada umur. Karena lebih praktis menentukan berat badan sewaktu-waktu dengan melihat posturnya dibanding mengingat umur hewan. Lebih akurat lagi pada hewan ternak sapi terdapat rumus perhitungan untuk menentukan berat badan (BB), berdasarkan ukuran panjang lingkar dada (LD) melalui rumus Schoorl.

Sedang untuk mementukan dosis obat generic, diperhitungkan melalui mengalikan BB dengan dosis generic per kg BB (table referensi) dan dibagi dengan konsentrasi kemasan obat generiknya : Masih banyak perihal obat generic yang perlu dibicarakan, antara lain tabulasi dosis generic per kg BB dari berbagai referensi. Mudah-mudahan dengan terbentuknya Ikatan Farmasi Veteriner Indonesia (IKAFARVETI), menjadi salah satu program kerja, minimal dipertimbangkan. Selamat Bekerja

Rumus Schoorl BBkg = (LDcm + 22)² 100

MENGHITUNG DOSIS PENGOBATAN OBAT GENERIK

1. Obat cair = dosis generic mg/kg.BB X BBkg (injeksi, sirup) konsentrasi obat, mg/ml, IU/ml

2. Obat padat = dosis generic mg/kg BB X BBkg (powder, konsentrasi obat, mg/g, IU/mg tablet, kapsul, kaplet, sachet, bolus)

Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir 

Kamis, 15 Oktober 2009

Strategi Menghadapi Abad Zoonosis

Zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya) merupakan ancaman baru bagi kehidupan manusia di dunia. Berbagai fakta telah menunjukkan bahwa zoonosis berpotensi merugikan jauh lebih besar jika dibandingkan kerugian akibat perang. Perkembangan zoonosis dalam beberapa tahun terakhir menjadi tanda akan hadirnya ancaman yang mematikan bagi umat manusia. Jika tidak dikendalikan secara komprehensif maka perubahan pola zoonosis dapat terus muncul dan menyebar melintasi batas wilayah. Kondisi ini kian membuat dunia menjadi khawatir.

Sampai saat ini setidaknya tidak kurang dari 300 penyakit yang berasal dari hewan yang dapat menular ke manusia. Sebagian berpeluang menjadi wabah di suatu negara jika tidak ditangani dengan baik. Sebut saja rabies, antraks, BSE, SARS, flu burung, serta penyakit mulut dan kuku (PMK) yang membuat kita harus berpikir ulang untuk mengabaikan permasalahan ini. Dalam dua puluh tahun terakhir, 75% dari penyakit-penyakit baru (emerging diseases) pada manusia terjadi akibat perpindahan patogen hewan ke manusia atau bersifat zoonotik dan 1415 mikroorganisme patogen pada manusia yang telah diketahui sebesar 61,6% bersumber dari hewan (Brown 2004).

Simak saja kasus terakhir zoonosis bulan November 2008 kemarin dilaporkan 4 orang meninggal akibat rabies di Bali. Belum lagi jika kita melihat laporan dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang menyatakan bahwa lebih dari 250 foodborne disease (penyakit yang ditularkan melalui makanan). Sebagian besar penyakit tersebut bersifat infeksius yang disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, dan prion yang dapat dipindahkan melalui makanan serta tidak sedikit diantaranya adalah foodborne zoonosis (penyakit hewan yang ditularkan ke manusia melalui makanan).

Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan zoonosis meningkat dari waktu ke waktu dan seiring waktu semakin banyak korban yang diakibatkannya, sehingga kita memerlukan strategi dalam menghadapi zoonosis serta foodborne disease tersebut. Strategi tersebut tentu tidak bisa dilakukan oleh salah satu profesi saja mengingat ancaman zoonosis tidak hanya melibatkan manusia tetapi hewan sebagai sumbernya. Artinya kita memerlukan kerja sama yang baik antara profesi dokter dan profesi dokter hewan.

Jika kita berharap adanya kerjasama tersebut maka kita perlu melihat garis pembatas antara kedokteran dan kedokteran hewan sekarang ini lebih nyata dibandingkan abad-abad yang lampau, sesungguhnya pemisahan antara kedua disiplin ini mulai terbentuk di abad ke-20. Sejumlah alasan penyebab adalah secara geografis beberapa perguruan tinggi kedokteran dan kedokteran hewan tidak ditempatkan pada satu lingkup dan pengaturan akademik yang sama.

Faktor lain adalah pengaruh sosial. Namun ekologi dan mikrobiologi tidak diajarkan di kedokteran seperti halnya di kedokteran hewan, sehingga mahasiswa kedokteran tidak begitu menyadari pentingnya penyakit zoonotik bagi kedokteran. Tambahan pula, fokus perguruan tinggi kedokteran hewan juga bergeser lebih ke hewan ternak dan hewan kesayangan untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Lebih lanjut kita juga perlu mengintegrasikan sistem pendidikan di lingkup dan antara perguruan tinggi kedokteran, kedokteran hewan dan kesehatan masyarakat. Upaya ini juga dimaksudkan untuk menghimbau peningkatan komunikasi lintas disiplin dalam berbagai kesempatan, baik itu seminar, konferensi, jurnal, kuliah, maupun pengembangan jaringan (networking) di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu kunci keberhasilan dalam menghadapai zoonosis dan foodborne disease adalah terjalinnya kemitraan yang sinergis antara Kedokteran, Kedokteran Hewan dan Kesehatan Masyarakat tidak hanya dalam tingkat profesi tetapi juga tingkat mahasiswa. Strategi ini tentu tidak bisa berjalan jika hanya sebatas wacana atau opini saja tetapi harus dilaksanakan atau jika memungkinkan adalah diformalkan. Semoga...

Rabu, 14 Oktober 2009

Kastrasi Kucing

Sebenarnya istilah neuter berarti umum, dapat digunakan pada hewan jantan dan betina. Namun dalam penggunaannya, neuter lebih sering merujuk pada hewan jantan. Neuter, pada hewan jantan, lebih dikenal dengan istilah kebiri/kastrasi, dalam bahasa kedokteran sering disebut orchidektomi. Orchidektomi merupakan sebuah prosedur operasi/bedah dengan tujuan membuang testis hewan. Kastrasi ini dilakukan pada hewan jantan dalam keadaan tidak sadar (terbius umum).

Kapan Waktunya Kebiri ?
Kucing yang akan dikebiri harus dalam keadaan sehat. Sebagian besar kucing dikebiri ketika berumur sekitar 5-8 bulan. Para ahli perilaku hewan menyarankan mengkebiri kucing sebelum memasuki masa puber, karena dapat mencegah munculnya sifat/perilaku kucing yang tidak dinginkan.
Beberapa organisasi yang peduli dengan overpopulasi kucing di Amerika bahkan melakukan kebiri lebih awal pada kucing. Kucing-kucing tersebut telah dikebiri pada umur 6 - 14 minggu. Kebiri tidak mempengaruhi pertumbuhan badan kucing-kucing tersebut.
Kebiri juga bisa dilakukan pada kucing-kucing yang lebih tua. Tergantung umur kucing, beberapa tes seperti X-ray, tes darah & urin bisa dilakukan untuk memastikan seekor kucing layak dioperasi atau tidak.

Keuntungan Kebiri
Banyak keuntungan dari tindakan mengkebiri kucing jantan lebih awal (sebelum masa puber). Resikonya timbulnya berbagai penyakit yang berhubungan dengan hormon testosteron yang dihasilkan testis dapat diperkecil dengan tindakan kebiri.

Mencegah Kelahiran Anak Kucing Yang Tidak Diinginkan
Salah satu keuntungan mengkebiri kucing adalah mencegah kelahiran anak kucing yang tidak diinginkan. Selain menjaga populasi kucing tetap terkendalikan, tindakan ini juga memungkinkan pemilik kucing bisa merawat kucing-kucingnya dengan maksimal.

Kurang Agresif Terhadap Kucing Lain.
Testosteron adalah hormon kelamin jantan. Hormon ini mempengaruhi banyak pola-pola perilaku pada kucing jantan. Salah satu perilaku yang banyak dipengaruhi hormon testosteron adalah perilaku agresi. Setelah kebiri, perilaku ini cenderung berkurang banyak. Spraying/Urine marking
Spraying/urine marking adalah salah satu perilaku alami kucing jantan yang tidak di kebiri. Sebagian besar perilaku ini hilang setelah kucing di kebiri.

Tidak Suka Berkeliaran
Kucing betina yang sedang birahi mengeluarkan feromon yang dapat menyebar melalui udara. Feromon ini dapat mencapai daerah yang cukup jauh. Kucing jantan dapat mengetahui dimana letak kucing betina yang sedang birahi melalui feromon ini, lalu kemudian mencari dan mendatangi sang betina meskipun jaraknya cukup jauh. Kucing jantan yang telah dikebiri cenderung tidak bereaksi terhadap feromon ini dan lebih suka diam di dalam rumah.

Lebih Jarang Terluka
Keuntungan medis lain dari kebiri adalah jarangnya kucing terluka akibat berkelahi dengan kucing lain. Semakin jarang terluka semakin kecil juga kemungkinan terkena penyakit yang dapat menular melalui luka/kontak.

Peningkatan Genetik
Beberapa kucing dikebiri karena mempunyai/membawa cacat genetik. Diharapkan kucing-kucing cacat tersebut tidak dapat lagi berkembang biak, sehingga jumlah kucing-kucing cacat dapat dikurangi.

Mengurangi Resiko Tumor & Gangguan Prostat
Tumor dan gangguan prostat lebih sering terjadi pada anjing, pada kucing jarang sekali terjadi. Sebagian besar gangguan pada prostat berhubungan dengan hormon testosteron yang dihasilkan oleh testis. Tindakan kebiri menyebabkan hewan tidak lagi menghasilkan hormon tersebut, sehingga resiko tumor dan gangguan pada prostat dapat dikurangi.

Cenderung Lebih Manja
Sebagian besar perilaku agresif pada kucing jantan dipengaruhi hormon testosteron. Kucing yang dikebiri cenderung tidak agresif dan lebih manja.

Gangguan Yang Mungkin Muncul Setelah Kebiri/Kastrasi

Obesitas/kegemukan
Perubahan metabolisme hormon setelah kastrasi menyebabkan kucing tidak lagi agresif dan lebih suka diam/tidur. Akibat yang sering terjadi setelah kastrasi adalah kegendutan/obesitas. Masalah ini bisa dicegah dengan mengontrol diet dan sering mengajak kucing bermain.
Bermain dengan kucing menyebabkan kucing bergerak lebih banyak dan membakar cadangan lemak yang berlebih.

Feline Urinary Syndrome (FUS)
FUS adalah kumpulan berbagai gejala penyakit pada kucing berupa gangguan proses kencing/urinasi pada kucing. Beberapa penelitian di AS menyatakan Kastrasi tidak menyebabkan/mempertinggi resiko FUS pada kucing jantan.
FUS sering terjadi pada kucing jantan yang diberi makanan yang banyak mengandung garam mineral terutama magnesium. FUS dapat dihindari dengan memberikan makanan yang mempunyai kadar Magnesium rendah.

Oleh : Drh. Neno Waluyo S .